Wednesday, June 15, 2016

Kisah Cobaan dan Ujian Nabi Ayub as

Kisah Cobaan dan Ujian Nabi Ayub as ~ Salah satu orang yang dipercaya membawa syariat Tuhan adalah Nabi Ayub as. Orangnya terkenal sabar dan penyayang. Oleh karena itu, Tuhan membanggakan Nabi Ayub kepada segenap makhluk-Nya mulai dari pepohonan, hewan, malaikat bahkan para setan.

Menanggapi "pembanggaan" Tuhan atas Nabi Ayub, setan yang berjiwa pembangkang tentu membantah, menantang Tuhan dengan mengatakan, "Tuhan, Engkau tak perlu membanggakan Ayub-Mu. Dia sabar hati dan baik budi karena hidup serba kecukupan. Saya sangsi apakah Ayub tetap memperlihatkan sikap terpuji jika Engkau menimpakan ujian kemelaratan dan kenistaan."


Mendapat kesangsian setan, Tuhan lantas membuktikan keutamaan makhluk-Nya yang bernama Ayub ini. Nabi Ayub yang semula kaya raya, akhirnya dibangkrutkan Tuhan. Ayub yang asalnya banyak putra, akhirnya satu persatu dicabut nyawanya hingga tak ada sisa. Nabi Ayub yang tadinya gagah, sehat wal afiat, akhirnya ditimpa penyakit yang tak ada obatnya. Badannya membusuk, bahkan belatung telah menempel masuk. Baunya menjadi sangat busuk.

Istri-istrinya, satu persatu meninggalkannya, kecuali hanya satu yang setia, yang justru paling cantik di antara semua. Lebih menyakitkan lagi, akibat bau busuk yang amat menyengat, Nabi Ayub malah diasingkan masyarakat yang tadinya memuja dan menghormatinya. Ia hidup terpencil dalam sebuah gua.

Ada tiga peristiwa penting terkait dengan musibah Nabi Ayub ini.
  1. Bagi orang kebanyakan, musibah beruntun seperti ini akan sangat mungkin membuatnya gila atau bunuh diri akibat putus asa. Tapi, bagi orang sekualitas Nabi Ayub dalam soal keimanan, dia menerima segala cobaan dengan tawakal dan bijaksana. Tak mungkin bagi dirinya untuk berobat, karena tak satu pun orang yang mau mendekat. Sebab, hanya tinggal satu orang yang mau merawat, yakni satu-satunya istri yang masih setia.
  2. Dalam keterpurukan dan ketersiksaan, Nabi Ayub tetap ingat dan taat kepada Tuhan. Ia selalu rajin bermunajat, bukan berdoa untuk kesembuhan, tapi berdoa agar diberi ketabahan menerima segala ujian.
  3. Setiap kali akan shalat, ia mencabut (memunguti) puluhan belatung yang menempel di lukanya, tapi sama sekali tak mematikannya. Adalah pantangan baginya, membunuh sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan tanpas sesuatu alasan. Bahkan, setelah selsai shalat, belatung dikembalikan pada tempatnya, pada lukanya, agar mereka dapat tetap hidup memperoleh makanan dari tubuhnya. Bagi Nabi Ayub, belatung mempunyai hak hidup sebagaimana dirinya, belatung mempunyai hak mendapatkan pangan (makanan) sebagaimana dirinya pula. Masya Allah.
Suatu hari Nabi Ayub dan istrinya tak memiliki sesuatu apapun untuk mengganjal perutnya. Nabi Ayub kelaparan, istri setianya juga keroncongan. Nabi Ayub tawakal, si istri juga sabar. Namun, lama-lama istri shalehah ini tak tega melihat kondisi suaminya yang kian payah, sudah sakit masih ditambah lapar pula. Sama sekali wanita itu tak memikirkan dirinya, melainkan meresahkan kondisi suaminya. Akhirnya, istri setia itu pergi ke pasar, bukan menjual sesuatu apapun, karena memang tak punya apa-apa yang dapat dijual. Dia hanya menjual rambutnya yang panjang hanya untuk membeli makanan bagi suami tercinta. Kala itu masyarakat memang sudah terbiasa memakai rambut palsu, rambut penyambung untuk gelungan alias kondean, yang dalam terminologi Jawa disebut cemoro, dan dalam bahasa Indonesia dinamakan wig. Ketika si istri pulang dengan membawa makanan, Nabi Ayub bukannya gembira tentang apa yang dilakukan istrinya. Ia marah karena telah menyalahi hukum Tuhan, menjual rambutnya hanya demi makanan. Atas peristiwa ini Nabi Ayub bersumpah, bila Tuhan memberi kesembuhan dia akan menghukum istrinya, mencambuk seratus kali.

Akhirnya Ayub memanjatkan doa agar diberi kesembuhan. Dia berdoa bukan karena tak tahan pada cobaan, melainkan ingin melaksanakan sumpahnya menghukum istri yang melanggar aturan Tuhan.

Singkat kata, Tuhan pun akhirnya memberi kesembuhan, dan nabi Ayub telah lulus ujian. Alhasil, Nabi Ayub akhirnya ingin melaksanakan sumpah, karena janji dan sumpah memang tak mungkin diingkari. Tapi, mengingat kesetiaan dan kesalehan si wanita, Tuhan yang Maha Penyayang langsung mengajari, bahwa Nabi Ayub tetap dapat melaksanakan sumpah memukul istri 100 kali, tapi hendaknya tak menyakiti. Caranya, 100 lidi diikat jadi satu menjadi sapu, lantas dipukulkan sekali dengan keras, yang berarti telah sekaligus memukul 100 kali.

Referensi Saya : Berbagai Sumber
Share:

Monday, June 13, 2016

Hafiz Al Qur'an Tapi Mati Su'ul Khatimah

Kembali lagi dengan kisah kematian hanya di Kisah Teladan Islami. Bagaimana bisa ya seorang yang telah hafiz Al Qur'an namun meninggal dalam keadaan tidak baik.

Kisah ini sudah ada sejak zaman dahulu, yang memang oleh Allah SWT agar dijadikan renungan dan pembelajaran umat manusia di muka bumi ini.

Pada masa tabi'in dahulu, ada seseorang yang gagah berani menjadi mujahid dalam perang melaewan Romawi. Dia disebut-sebut sebagai seorang yang memiliki hafalan Al Qur'an bagus.

Siapakah dia?
Dia bernama Abdah bin Abdurrahim.

Kenapa bisa sampai terjadi hal yang buruk pada pemuda ini. Dia meninggal dunia dengan tidak membawa iman islamnya seperes pun. Berikut kisahnya.

Petaka ini terjadi bermula dari saat ia menjadi tentara, dimana ia dan tentara lainnya sedang mengepung kampung romawi. Ketika itu, mata Abdah tertuju kepada seorang wanita Romawi yang ada di dalam benteng.

Kecantikan dan pesona wanita berambut pirang itu begitu dahsyat hingga meluluhkan hatinya. Tanpa buang waktu lagi, Abdah segera menulis surat cinta ditujukan kepada wanita tersebut.





Isi suratnya adalah sebagai berikut,
"Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai kepangkuanmu?" begitu sebagian kalimat yang tertulis.
"Kakanda, masuklah agama Nasrani, lalu kamu naiklah menemuiku, maka aku jadi milikmu," tulis wanita cantik itu.

Karena setan dan nafsu yang lebih kuat, seakan sudah tak terbendung lagi yang masuk memenuhi relung hati Abdah, hingga ia lupa diri, imannya dia tinggalkan dan naik menemui wanita itu.

Hatinya telah benar-benar mati dari cahaya Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 7,
"Allah telah mengunci mati hati dan pendegaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat."

Astaghfirullah....
Ternyata pesona dari wanita tersebut telah mengubur keimanan Abdah. Demi bisa memiliki tubuh cantik itu, ia rela meninggalkan yang sudah benar yaitu Islam.

Sudah sepatutnya sebagai sesama umat Islam saling mengingatkan. Begitu juga kawan-kawannya sesama tentara. Mereka mengingatkan agar tidak keluar dari Islam.

Beberapa kawan dekatnya mencoba untuk membujuknya agar segera bertobat. Mereka menemui Abdah dan berkata,
"Di manakah Al Qur'anmu yang dulu? Apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apakag yang dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang dikerjakan jihadmu terhadapmu? Dan apa yang telah diperbuat salatmu terhadapmu?"






Astaghfirullah...
Allah SWT benar-benar meengunci mati hatinya. Dengan congkak ia mengatakan,
"Aku telah lupa semua isi Al Qur'an, kecuali hanya dua ayat saja."

Lalu Abdah membaca dua ayat Al Qur'an tersebut yaitu Surat Al Hijr ayat 2 samapi 3. Seolah-olah ayat ini adalah hujah, kutukan sekaligus peringatan Allah SWT yang terakhir kalinya. Namun hal tersebut tidak digubrisnya sama sekali.

Dalam kehidupan ini, seolah bisa bahagia dengan harta berlimpah serta bersama keturunan Nasrani. Akhirnya Abdah meninggal pada tahun 278 Hijriyah.

Celakanya lagi, saat nyawanya dicabut Malaikat Izrail, Abdah belum mau bertobat dan berakhir dengan Su'ul Khatimah (akhir hidup yang jelek).

Semoga kita dilindungi dari hal yang demikian dan dimatikan dalam keadaan yang baik atau Khusnul Khatimah. Amiiin...
Share:

Sunday, June 12, 2016

Saat Kaum Dhuafa Berpuasa

Saat Kaum Dhuafa Berpuasa ~ Bulan Ramadhan kembali menyapa paruh umur kita. Tapi, apakah perilaku dan rutinitas kita akan sama dengan tahun lalu? Sebagian kita terjebak pada budaya konsumtif tak terkontrol saat beribadah puasa. Sementara, pada lain waktu, sebagian saudara kita, para dhuafa, yang berpuasa sebaliknya. Oleh karena itu tak ada salahnya kita mengetahui gejolak batin kaum dhuafa dalam menjalani puasa. Mudah-mudahan bisa menjadi refleksi sekaligus menyadarkan kita bahwa puasa bukan sekedar ritual tanpa makna. Beberapa figur berikut ini contohnya. 


Hidup berkecukupan adalah mimpi setiap orang. Begitu pula dengan ibu Ruminah (43 tahun), istri dari Bowo Leksono (36 tahun), yang memutuskan hijrah ke Jakarta demi meraup rupiah. Suasana desanya yang tenang di Tejokusuma, Tamansari , Yogyakarta, tak mampu lagi menahan langkahnya bersama suami dan seorang anaknya untuk mengadu nasib di Jakarta.

“Saya hanya ingin mencari kehidupan yang lebih layak agar anak-anak  saya bisa sekolah,” ujar Ibu Ruminah saat ditemui di daerah Bukit Duri.

Terhitung sudah 26 tahun ia tinggal di Jakarta, Kota metropolitan yang ternyata tak banyak memberikan pilihan kerja. Apalagi baginya dan suaminya yang tak selesai mengecap Sekolah Dasar. Tapi tekadnya sudah bulat. “Terlanjur berjalan, pantang surut langkah kembali,” Ia berpeluh keringat menjemput rezekinya dengan mengumpulkan barang-barang bekas yang disetorkannya ke tempat penampungan di daerah Sawo Kecik.

Sosok ibu lima orang anak yang bersuamikan tukang besi ini, setiap hari rutin mengais-ngais sampah di daerah Manggarai dan sekitarnya. Berangkat saat mentari masih dalam peraduan selepas menunaikan shalat Shubuh. Perut kempisnya hanya diisi air putih tanpa sarapan.

Besi panjang yang bagian ujungnya melengkung (ganco), menjadi tempatnya menggantungkan harapan. Tubuh rampingnya harus pula dibebani keranjang yang lumayan besar. Kata-kata  kasar dan kalimat “dasar gembel!” yang dilontarkan orang tak berperasaan, telah menjadi sarapannya. Ia tak peduli. Baginya, selama pekerjaan itu halal dan tidak merugikan, kenapa mesti malu untuk dilakukan.

Kerja menjadi pemulung memang berat. Apalagi dilakukan oleh perempuan. Tapi, ia harus bertahan demi sesuap nasi dan  sejumlah impian masa depan. Dan, untuk kesekian kali, ia bisa  bertemu dengan bulan puasa. Bulan penuh berkah yang membuatnya “sejajar” dengan orang-orang kaya. Sama-sama menahan haus dan lapar. Tapi, nuansanya tentu berbeda.

“Saya merasakan perbedaan menahan lapar dan haus di bulan biasa dengan bulan Ramadhan. Kalau bulan ramadhan, rasa lapar dan haus itu tidak terlalu terasa. Mungkin, disitulah letak kekuatan niat yang menjadikan saya lebih kuat secara fisik,” ujar Ibu Ruminah menambahkan.

Saat orang kaya menikmati puding setelah adzan Maghrib tiba, ia hanya menikmati segelas teh manis. Namun, ia cukup  bersyukur sudah bisa sahur dan berbuka dengan nasi dan lauk pauk seadanya.

Lebaran pun ia tidak bisa seperti orang berpunya yang bangga bisa pergi  ke mall atau pusat perbelanjaan untuk memborong baju baru. Yang tersisa darinya hanyalah niat tulus dan harapan semoga ibadah puasanya Allah terima, tanpa perlu iri untuk mewarnai puasa dengan luapan materi.

Kondisi lebih mengenaskan terjadi pada Mbah Slamet (64 tahun). Di usianya yang sudah senja, ia harus rela hidup seorang diri ditengah hiruk pikuknya Jakarta. Tubuh rentanya  hanya bisa ia sandarkan di tembok jembatan dekat terminal kampung Melayu. Tembok yang menopang badannya dan menjadi saksi bisu bagaimana ia mengais belas kasihan orang lain.

Matanya yang sayup dihiasi gumpalan debu yang memenuhi sudut kelopaknya. Mulutnya lebih banyak terkatup. Kalau pun bicara seperti orang berbisik. Kedua kakinya tak lagi bertenaga akibat ganasnya penyakit kulit yang ia derita.

Lelaki tua yang berasal dari daerah Poncol, Semarang ini, terpaksa tinggal di bawah  jembatan terminal kampung melayu. Tubuh ringkihnya selalu diselemuti hawa dingin yang leluasa menembus kardus dan plastik-plastik bekas yang menjadi alasnya tidur. Ia tak lagi punya impian. Uang hasil mengemisnya hanya cukup untuk makan.

Tapi bulan Ramadhan, membuatnya bisa sedikit tersenyum. Tak lagi ada caci maki  atau umpatan sambil berbisik yang kerap ia dengar. Orang-orang yang melintas dihadapannya mendadak  “baik”, seakan ingin  menghapus dosa yang pernah mereka lakukan kepadanya.

Saat ditemui, ia hanya bisa berkata pelan, “Puasa itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tapi juga nafsu. Alhamdulillah, saya bisa puasa penuh meski dengan makanan  seadanya. Saya hanya iri melihat orang berpuasa dengan makan enak, baju serba baru dan bisa berkumpul dengan keluarga.”

Masihkah sosok Ibu Ruminah dan Mba Slamet di belantara Jakarta ini berarti bagi kita? Mereka hanya berharap untuk diperhatikan sebagaimana layaknya manusia. Tapi sayang, mereka telah mengubur harapan itu  dalam-dalam. Sedalam keyakinannya bahwa Allah-lah satu-satunya yang masih bisa ia percaya. Bukan lagi kepada kita yang masih saja tak sadar bahwa puasa merupakan ajang mengasah kepekaan terhadap sesama.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo
Share:

Kisah Hindi binti Amar bin Hazan

Kisah Hindi binti Amar bin Hazan ~ Amar bin Jumuh adalah lelaki pincang, oleh karenanya mendapat rukhsoh (keringanan) tak dikenai hukum wajib militer alias wajib perang. Namun, sekali lagi, daya tarik jihad tampaknya terlalu memikat bagi orang beriman. Lelaki cacat itu pun nekad ikut berjihad. Akhirnya, Amar bersama Khallad (putranya) dan Abdullah (saudara istri alias iparnya) gugur sebagai syahid dalam jihad.


Hindi binti Amar bin Hazan yang tak lain istri Amar sekaligus kehilangan tiga orang tercinta: suami, anak, dan saudara pria. Apakah Hindi meratap, gulung koming (menangis tersedu-sedu sambil berguling-guling)? Ternyata tidak. Dengan tegar hati, Hindi malah pergi ke Uhud sendiri, mengambil jasad orang-orang yang paling dicintainya. Dengan pancaran jiwa yang tabah iman kepada Ilahi, Hindi tak memperlihatkan kepedihan hati, seolah tak ada musibah bencana yang menimpa. Ia pulang menuntun seekor unta yang memuat tiga mayat.

Setiap kali ia ketemu orang, pasti akan ditanya tentang mayat-mayat yang dibawanya. Hindi mampu menjawab pertanyaan dengan tetap memperlihatkan keanggunan, "Mereka kerabat saya: satu suami saya, kedua anak lelaki saya, dan satu lagi yang ketiga, saudara pria saya."

Bahkan, ketika para istri Nabi Muhammad SAW atau siapa saja yang bertemu Hindi bertanya tentang kebenaran isu "gugurnya" Nabi, Hindi memberi kaba yang menyejukkan, "Aku membawa kabar gembira, (1) Nabi masih hidup. Dibandingkan dengan rahmat (masih hidupnya Nabi) ini, segala kesulitan (termasuk musibah yang aku derita) tak ada artinya, (2) Allah telah memulangkan kaum kafir dalam keadaan marah." Subhanallah. Adakah wanita tabah sebanding dia?

Hikmah dari Kisah Hindi binti Amar bin Hazan

Setiap orang beriman punya keyakinan bahwa kematian jihad tidaklah sia-sia, karena pasti mendapatkan balasan Jannatun Na'im (surga) Tuhan. Oleh karenanya, ahli waris para mujahid meski merasa kehilangan, mereka tak terlalu dirundung kesedihan. Itulah substansi keyakinan yang juga ada para Hindi. Kesedihan sesaat memang muncul dan mengemuka, karena memang manusiawi, sebagai refleksi kecintaan kepada orang-orang yang dikasihi. Tapi, hal itu hanya gejala sesaat, dan hanya fenomena singkat.

Kenapa sikap demikian dapat ditegakkan? sebab dalam dada setiap kaum beriman seperti Hindi setidaknya mempunyai tiga buah keyakinan:
  1. Segala kejadian di alam semesta merupakan wujud dari kodrat-irodat Tuhan. Allah menyatakan, "Tak ada sesuatu pun yang dapat lepas dari irodat-Nya, bahkan termasuk luruhnya selembar daun kering di tengah hutan yang lebat dan sunyi." Segala kejadian, termasuk kematian adalah bagian dari kodrat-irodat Tuhan. Apapun keberatan yang diajukan, apapun ratap tangis yang disuarakan, kodrat dan irodat Tuhan tetap terlaksana. Justru kesedihan berlebihan (ratapan) menunjukkan tanda-tanda "penentangan" dan tak mau ikhlas menerima ketentuan Tuhan.
  2. Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tak mungkin dapat dilewatkan. Siapa yang mengalami pross kelahiran dia pasti akan mengalami kematian. Itu hukum alam alias sunnatullah yang tak mungkin dihindarkan. "Kullu nafsin dzaaiqotul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati, "demikianlah sabda Nabi Muhammad SAW. Hanya soal waktu dan sebab musababnya yang berbeda. Setiap orang beriman sangat yakin, bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kepunyaan Allah, dan pasti semua akan kembali kepada-Nya (Inna lillaahi wainna ilaihi rooji'uun).
  3. Segala cobaan hakekatnya sebagai bentuk ujian. Dalam hal ini Allah bertanya tapi tak butuh jawaban, "Apakah kamu mengira bahwa Allah akan membiarkanmu menyatakan beriman dengan tanpa memberikan ujian dan atau cobaan?" Jika kualitas besi diuji coba dengan api dan tempaan-tempaan palu, maka kualitas manusia diuji coba dngan bermacam cobaan dan musibah. Idzaa aroodallaahu an yushoofia alshoqo bihil balaayaa, jika Allah ingin menguji seseorang, maka akan ditimpakan kepadanya berbagai cobaan. Semakin tabah seseorang dalam menyikapi kehilangan (keluarga, harta, dan tahta), berarti semakin berkualitas pribadi orang bersangkutan. Cerita Nabi Ayub yang ditimpa berbagai kemalangan adalah contoh yang patut direnungkan. Yang pasti, Tuhan menjanjikan, "Dia tak akan menguji (menimpakan cobaa) melainkan sesuai batas kemampuan, laa yukallifullaaha nafsan illaa wus 'ahaa. "Keputusan seseorang dalam menerima cobaan Tuhan, bukan karena ujian Tuhan melampaui kapasitas kemampuan, tapi lebih dikarenakan sikapnya yang ingkar (kafir), "Walaa taiasuu min rouhillaah, wamaa yaiasuu illal qoumul kaafiruun, janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah. Karena tidak putus asa kecuali hanya orang-orang kafir (ingkar)."
Referensi Saya : Berbagai Sumber
Share:

Saturday, June 11, 2016

Kisah Ummu 'Amir, Pahlawan Wanita

Kisah Ummu 'Amir, Pahlawan Wanita ~ Kendati Islam tak mewajibkan wanita berjihad dalam medan laga, namun tarkh (sejarah) Islam sempat mencatat kisah wanita pemberani yang sempat ikut berperang dalam Perang Uhud pada era Rasulullah SAW. Namanya Ummu 'Amir yang tak lain adalah Nasibah seperti ternukil dalam kisah sebelumnya.


Ummu 'Amir dan beberapa wanita yang sejiwa memback-up (mendukung) anggota keluarga pria mereka yang turut berjihad (menjadi mujahid). Kaum wanita mempunyai tugas utama memberi air kepada yang haus, mencuci pakaian kotor, dan merawat yang terluka. Namun, Ummu 'Amir tampaknya tak merasa cukup dengan pekerjaan utamanya.

Alhasil, tatkala tentara Islam terpukul mundur, dan banyak prajurit yang kabur, Ummu 'Amir justru bangkit semangatnya. Ia meletakkan kantong air, lantas mengambil parang atau pedang untuk menghalau musuh-musuh tentara Islam. Ummu 'Amir bercerita, "Ketika aku melihat tentara Islam melarikan diri dari peperangan, aku berteriak kepadanya: tinggalkan perisai dan pedangmu. Orang itu melepaskannya, dan aku memungutnya lantas aku menggunakannya untuk bertempur."

Keadaan kian genting, tentara Islam kalang kabut akibat tentara panah melanggar perintah dan siasat Rasulullah SAW. Saat itu Ummu 'Amir melihat Rasulullah dalam bahaya. Ibnu Qumi'ah, seorang prajurit musuh, berteriak-teriak penuh arogansi mencari Rasulullah SAW, "Dimana Muhammad ?"

Qumi'ah akhirnya mengenali Rasulullah, lantas menyerbu dengan pedang terhunus. Ummu 'Amir dan Mus'ab segera menghadang Qumi'ah. Pukul memukul terjadi, namun Ummu 'Amir terjengkang akibat pukulan keras dan hampir mematikan. Bahunya terluka akibat sabetan pedang.

Rasulullah SAW melihat adegan ini, lantas memanggil salah satu putra Ummu 'Amir agar membalut luka ibunya. Setelah dirawat sejenak, seolah tak mengenal rasa sakit, Ummu 'Amir bangkit lagi, menghadang musuh yang hampir semua terdiri dari kaum lelaki. Kekuatan semangatnya mengatasi "kelemahan" tubuhnya sebagai wanita.

Akhirnya, gantian salah satu putra Ummu 'Amir yang terluka, oleh karenanya Ummu 'Amir istirahat untuk membalut luka putranya. Selesai membalut luka putranya, langsung ia memerintahkan, "Bangkitlah kembali wahai putraku, bertempurlah lagi kamu." Ummu 'Amir sendiri setelah membantu membalut luka tentara lainnya, ia pun bangkit dan mengambil pedang, lantas bertempur lagi.

Nabi Muhammad SAW sangat bangga dengan keberanian "Singa betina" ini. Oleh karenanya Nabi lantas menunjukkan kepadanya, orang yang telah melukai putranya, "Itulah orang yang memarang putramu, wahai Ummu 'Amir." Wanita itu bangkit, menyerang, dan berhasil menghantamkan pedang ke betis lawannya. Melihat adegan ini, baru pertama kali Nabi Muhammad SAW tertawa sampai gigi paling belakang kelihatan. Kepada wanita ini pula akhirnya Nabi mendoakan seperti permintaan si wanita sendiri agar ia dapat berbakt kepadanya di surga nanti.

Hikmah dari Kisah Ummu 'Amir

Jihad bagi orang beriman memang sangat menjanjikan, karena tak ada balasan kecuali surga atau hidup mulia, Isy kariiman aumut syahidan. Namun, perlu dicatat bahwa jihad melawan kezaliman (nahi munkar) tak semua harus dengan perang, melainkan ada beberapa tingkatan. Pertama, melawan kezaliman dengan kekuasaan (tangan), seperti terjun dalam perang, bergabung dalam laskar jihad. Kedua, melawan kezaliman dengan ucapan, yakni mengecam kezaliman lewat seminar maupun tulisan. Ketiga, melawan kezaliman dengan diam diri, namun hati membenci kezaliman tadi. Kendati cara terakhir ini wujud dari selemah-lemahnya iman, namun ketiga cara ini sama-sama dibolehkan. Oleh karenya satu sama lain tak boleh saling menyalahkan. Satu-satunya orang atau kelompok yang patut dicaci, atau bahkan diperangi adalah mereka yang berpihak (ucapan apalagi perbuatan) kepada pelaku kezaliman.

Bagi orang yang keimanannya pada posisi tertinggi, jihad level pertama menjadi pilihan utama. Baginya tak ada yang lebih membahagiakan kecuali mati di jalan Ilahi. Baginya tak ada yang menggiurkan kecuali mendapat surga yang telah dijanjikan. Orang model ini tak lagi berkalkulasi pada kelemahan diri, karena kekuatan iman telah mampu menutupi kelemahan diri bahkan ketakutan diri, seperti diperlihatkan Ummu 'Amir tadi. Ia memang wanita, yang secara lahiriah memiliki tubuh lebih lemah dibanding tentara pria. Ia seorang tua, anak-anaknya telah dewasa, yang secara lahiriah memiliki badan lebih ringkih dibanding tentara-tentara muda. Tapi kekuatan iman telah menutupi semua kelemahan, sehingga ia tampil dengan kekuatan prima. Itulah kekuatan iman, yang daya pancarnya seperti air bah, tak mampu dibendung apalagi ditaklukkan, bahkan tak takut pada kematian.

Oleh Berbagai Sumber
Share:

Monday, June 6, 2016

Rahmat Iskandar, Tunanetra Penghafal 30 Juz Al Quran

Rahmat Iskandar, Tunanetra Penghafal 30 Juz Al Quran ~ Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk menjadi sukses. Barangkali itulah prinsip yang dipegang teguh seorang peserta Selaksi Tilawatil Al Qur'an (STQ) asal Provinsi Lampung, Rahmat Iskandar.


Rahmat, begitu dia disapa, mengalami kebutaan sejak dini. Meski berbeda, Rahmat nyatanya menunjukkan prestasi terutama pada hafalan Al-qur'an. Pada STQ yang ke-23 ini dia turun di cabang hifzhil (menghafal) kategori 30 juz.

Saat diuji oleh Dewan Hakim, pria berusia 19 tahun ini mampu melantunkan hafalannya dengan lancar, tanpa cela.

Meski sempat diminta mengulang di Surat Annisa, Rahmat kembali melantunkan terusan ayat dalam surah itu dengan baik.

Usai menutup ujiannya, penonton di arena bertepuk tangan seraya mengucap, “Subhanallah.”

Ditemui seusai ujian, Rahmat mengaku awalnya cukup grogi. Tetapi, dia akhirnya mampu mengatasi rasa groginya itu.

“Alhamdulillah, diberi kelancaran,” ujar pria asal Lampung ini.

Menurut anggota tim pendampingnya, Noven, Rahmat memang menjadi kebanggaan bagi Lampung. Di gelaran Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional tahun 2015 di Batam, Kepulauan Riau, Rahmat mampu menorehkan prestasi.

“Dia  mendapat juara ke-2,” kata pria yang telah lama mengenal Rahmat ini.

Meskipun Rahmat mampu mengatasi ujian dari Dewan Hakim, Noven enggan mengungkapkan peluang  menang.

“Dalam cabang hafalan Al-qur'an ini semuanya berpeluang. Kita tidak mau menilai peserta lain.”pungkas Noven,..

“Sesunggunya kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan dan sebaliknya kebathilan dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan.”

Oleh Eep Khunaefi
Share:

Sunday, June 5, 2016

2 Rahasia Strategi Iblis Menyesatkan Manusia serta Alasannya

Kejadian ini diungkapkan oleh Iblis pada zamannya Nabu Nuh as. Nabi Nuh as adalah salah satu Nabi yang dianugerahi usia yang panjang. Sepanjang hidupnya, ia telah melihat banyak karakter manusia.

Salah satunya adalah golongan manusia yang kerap ingkar kepada Allah SWT. Nabi Nuh as sangat prihatin dengan akhlak manusia yang buruk seperti itu. Karenanya, ia memohon kepada Allah SWT agar ditimpakan bencana kepada mereka. Dan Allah SWT Maha Pengabul Doa umatnya.

Allah SWT akan mengirimkan banjir bandang kepada umat Nabi Nuh as. Maka Beliau diperintahkan untuk membuat sebuah kapal besar yang sekiranya mampu untuk menampung sepasang semua makhluk hidup selain manusia dan manusia-manusia yang beriman.

Pada saat semuanya sudah masuk ke dalam kapal, ada seseorang yang mencurigakan telah menaiki kapal Nabi Nuh as. Dan ternyata orang tersebut adalah Iblis.

Iblis diperintahkan untuk keluar dari kapal, namun Iblis tak menggubrisnya. Malah Iblis berkata kepada Nabi Nuh as.

"Wahai kekasih Allah, aku menyimpan lima strategi yang dengannya aku akan boleh mencelakan umat manusia. Aku akan sebutkan padamu yang tiga, tapi menyembunyikan yang dua."


Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Nuh as agar mendengarkan yang dua saja dan tidak usah yang tiga.
"Aku tidak tertarik dengan yang tiga, tapi sebutkan saja yang dua yang kau sembunyikan itu," kata Nabi Nuh as.

"Baiklah Nabi Nuh, aku akan berusaha membinasakan manusia dengan dua cara ini, "kata Iblis.





1. Sifat dengki.

Aku akan tanamkan sifat dengki dalam hati manusia. Alasannya karena dengki ini, aku dilaknat oleh Allah dan dijadikan sebagai setan yang terkutuk.






2.Sifat serakah.

Karena serakah, Adam menghalalkan segala makanan di surga sehingga dia dikeluarkan.

Dengan dua sifat ini, kami semua dikeluarkan dari surga. Itulah dua strategi Iblis untuk menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan. Sedangkan tiga strategi lain akan dibahas pada edisi lain.
Share:

Saturday, June 4, 2016

Mualim, ABG Penghafal Al Quran Dari Palembang

Mualim, ABG Penghafal Al Quran Dari Palembang ~ Mualim, 15 tahun, tidak menyangka ia dapat mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an dalam waktu singkat. Padahal, hal itu sebelumnya belum pernah terbayangkan dalam pikirannya.


Tepat pada tangal 30 Maret 2015, Mualim mampu menggenapkan hafalannya 30 juz Al-Qur'an, lengkap dan sempurna. Padahal, sebelumnya ia butuh waktu lama hanya untuk menghafal juz 30 saja.

Dalam menghafal Al-qur'an, Mualim langsung dibimbing oleh Ustadz Khoirudin dari Rumah Tahfiz Alquraniy Palembang. Khoirudin bahkan menyebut prestasi Mualim sebagai rekor baru lantaran bisa selesai dalam waktu dua tahun.

“Sepertinya ini rekor baru. Apa yang dicapai oleh Mualim ini seharusnya menjadi pemicu sekaligus penyemangat santri-santri Rumah Tahfiz lainnya,” ujar Khoirudin

Mualim sendiri mengaku tidak memiliki trik khusus dalam menghafal Al-qur'an. Ia hanya mengikuti arahan dari Khoirudin.

“Alhamdulillah, ustadz Khoirudin selalu memberikan motivasi kepada para santrinya. Kami semua sangat senang dengan apa yang diajarkannya,” ungkap Mualim.

Lebih lanjut, Mualim mengaku merasakan kebahagiaan tersendiri setelah mampu menghafal seluruh isi Alqur'an.

Menurut dia, apa yang telah diraihnya mampu membahagiakan orang tua dan gurunya.

“Saya tidak akan berhenti di sini. Saya akan terus belajar Al-qur'an semaksimal mungkin,” ungkapnya  yang dia tuliskan dalam selembar kertas.........!!!!!

Oleh Eep Khunaefi
Share:

Vera Verinak, Wanita Pertama Penghafal Al Quran Dari Ukraina

Dunia Nabi ~ Vera Verinak, Wanita Pertama Penghafal Al Quran Dari Ukraina ~ Setelah memantapkan diri menjadi muslimah 17 tahun yang lalu, Vera Verinak menjadi penghafal Al-Qur'an perempuan pertama asal Ukraina.


“Sebelumnya saya telah belajar Bahasa Arab. Saya sering menulis ayat dan mengartikannya agar mudah dipahami dan diingat,” kata perempuan yang berusia 35 tahun tersebut kepada Aljazeera.

“Memang butuh waktu yang lama sejak saya baru masuk universitas, sebelum saya sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.”

Vera mengatakan dia awalnya tidak berharap bisa menghafalkan seluruh Al-Qur'an, terutama setelah melihat ada hambatan bahasa dan kurangnya waktu untuk mempelajarinya. Belajar bahasa Arab telah banyak membantu Vera untuk menghafal Al-Qur'an.

“Setelah belajar bahasa Arab, Islamic Center di Kiev membuat sebuah jadwal untuk membantu saya menghafal Al-Qur'an hanya waktu 9 bulan,” Vera menjelaskan proses dirinya mampu menghafal Al-Qur'an.

Setelah berhasil mewujudkan mimpinya menghafal Al-Qur'an, Vera berkeinginan untuk mengajarkan perempuan muslim lainnya tentang Al-Qur'an dan berdakwah kepada non muslim.

Vera, yang berhasil mengajak lima saudara dan ibunya memeluk agama Islam, telah banyak membantu para pemuda yang ingin belajar tentang agama Islam.

Seorang gadis remaja Ukraina, Jana, mengatakan dia memutuskan untuk memeluk agama Islam setelah bertemu dengan Vera yang meyakinkannya bahwa Islam adalah agama sekaligus jalan hidup.

Pada tahun 2012, diperkirakan 500.000 muslim tinggal di Ukraina dan sekitar 300.000 diantaranya dari suku Tatar Krimea.

Menurut Majelis Ulama Ukraina, ada 2 juta Muslim di seluruh Ukraina pada tahun 2009......!!!!!!!!

Oleh Eep Khunaefi
Share:

Friday, June 3, 2016

Fatih, Penghafal Al Quran Ganteng Dari Amerika

Fatih, Penghafal Al Quran Ganteng Dari Amerika ~ Fatih Seferagic. Dialah penghafal Al-Qur'an muda dari Amerika Serikat. Nama pemuda berwajah rupawan ini sudah kondang ke berbagai negara. Dia dikenal bersuara bagus saat melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an.


Usia Fatih masih belia. Dia lahir di Jerman pada tanggal 1 Maret 1995. Saat berusia 4 tahun, Fatih dan keluarganya pindah ke Amerika Serikat. Mereka menetap di Houston, Texas.

Fatih mulai belajar menghafal Al-Qur'an pada usia 9 tahun. Dia belajar di Islamic Society of Baltimore, Maryland, di bawah asuhan Syaikh Qari Zahid dan Qari Abid. Menempa diri selama tiga tahun, akhirnya Fatih berhasil menghafal seluruh ayat Al-Qur'an.

Sudah menghafal Al-Qur'an pada usia 12 tahun, tak membuat Fatih berpuas diri. Dia terus menuntut ilmu agama dengan menghafal hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Pada tahun 2010, dia masuk ke Bayyinah Dream Program untuk belajar bahasa  Arab.

Fatih tak hanya cemerlang dalam ilmu agama. Dalam kehidupan sosial pun dia aktif, termasuk ikut sejumlah organisasi. Dia menjadi ketua Remaja Masjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas. Tak hanya itu, Fatih juga bergabung sebagai penulis dalam situs Islam yang membahas permasalahan remaja, Muslim Youth Musing.

Sebagai remaja, Fatih juga memiliki akun di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Tahun lalu, pengikut Twitternya sudah puluhan ribu. Sementara, akun Facebooknya, per-Jum'at 8 Agustus 2014, sudah diikuti oleh 301.653 orang. Melalui akun media sosial itulah Fatih berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

Kemampuan Fatih yang luar biasa dalam membaca dan menghafal Al-qur'an sudah banyak diunggah ke laman Youtube. Video-video yang diunggah itu telah dilihat oleh ratusan ribu pengunjung laman berbagai video tersebut......!!!!!!!

Oleh Eep Khunaefi
Share:

Thursday, June 2, 2016

Bocah Amerika Jadi Penghafal Al Quran Terbaik Dunia

Bocah Amerika Jadi Penghafal Al Quran Terbaik Dunia ~ Saat mendengar berita adanya seorang pria yang menjadi hafiz atau penghafal Al-Qur'an mungkin sudah biasa bagi kalian semuanya. Pasalnya, di Indonesia sampai ada acara reality show tentang serang Hafiz.


Namun hal ini akan menjadi luar biasa jika penghafal Al-Qur'an atau Hafiz tersebut adalah seorang bocah yang bukan berasal dari negara yang bernotabene berpenduduk mayoritas Negara Islam atau beragama Islam.

Inilah yang saat ini dirasakan oleh pemuda tampan asal USA (Amerika Serikat) yang mana pemuda ini tumbuh dilingkungan yang mayoritas bukan pemeluk Agama Islam. Namun uniknya pemuda yang masih berusia 14 tahun ini sudah bisa membuktikan diri sebagai seorang Hafiz.

Hamzah Alhabashy, itulah nama pemuda penghafal Al-Qur'an asal Amerika Serikat, ini yang telah resmi mendapatkan gelar Hafiz Qur'an terbaik yang di adakan di Dubai pada tahun 2015. Kini Hamzah Alhabashy mulai dikenal banyak orang di dunia. Videonya pun kini ramai di perbincangkan banyak netizen setelah Video dirinya diunggah oleh pemilik akun “Ahmad Hayadin Salafi.”

Suara Hamzah Alhabashy ketika membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an begitu merdu dan sangat fasih, tak aneh bila video rekaman ini mendapatkan banyak pujian dari para netizen.

Oleh Eep Khunaefi
Share:

Saturday, May 28, 2016

Contoh-Contoh Syirik yang sering Terjadi

Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam dan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam adalah:
Menyembah Kuburan
Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini. mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al Isra’ :23)
Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa  kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml : 62)
Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.
Di antaranya ada yang menyeru : “ Wahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut  :“Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “Wahai Rifai. Yang lain lagi : “Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan:
“Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu” (Al A’raaf : 194)
Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Al Ahqaaf : 5)
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah  niscaya akan masuk neraka (HR Bukhari, fathul bari : 8/176)
Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku  yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan  masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan  mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” (Yunus : 107)
Bernadzar Untuk Selain Allah
Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur.
Menyembelih Binatang Untuk Selain Allah
Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)
Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR Muslim, shahih Muslim No : 1978)
Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan.
Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah -yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin [lihat Taisirul Azizil Hamid, hal : 158]

Share:

Saturday, May 7, 2016

Kisah Nyata Keutamaan Shalawat Nabi

Ingin tahukah kisah nyata seperti apa yang membenarkan, true story kalau membaca shalawat memiliki faedah dan keutamaan yang tak seorang pun menyangkanya.

Kisahnya


ada suatu hari, Abu Laits Samarqandi sedang melakukan perjalanan bersama ayahnya. Dalam perjalanan tersebut, ternyata takdir Allah SWT menentukan lain.

Ayahnya jatuh sakit dan tak lama kemudian ayahnya akhirnya meninggal dunia. Lokasi meninggal ayahnya itu sangat jauh dari pemukiman penduduk.

Kini tinggallah Abu Laits seorang diri. Ia sangat sedih dan berharap muncul rombongan kafilah yang bisa ia mintai tolong untuk merawat jenazah ayahnya tersebut.



Kesedihan Abu Laits kian bertambah setelah dalam waktu yang sekejap saja, jenazah ayahnya di bagian wajah tiba-tiba saja menghitam.
"Astaghfirulloh...., ada apa dengan wajah ayahku?" Ya Allah...ampuni dosa dan kesalahan ayahku, "kata Laits dalam hati dengan penuh tanya.


Mimpi Rasulullah SAW


Sambil menunggu rombongan kafilah datang, Abu Laits yang kelelahan dan tak terasa tertidur di samping jenazah ayahnya. Dalam tidurnya tersebut, ia bermimpi didatangi oleh sosok pemuda yang tampan.

Abu Laits bertanya,
"Siapakah Saudara?"
"Aku adalah Muhammad bin Abdullah, "jawab pemuda itu yang ternyata adalah Rasulullah SAW.

Maka mengertilah Abu Laits, bahwa yang hadir dalam mimpinya tersebut adalah utusan Allah SWT. Hatinya merasa sangat gembira sekali.
"Ya Rasulullah SAW, apa yang terjadi dengan jenazah ayahku?" tanyanya.

"Aku datang karena hendak menziarahi jenazah ayahmu, dan izinkan aku untuk membuka kain di wajah ayahmu, "jawab Nabi SAW.

Setelah diizinkan, Rasulullah SAW kemudian berdoa kepada Allah SAW. Seketika itu juga, Abu Laits melihat jenazah pada bagian wajah ayahnya yang semula gelap menjadi putih bercahaya.

Karena penasaran, Abu Laits kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah SAW.

"Wahai Rasulullah SAW, apakah yang menyebabkan wajah ayahku menjadi hitam?" tanya Abu Laits.
"Ayahmu semasa hidup telah berbuat dosa dalam keadaan orang lain tidak mengetahuinya. Namun ketika malam hari, dimana orang lain telah tidur dengan lelapnya, dia bangun dan merintih kepada Allah SWT. Dia mengadu kepada Allah SWT akan hal dirinya yang sering berbuat dosa karena tak mampu melawan hawa nafsunya. Ayahmu juga senantiasa basah lidahnya dengan bershalawat untukku. Oleh sebab itu, pada hari kematiannya, Allah SWT memerintahkan aku untuk menziarahi mayatnya, "jelas Nabi SAW.




Keutamaan Shalawat


Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang senantiasa bertobat atas dosanya, maka seperti orang yang tiada dosa. Namun dalam keadaan bertobat, hendaklah tobat yang sebenar-benarnya dan hati yang tulus ikhlas."

Terdapat banyak kelebihan bershalawat. Di antaranya Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Orang yang paling utama bagiku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku. Barangsiapa yang membaca shalawat 100 kali untukku pada hari Jumat, kelak pada hari kiamat, dia datang dengan wajah yang bersinar-sinar. Sekiranya sinar itu dibagi-bagikan kepada semua makhluk, niscaya mencukupi."

Hebat sekali keutamaan membaca shalat ini. Mari membiasakan diri untuk rajin membaca shlawat setiap hari sekuatnya dan sebanyak-banyaknya.
Share:

Sunday, April 3, 2016

Sepotong Keju Penyebab Lupa

Ini kisah berdasarkan kitab dimana pada zama dahulu, ada seseorang yang bernama Abu Yazid Albustomi yang memang sejak kecil merupakan orang yang suka berbuat kebajikan. Beliau merupakan salah satu ulama sufi yang diakui akan ketinggian ilmu tasawufnya sehingga banyak yang berguru kepadanya.

Sejak kecil berbuat baik dan orangtuanya pun juga selalui menjaga diri untuk tidak makan kecuali dengan yang halal. Sejak dalam kandungan hingga disapi dari air susu ibunya, beliau tidak pernah berkenalan dengan barang yang subhat.

Namun ketika menginjak remaja, ia merasakan bahwa dirinya sudah mulai banyak lupanya. Terutama jika mendengarkan sesuatu hal yang mengandung kebenaran.

Dari situ, ia pergilah kepada ibunya untuk menanyakan sesuatu.

"Wahai ibu, apakah ibu ingat pernah memakan sesuatu yang haram atau subhat ketika mengandung atau menyusui aku? Karena jika aku mendengar kebaikan, aku mudah lupa," tanya Abu Yazid.


Ibu Meminta Maaaf


Akhirnya ibunya bercerita terus terang mengenai kejadian yang pernah dialaminya ketika mengandungnya dahulu.

"Anakku, pada suatu hari, ketika sedang mengandung atau menyusuimu, aku melihat sepotong keju tergeletak di tempat si fulan. Saat itu aku sedang mengidam dan benar-benar menginginkan keju itu. Lalu aku ambil secuil keju dan kumakan tanpa sepengetahuan pemiliknya," jelas ibunya.




Mendengar penjelasan ibunya, tanpa pikir panjang lagi, Abu Yazid langsung mengunjungi pemilik keju tersebut dan ia menceritakan tentang kekhilafan ibunya saat mengandung dirinya.

Kepada pemilik keju tersebut, Abu Yazid merengek untuk meminta maaf.





"Wahai Fulan, dahulu ketika mengandung, ibuku telah memakan secuil kejumu. Sekarang aku mohon agar engkau sudi memaafkannya atau tetapkan harga secuil keju tersebut dan aku akan membayarnya, "kata Abu Yazid.

"Ibumu telah aku maafkan dan apa yang telah ia mkan telah aku halalkan," kata pemilik keju tersebut.

Akhirnya di kemudian hari, Abu Yazid sudah tidak lupa lagi ketika mendengar suatu kebaikan.
Share:

Wednesday, March 23, 2016

Realita Kebangkitan Islam

Info Mekkah News - Mulailah kaum muslimin sadar setelah melihat kenyataan pahit, negeri yang tercabik dan banyaknya orientalis yang mengajak mereka untuk meninggalkan agama dan sumber kejayaannya. Setiap kelompok dari kaum muslimin selanjutnya meulai memandang kenyataan yang ada dari sisi yang berbeda dari pandangan kelompok yang lain. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa jama'ah-jama'ah yang bergerak di medan dakwah masa ini saling berselisih seputar cara maupun jalan dakwah, dari mana mulainya.
Perselisihan yang paling bebahaya yang menghalangi persatuan mereka diatas satu kata adalah dua hal :
Pertama : Ketidak Tahuan akan Besarnya Kekuatan Mereka.
Kita masih terus melihat hizbiyah yang sempit telah menguasai banyak akal pemikiran dan jama'ah yang bergerak dalam medan dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga mereka tidak melihat kecuali diri mereka sendiri dan meniadakan keberadaan yang lain disekitarnya. Berkembanglah hal ini hingga kita melihat sebagian mereka mengaku sebagai jama'ah muslimin dan pemimpin mereka sebagai imam muslimin, lalu menetapkan dengan dasar itu beberapa prasangka :
Sebagiannya mengklaim kewajban berba'iat kepada imamnya dan yang lain mengkafirkan kaum muslimin setelah generasi-generasi terbaik yang dimuliakan. Sekelompok lainnya mengklaim bahwa merekalah jama'ah induk yang wajib bagi selainnya untuk berhimpun dan berlindung di bawah benderanya. Kebanyakan mereka telah melupakan bahwa mereka bergerak untuk mengembalikan jama'ah muslimin, maka seandainya jama'ah muslimin sudah ada dan imamnya pun ada maka kita tidak akan melihat perselisihan dan berbilangnya kelompok yang tidak diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala keterangan astasnya. Pada hakikatnya mereka yang bergerak untuk Islam tersebut adalah jama'ah dari sebagian kaum muslimin yaitu dari ahlil kiblat dan bukan jamaah muslimin.
Ketahuilah wahai muslim, jama'ah muslimin adalah jama'ah yang seluruh kaum muslimin bergabung dalam menjalankannya dan memiliki seorang imam yang melaksanakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga diwajibkan taat kepadanya dan diberikan kepatuhan dan ketundukan kepadanya. Itulah negara Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang melaksanakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun jama'ah-jama'ah yang bergerak untuk mengembalikan daulah kekhilafahan maka dia adalah jama'ah dari sebagian kaum muslimin yang wajib saling tolong menolong di antara mereka dan menghilangkan penghalang yang memisahkan pribadi-pribadi mereka agar berpadu di atas kata yang satu yaitu kalimat tauhid dan assunnah serta pemahaman salaf umat ini.
Al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam Fathul Bariiy 13/37 perkataan Ath-Thabariy Rahimahullah : Masalah ini dan masalah jama'ah telah diperselihkan : berkata satu kaum : itu untuk wajib, dan Al-Jama'ah adalah kelompok yang paling besar, kemudian membawakan dalil dari Muhammad bin Siriin Rahimahullah dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman terbunuh : wajib atas kamu berpegang teguh dengan Al-Jama'ah, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan mengumpulkan umat Muhammad diatas kesesatan. Dan berkata yang lain : yang dimaksud dengan Al-Jama'ah adalah para sahabat dan orang yang setelahnya dan berkata yang lain lagi : yang dimaksud adalah ahli ilmu, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka sebagai hujjah atas makhluknya dan manusia ikut mereka dalam masalah agama.
Dan yang benar bahwa maksud dari hadits yang memerintahkan untuk berpegang teguh kepada Al-Jama'ah adalah jama'ah yang manusia bersepakat untuk menjadikan seorang amir atasnya, maka siapa yang melepas ba'iatnya berarti telah keluar dari Al-Jama'ah. Dan dalam hadits disebutkan : Ketika terjadi pada manusia tidak ada imam dan mereka berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah seorang itu ikut dalam perpecahan tersebut dan hendaklah dia meninggalkannya semua kalau mampu, khawatir terjatuh dalam keburukan dan dengan demikian maka semua hadits dapat ditempatkan dan dapat dikompromikan apa yang dianggap berbeda darinya.

Maka wajib atas setiap muslim membantu jama'ah-jama'ah ini pada kebenaran yang dimilikinya dan wajib untuk melakukan nasehat dan arahan pada hal-hal yang menyimpang dari kebenaran atau tidak dapat menunaikannya dengan baik dari kebenaran tersebut. Dan wajib atas jama'ah-jama'ah ini untuk saling tolong menolong pada kebenaran yang telah disepakati dan saling menasehati diantara mereka pada hal-hal yang diperselisihkan serta memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menunjuki mereka dalam hal itu kepada jalan yang lurus. [1]
Wajib bagi jama'ah-jama'ah tersebut untuk menjadi satu tangan dalam membangun istana Islam yang megah dan mengembalikan kejayaannya, karena jika bergerak sendiri-sendiri maka mereka tidak mampu, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala walinya orang-orang yang shalih. Wajib pula atas jama'ah-jama'ah ini untuk mengisi para pengikutnya dengan kebenaran dan kecintaan kepada seluruh kaum muslimin sehingga dapat menghancurkan penghalang hizbiyah (fanatis kelompok) yang telah memporak-porandakan persatuan dan melemahkan kekuatan serta ketangguhan mereka.
Dengan demikian, maka orang yang keluar dari jama'ah-jama'ah ini bukanlah orang yang keluar dari jama'ah muslimin karena jama'ah-jama'ah ini tidak memiliki sifat tersebut dan tidak juga pendirinya pantas mengaku sebagai imam.
Kedua : Perbedaan Mereka dalam Sumber Pengambilan dan Pemahaman Al-Kitab dan Assunnah

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu untuk meninggalkan semua kelompok yang mengajak kepada neraka pada masa-masa keburukan dan fitnah ketika kaum muslimin tidak memiliki jama'ah dan imam.

Beragam perkataan para ulama dalam menjelaskan hadits ini dan yang saya anggap lebih sesuai adalah perintah kenabian ini berisi kewajiban berpegang teguh kepada kebenaran, menolong ahlinya dan tolong menolong di atas dasarnya, dan inilah penjelasannya :
[1]. Ini merupakan perintah berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih, hal ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Irbaadh bin Saariyah radhiyallahu 'anhu.

"Artinya : Barangsiapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para Khalifah rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) karena hal itu adalah kebid'ahan dan setiap kebid'ahan adalah kesesatan" [Akan datang Takhrijnya]
Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, terdapat perintah untuk menggigit pokok-pokok ketika terjadi perselisihan dalam rangka berlepas diri dari kelompok-kelompok sesat dan dalam hadits Irbadh Radhiyallahu 'anhu terdapat perintah menggigit As-Sunnah yang Shahih yang dipahami dengan paham As-Salaf Ash-Shalih dengan geraham ketika terjadi perselisihan dan untuk menjauhi dari hal-hal yang baru karena dia adalah kesesatan.

Jika kita kompromikan antara kedua hadits ini akan tampak satu makna yang indah yaitu berpegang teguh kepada sunnah nabi dengan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih ketika muncul kelompok-kelompok sesat dan lenyapnya jama'ah muslimin dan Imamnya.

[2]. Yang menunjukkan hal itu bahwa perintah menggigit pokok pohon dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu bukanlah yang dimaksud lahiriyahnya, akan tetapi yang dimaksud adalah tetap sabar di atas kebenaran dan berlepas dari kelompok-kelompok sesat yang menyalahi kebenaran. Atau maknanya pohon Islam yang rindang dan subur akan diterpa badai angin sehingga mematahkan ranting-rantingnya dan tidak tingga kecuali pokoknya saja yang kokoh berdiri menantang badai-badai tersebut. Di saat itu wajib atas kaum muslimin untuk memelihara pokok ini dan mengorbankan jiwa dan harta yang berharga karena pokok tadi akan tumbuh kembali walaupun dahsyatnya badai angin tersebut.
[3]. Pada waktu itu wajib atas seorang muslim untuk memberikan bantuan kepada kelompok yang merangkul pokok pohon yang kokoh ini untuk menolak darinya serangan fitnah dan ujian.
Kelompok ini senantiasa menegakkan kebenaran sampai akhir mereka memerangi Dajjal. [Akan datang keterangan tentang hadits-hadits yang ada tentang hal ini]

Dengan ini dapat disimpulkan penutup hadits Hudzaifah dalam tiga hal :

[a]. Kewajiban berpegang teguh kepada jama'ah muslimin dan taat kepada para pemimpin mereka walaupun mereka bermaksiat, bukanlah Rasulullah telah bersabda dalam riwayat yang lain.
"Artinya : Saya bertanya : Apa yang saya perbuat wahai Rasulullah jika hal itu menimpaku ? Beliau menjawab : patuh (dengar) dan taatilah amir (pemimpin) walaupun dia memukul punggungmu dan megambil hartamu, patuhlah (dengarlah) dan taatilah" [Diriwayatkan Muslim 12/236-237]
Ini merupakan perkara yang tidak diketahui kebanyakan dari kaum muslimin ketika mereka melihat kerusakan dan kedzaliman para khalifah terakhir dalam negara kekhalifahan, lalu berusaha bekerja sama dengan orang-orang kafir untuk melenyapkan negara kekhalifahan dan mereka lupa akan larangan memberontak dari para pemimpin selama belum melihat pada mereka kekafiran dan kesyirikan yang jelas sekali yang dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan diputuskan oleh para Ulama robbani berdasarkan kaidah-kaidah fiqih dakwah yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta sikap-sikap As-Salaf Ash-Shalih.

[b]. Jika tidak ada jama'ah muslimin dan imam mereka, maka wajib bagi setiap muslim untuk meninggalkan kelompok-kelompok dan sekte yang sesat tersebut.

[c]. Meninggalkan kelompok-kelompok sesat tidak berarti beruzlah (mengasingkan diri) secara keseluruhan dan membiarkan kebatilan bertebaran dan berkembang tanpa ada yang menghalanginya ; bahkan seharusnya kaum muslimin berpegang teguh kepada pokok-pokok agama ini berdasarkan Kitabullah dan As-Sunnah dan memahami keduanya dengan pemahaman sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang telah berjalan diatas manhaj mereka dari para imam-imam petunjuk, mengajak manusia kepada dua pokok yang agung ini yang akan menjadi hakim bagi bumi dan seisinya dan agar kamu ketahui berita kebenarannya setelah ini karena keberadaan kelompok-kelompok sesat ini tidak berarti kosongnya dunia dari orang yang menegakkan kebenaran dengan hujjah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhabarkan dalam hadits-hadits mutawatir tentang keberadaan kelompok yang membawa kebenaran pada setiap masa hingga datang hari kiamat sedangkan dalam keadaan itu tidak merugikan mereka orang yang menyelisihi dan menghina mereka.


[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Berbeda dengan kaidah : Kita saling tolong menolong pada apa saja yang kita sepakati dan kita saling memaafkan pada apa yang kita perselisihkan. Dan telah menjelaskan rusak dan bahayanya oleh Al-Akh Hamd Al-Utsmaan dalam kitabnya : Zajrul Mutahaawin bin dhorori qaidah Al-uzru wat Ta'awun. Adapun saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan diantara kaum muslimin merupakan perkara wajib syar'i lebih-lebih pada orang-orang yang bergerak di medan dakwah, akan tetapi tidak sempurna ta'awun ini kecuali dengan dua pokok, yaitu :
[a] Manhaj As-Salaf Ash-Shalih
[b] Meninggalkan Tahazzub (fanatisme golongan).
Jika setiap jama'ah atau kelompok tetap berada pada aqidah mereka yang menyimpang dari As-Salaf dan memiliki tatanan yang terpisah dari yang lainnya maka tidak ada tolong menolong kecuali tolong menolong yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka menganggap bersatu akan tetapi pada kenyataannya hati-hati mereka......, adapaun usaha sekelompok orang yang mengaku ahlus sunnah untuk meremehkan pentingnya permasalahan ini dan mengklaim itu sebagai dakwah salafiyah yang benar maka janganlah kamu termasuk orang yang tertipu, karena ucapan mereka seperti madu dan sikap mereka terhadap manhaj salaf dan ulamanya seperti duri yang tajam
Share: