Thursday, February 22, 2018

JANGAN MALU MENAGIH HUTANGMU



INFO MEKKAH ~ Dari Abu Qotaadah radhiallahu 'anhu :

...فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ، تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ قُلْتَ؟» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إِلَّا الدَّيْنَ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ لِي ذَلِكَ»

"…Lalu terdapat seorang lelaki berdiri dan menyampaikan, "Wahai Rasulullah, bagaimana apabila saya terbunuh pada jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan tertebuskan?". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengungkapkan, "Iya, bila engkau  tewas berjihad di jalan Allah dan kamu dalam kondisi bersabar & berharap, maju & nir mundur".
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, "Bagaimana yang kau katakan?". Lelaki itu mengatakan, "Bagaimana, bila saya terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosa tertebuskan?". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan, "Iya, & kamu pada syarat bersabar & berharap, maju dan tidak mundur, Kecuali Hutang, sesungguhnya Jibril berkata hal itu kepadaku" (HR Muslim no 1885)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda

الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيْءٍ، إِلَّا الدَّيْنَ

"Terbunuh di jalan Allah menghapuskan seluruhnya kecuali hutang" (HR Muslim no 1886)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

وَأَمَّا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا الدَّيْنَ فَفِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى جَمِيعِ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ وَأَنَّ الْجِهَادَ وَالشَّهَادَةَ وَغَيْرَهُمَا مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ لَا يُكَفِّرُ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ وَإِنَّمَا يُكَفِّرُ حُقُوقَ اللَّهُ تَعَالَى

"Adapun sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (Kecuali Hutang) maka sebagai peringatan atas semua hak-hak orang lain, dan bahwasanya jihad & mangkat  syahid serta amalan kebajikan yg lain tidaklah menebus hak-hak orang lain, hanyalah menebus hak-hak Allah ta'aala" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 13/29)

apabila amalan yang sangat hebat misalnya jihad ternyata tidak sanggup menggugurkan dosa tidak membayar hutang, maka bagaimana lagi dengan amalan-amalan yang rendah dibawah jihad??

Dari Salamah bin al-Akwa' radhiallahu 'anh

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتي بجنازة ليصلي عليها فقال هل عليه من دين قالوا لا فصلى عليه ثم أتي بجنازة أخرى فقال هل عليه من دين قالوا نعم قال صلوا على صاحبكم قال أبو قتادة علي دينه يا رسول الله فصلى عليه

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam didatangkan pada beliau jenazah, maka beliau menyampaikan, "Apakah dia memiliki hutang?". Mereka mengatakan, "Tidak". Maka Nabipun menyolatkannya. Lalu didatangkan janazah yang lain, maka Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berkata, "Apakah ia mempunyai hutang?", mereka mengatakan, "Iya", Nabi mengungkapkan, "Sholatkanlah saudara kalian". Abu Qotadah berkata, "Aku yang menanggung hutangnya wahai Rasulullah". Maka Nabipun menyolatkannya" (HR Al-Bukhari no 2295)

Dalam riwayat yg lain :

فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا لَقِيَ أَبَا قَتَادَةَ يَقُولُ مَا صَنَعَتِ الدِّينَارَانِ حَتَّى كَانَ آخِرَ ذَلِكَ أَنْ قَالَ قَدْ قَضَيْتُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْآنَ حِينَ بَرَّدْتَ عَلَيْهِ جِلْدَهُ

"Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setiap bertemu menggunakan Abu Qitaadah Nabi mengatakan kepadanya, "Bagaimana dengan 2 dinar (yaitu yg menjadi tanggungan Abu Qotadah atas mayat)?". Hingga akhirnya Abu Qotaadah menyampaikan, "Aku sudah membayarnya wahai Rasulullah!". Nabi mengungkapkan, "Sekarang kamu telah mendinginkan kulitnya" (HR Al-Hakim, & dishahihkan sang dia dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan sang Syaikh Al-Albani)

Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan :

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ إِشْعَارٌ بِصُعُوبَةِ أَمْرِ الدَّيْنِ وَأَنَّهُ لَا يَنْبَغِي تَحَمُّلُهُ إِلَّا مِنْ ضَرُورَةٍ

"Dan dalam hadits peringatan akan beratnya permasalan hutang, dan bahwasanya tidak sepantasnya seorang berhutang kecuali dalam syarat darurat" (Fathul Baari 4/468)


Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa jangan pernah meremehkan amanah & hutang. Berikut beberapa kasus yang mungkin perlu diperhatikan :


Pertama : Jangan pernah "pekewuh" (merasa nir lezat  ) kepada orang yg hendak meminjam uang dari kita, buat mencatat hutang tersebut. Lantaran mencatat hutang merupakan sunnah yang ditinggalkan. Padahal ayat yg terpanjang pada al-Qur'an merupakan tentang pencatatan hutang, Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, bila engkau  bermu'amalah nir secara tunai buat ketika yang dipengaruhi, hendaklah engkau  menuliskannya. & hendaklah seseorang penulis pada antara engkau  menuliskannya menggunakan sahih. & janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, & hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), & hendaklah beliau bertakwa kepada Allah Tuhannya, & janganlah dia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yg lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak sanggup mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. & persaksikanlah menggunakan dua orang saksi menurut orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada 2 oang lelaki, Maka (boleh) seseorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya bila seseorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah engkau  jemu menulis hutang itu, baik kecil juga akbar sampai batas waktu membayarnya. Yg demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian & lebih dekat pada tidak (mengakibatkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali apabila mu'amalah itu perdagangan tunai yg engkau  jalankan pada antara kamu, Maka nir ada dosa bagi kamu, (jika) kamu nir menulisnya. Dan persaksikanlah jika engkau  berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Apabila kamu lakukan (yg demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah pada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu" (QS Al-Baqoroh : 282)


Kedua : Dengan mencatat hutang piutang maka akan mendatangkan kemaslahatan.

- Dengan mencatat piutang, apabila kita meninggal, piutang tersebut akan dimanfaatkan oleh ahli waris kita, sebagai akibatnya dimasukkan pada harta warisan

- Dengan mencatat hutang, bila kita tewas maka ahli waris kita akan melunasi hutang kita menurut harta peninggalan kita, atau ada kerabat, atau sahabat, atau orang lain yang mau berkorban melunasi hutang kita. Tentunya hal ini akan sangat mengurangi beban kita pada akhirat


Ketiga : Jangan pernah malu buat menagih hutang. Justru kalau kita sayang pada orang yg berhutang maka hendaknya kita menagih hutang tadi darinya. Karena jikalau kita malu menagih hutang sanggup mengakibatkan kemudorotan bagi kita & juga baginya, antara lain :

- Kita jadi dongkol terus apabila bertemu menggunakan beliau, bahkan mampu jadi kita terus akan menggibahnya lantaran kedongkolan tadi, padahal kita sendiri memalukan buat menagih hutang tadi.

- Jika kita membiarkan beliau berhutang hingga mati global maka ini tentu akan memberi kemudorotan kepadanya pada akhirat kelak


Keempat : Ingatlah…, jika hutang tidak dibayar pada global maka akan dibayar di akhirat menggunakan pahala, padahal dalam hari tadi setiap kita sangat butuh menggunakan pahala buat memperberat timbangan kebaikan kita. Hari akhirat tidak terdapat dinar dan nir ada dirham buat membayar hutang kita !!


Kelima : Jangan pernah meremehkan hutang meskipun sedikit. Bisa jadi pada mata kita hutang 100 ribu rupiah merupakan jumlah yg sedikit, akan tetapi di mata penghutang adalah nominal yang berharga dan dia nir ridho pada kita apabila nir dibayar, lantas dia akan menuntut di hari kiamat.


Keenam : Jangan pernah berhusnudzon kepada penghutang. Jangan pernah mengungkapkan : "Saya nir usah bayar hutang aja, dia nir pernah menagih kok, mungkin dia telah ikhlaskan hutangnya"



Ketujuh : apabila punya kemampuan buat membayar hutang maka jangan pernah menahan-nunda. Sebagian kita terpesona untuk membeli barang-barang yang terkadang kurang dibutuhkan, sehingga akhirnya uang yang seharusnya buat bayar hutang digunakan buat membeli barang-barang tersebut, akhirnya hutang tidak jadi dibayar.


Kedelapan : Jangan menunggu ditagih dulu baru membayar hutang, lantaran mampu jadi pemilik piutang membuat malu buat menagih, atau bisa jadi dia tidak menagih akan tetapi mengeluhkanmu pada Allah.

نَامَتْ عُيُوْنُكَ وَالْمَظْلُوْمُ مُنْتَبِهُ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَم

"Kedua matamu tertidur ad interim orang yang engkau  dzolimi terjaga…
Ia mendoakan kecelakaan untukmu, & mata Allah tidaklah pernah tidur"


Kesembilan : Berhutang kepada orang lain –apabila memang mendesak- bukanlah perkara yg tercela. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mangkat  dalam kondisi mempunyai hutang pada seseorang Yahudi lantaran menggadaikan baju perang beliau??

Dari Aisyah radhiallahu 'anhaa

أن النبي صلى الله عليه وسلم اشترى من يهودي طعاما إلى أجل معلوم وارتهن منه درعا من حديد

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membeli makanan menurut seseorang yahudi dengan berhutang & beliau menggadaikan baju perangnya berdasarkan besi" (HR Al-Bukhari no 2252 dan Muslim no 1603)

Akan namun perhatikanlah…, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah berhutang kecuali pada kondisi terdesak…buat membeli makanan !!!., bukan buat membeli perkara-masalah yg nir mendesak !!.

Lalu lihatlah…Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah berhutang kecuali karena memang beliau sudah nir punya sesuatupun yg mampu dipakai buat membeli makanan, sampai akhirnya yg digadaikan merupakan baju perang beliau??.


Kesepuluh : apabila seorang harus berhutang maka perbaiki niatnya, bahwasanya beliau akan mengmbalikan hutangnya tersebut, agar ia dibantu sang Allah.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan ;

من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله

"Barang siapa yang merogoh harta manusia/orang lain dengan niat buat mengembalikannya maka Allah akan menunaikannya. Akan namun barangsiapa yang mengambil harta orang lain dengan niat buat merusaknya maka semoga Allah merusaknya" (HR Al-Bukhari no 2387)


Kesebelas : apabila merasa tidak sanggup membayar hutang pada ketika dekat maka janganlah hingga dia berjanji dusta  pada penghutang. Sering kali hutang menyeret seorang buat mengucapkan janji-janji bohong, padahal dusta  adalah dosa yg sangat jelek


Kedua belas : Jika seseorang telah berusaha buat membayar hutang namun ia permanen saja tidak bisa, maka semoga beliau diampuni sang Allah.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

لكن هذا كله إذا امتنع من أداء الحقوق مع تمكنه منه، وأما إذا لم يجد للخروج من ذلك سبيلاً فالمرجو من كرم الله تعالى إذا صدق في قصده وصحت توبته أن يرضي عنه خصومه

"Akan tetapi hal ini (nir terdapat ampunan bagi yg berhutang-pen) seluruhnya jika orang yg berhutang nir mau menunaikan hak orang lain padahal dia sanggup. Adapun orang yg tidak memiliki kemampuan buat membayar hutang, maka diperlukan dari karunia & kedermawanan Allah, jika ia jujur dalam tujuannya (untuk membayar hutang-pen) dan taubatnya sudah benar maka Allah akan mengakibatkan musuhnya (yg menaruh piutang) akan ridho kepadanya" (Dalil Al-Faalihin dua/540)

Oleh : Salman Al Bukori MA
Share: