Monday, September 9, 2013

Teladan Islam | Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua (19)


Islam memerintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua dan mendahulukan (berbakti kepada) ibu daripada bapak.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Luqman : 13, yang artinya : ...


"Dan Kami memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dimana sang telah mengandung dalam keadaan sangat lemah. Lalu disapihnya dalam usia dua tahun."

Hal ini disebabkan karena sang ibu pekerjaannya sangat berat, yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui anak. Disini Allah SWT memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua secara bersamaan, namun seorang ibu harus tetap mendapat perlakuan khusus daripada bapak.


Share:

Teladan Islam | Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua (18)


Nabi Muhammad SAW bersabda : "Jika ibumu memanggilmu, bertaqwalah kepada Allah dalam hal mentaatinya, engkau jangan mendurhakainya dan layanilah ia dengan baik."

Ibnu Al-Munkadir berkata : "Bila orang tuamu memanggilmu, sementara kamu melakukan sholat (sunnat), maka penuhilah."...

Al-Awam berkata : "Aku berkata kepada Mujahid : "Adzan telah dikumandangkan, lalu orang tuaku memanggilku." Maka Al Mujahid berkata : "Penuhilah panggilan ayahmu."

Tidak dibenarkan seorang mukmin tidak menghiraukan panggilan kedua orang tuanya bahkan dalam sholatpun, apabila orang tua memanggilnya ia harus menjawab (memenuhi) panggilannya.

Di dalam salah satu hadist pernah disebutkan : "Apabila ibumu memanggilmu dalam keadaan sholat, maka penuhilah, apabila ayahmu yang memanggilmu, maka janganlah dikabulkan sehingga kamu selesai sholat."

Hadits-hadits di atas memerintahkan agar kita menaati ibu ketika ia memanggil kita. Dalam keadaan yang biasa, ketika orang tua memanggil, kita selalu datang menghadap mereka dan siap melayani mereka. Jika kita sedang mengerjakan sholat, maka penjelasannya adalah, jika orang tua kita memanggil karena keadaan darurat, misalnya ketika keluar dari kamar kecil lalu mereka terpelset atau khawatir akan jatuh dan tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka, maka diwajibkan untuk menghentikan sholat wajibnya untuk menolong mereka. Dan jika mereka tidak menghendaki pertolongan sebagaimana yang dijelaskan diatas, tetapi hanya panggilan biasa, maka tidak pantas jika menghentikan sholat wajib.

Apabila kita sedang memulai sholat sunnat atau nafil, kemudian orang tua memanggil tetapi mereka tidak tahu bahwa anaknya sedang mengerjakan sholat, maka diwajibkan untuk menghentikan sholatnya dan menjawab panggilannya, entah mereka memanggil untuk keperluan yang mendesak atau tidak. Dalam kasus ini, jika kita tidak menghentikan sholat dan tidak menyahut mereka, maka itu merupakan suatu dosa. Namun jika mereka mengetahui bahwa anaknya sedang mengerjakan sholat tetapi mereka memanggil tanpa keperluan, maka tidak boleh  menghentikan sholat tersebut.

Dan jika ada kekhawatiran bahwa apabila kita tidak menyahut panggilan mereka akan terjadi berbahaya, maka kita harus menghentikan sholat kita dalam keadaan apapun, terlepas dari apakah mereka tahu atau tidak kita sedang mengerjakan sholat.

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang seorang anak yang tidak menjawab panggilan ibunya ketika sholat sunnat.

Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, bahwa ada seorang laki-laki bernama Juraij. Ia seorang ahli ibadah yang membuat suatu shauma'ah (biara) untuk ibadahnya.

Pada suatu hari ibu Juraij meanggilnya : "Juraij, wahai, Juraij." Ketika itu Juraij sedang melakukan sholat dengan khusu'. Dia kebingungan dan berkata dalam hati : "Apakah aku menjawab panggilan ibu, ataukah harus meneruskan sholat." Dia semakin bingung dan akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan sholat.

Ibunya memanggil Juraij untuk yang kedua kalinya ; "Wahai Juraij, anakku dimana engkau?" Juraij bertambah bingung, antara menjawab panggilan ibunya atau meneruskan sholatnya dan akhirnya dia memilih melanjutkan sholatnya.

Ibunya masih berteriak memanggil dengan suara yang lebih keras dan kesal : "Dimana engkau wahai Juraij, kesinilah dulu!" Dia sangat kebingungan, apakah memenuhi panggilan ibunya atau meneruskan sholat. Oleh karena sholatnya tinggal sedikit, maka dia memilih melanjutkan sholat. Tidak memperdulikan panggilan ibunya.

Sudah tiga kali sang ibu memanggil anaknya dan tidak diperdulikan. Maka kemarahan pun memuncak. Dan sang ibu terlanjur mengutuk anaknya : "Wahai Juraij, semoga Allah tidak mencabut nyawamu sebelum engkau melihat tampang seorang pelacur. Dengan perasaan kesal dan sedih sang ibu kembali ke rumah.

Juraij memang sangat terkenal seorang ahli ibadah di kalangan Bani Israil, sehingga terjadi seorang wanita pelacur yang terkenal kecantikkannya berkata :"Saya dapat menggugurkan ibadah Juraij." Maka pelacur itu berusaha merayu Juraij dengan segala daya penariknya tetapi ternyata Juraij tidak dapat tergoda olehnya sehingga jengkellah pelacur itu, maka ia memutuskan untuk berzina dengan seorang penggembala yang tidak jauh dari biara Juraij, sehingga ia hamil.

Dan ketika bayi yang dikandung pelacur itu mengadu kepada sang raja : "Wahai Raja, aku telag melahirkan seorang anak." Raja bertanya : "Dari siapakah engkau mempunyai anak?" Pelacur itu menjawab : "Dari Juraij." Raja bertanya lagi : "Maksudmu orang yang mempunyai biara ini?" Pelacur menjawab : "Ya, betul."

Sang Raja sangat murka dan menyuruh orang untuk menangkap Juraij dan dihadapkan ke depan sang Raja. Dengan berjalan kaki dan kedua tangan diikat pada leher, Juraij menghadap kepada sang Raja, dengan melewati kerumunan para pelacur. Mereka menyaksikan iring-iringan itu, tetapi Juraij nampak kalem, tenang dan tersenyum. Sang Raja memerintahkan agar biaranya dihancurkan dan orang-orang pun datang berbondong-bondong untuk menghancurkannya, sehingga rta dengan tanah.

Juraij tiba dihadapkan Raja. Lalu Raja bertanya : "Wahai Juraij, wanita ini menuduhmu telah menghamilinya. Bagaimana pendapatmu?" Dengan tenang Juraij menjawab : "Apalagi yang dituduhkannya kepadaku?" Raja berkata :"Apalagi mengatakan bahwa anaknya adalah anakmu." Kemudian Juraij menoleh kepada sang pelacur, seraya berkata : "Apakah benar tuduhanmu itu, bahwa aku menggaulimu?" Pelacur menjawab : "Ya, benar." Juraij bertanya : "Sekarang dimanakah anak itu?" Pelacur menjawab : "Dia berada dalam ayunan."

Lalu JUraij menghampiri bayi yang tiada berdosa itu dan bertanya : "Wahai anak manis, siapakah ayahmu?" Tiba-tiba anak yang dalam ayunan itu menjawab : "Penggembala sapi."

Semua yang hadir terperanjat menyaksikan keanehan tersebut dan merasa sangat bersalah kepada Juraij, terutama sang Raja. Dengan rasa malu dan penuh penyesalan sang Raja berkata : "Wahai Juraij, maukah saya bangunkan kembali biaramu itu dengan bahan serba emas?" Juraij menjawab : "Tidak." Kemudian Raja berkata lagi : "Atau saya membangunnya kembali dengan perak?" Juraij menjawab : "Tidak." Raja berkata : "Terus dengan apa saya harus membangunnya kemabli?" Juraij menjawab : "Bangun saja seperti sedia kala."

Maka sang Raja memerintahkan agar biara milik Juraij dibangun kembali seperti semula. Raja kembali bertanya kepada Juraij : "Mengapa kamu menerima semua kenyataan ini dengan tersenyum. Bahkan ketika ditonton oleh para pelacur pun kamu kelihatan tenang dan tetap menghadiahkan senyuman?" Juraij menjawab : "Ketika itu aku baru sadar bahwa kata-kata ibuku telah didengar dan dikabulkan oleh Allah." Dan kemudian Juraij menceritakan kepada mereka atas apa yang telah terjadi atas dirinya.

Perhatikanlah kisah di atas dan ambillah pelajarab dari kisah tersebut. Juraij adalah seorang yang shalih yang rajin mengerjakan amalan sunnat. Ketika ibunya memanggilnya, ia tidak menjawab. Sikapnya itu menyakitkan hati ibunya sehingga keluarlah kata-kata kutukan itu dari lisan ibunya, sehingga kutukannya tersebut menjadi kenyataan. Dan bagi seorang anak, jangan sampai mengabaikan panggilan orang tua. Padahal di zaman kini banyak terjadi anak tidak memperdulikan panggilan orang tua. Apalagi sedang asyik dengan kegiatan yang menjadi kegemarannya.


Share:

Friday, September 6, 2013

Kisah Inspirasi Islami | Saatnya Beranjak Dari Zona Nyaman

Suatu hari seorang Raja mendapatkan hadiah 2 ekor anak rajawali. Raja senang sekali & selalu memamerkan anak rajawalinya.

Lalu dia berpikir, akan bagus sekali jika rajawali ini dilatih utk terbang tinggi. Tentu akan lebih menyenangkan lagi.

Ia memanggil pelatih burung yg tersohor di negerinya utk melatih 2 rajawali ini...


Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melapor kepada Raja. Seekor rajawali telah terbang tinggi & melayang-layang di angkasa. Namun seekornya lagi tidak beranjak dari pohonnya sejak hari pertama ia tiba.

Raja pun memanggil semua ahli hewan & para tabib sakti utk memeriksa rajawali kesayangannya ini. Namun tidak ada yg berhasil untuk "menyembuhkan" & membuat rajawali ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan namun rajawali ini tidak kunjung bergerak dari dahannya.

Kemudian Raja mendapat ide untuk memanggil orang yg biasa "melihat" rajawali.

Kemudian ia bertemu dengan petani yang sangat mengenal akan sifat rajawali & Raja meminta bantuan petani itu.

Keesokan harinya ketika Raja mengunjungi rajawali ini, ia kaget melihat rajawali ini sudah terbang tinggi.

Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yg ia lakukan.

Petani menjawab, "Saya hanya memotong cabang pohon yg selama ini dihinggapinya saja yaitu DAHAN yg membuatnya NYAMAN".

Kita sama dengan rajawali tersebut, dilahirkan untuk sukses, kita ditakdirkan untuk terbang tinggi.

Namun, ada yang memegang erat yaitu ketakutan kita, kita tidak mau melepaskan ketakutan & tidak beranjak dari posisi.

Kadang kita terlalu memegang zona kenyamanan, hingga kita takut & tidak mau melepaskannya, : kita takut gagal, kita takut kecewa, kita takut capek, kita takut malu, dan takut seterusnya.

Satu-satunya cara untuk bisa membubung tinggi adalah. keluar dari zona nyaman...!

Tidak ada jalan pintas...

Hanya ada 2 pilihan : tetap bergantung di dahan selamanya atau membubung ke angkasa. 


Share:

Teladan Islam | Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua (17)

Jihad adalah mengorbankan diri dan harta dan mengendalikan hawa nafsu dengan tujuan untuk mencari keridhaan Allah SWT. Seorang anak apabila ingin berjihad di jalan Allah, maka ia harus meminta izin dari kedua orang tuanya terlebih dahulu karena itu adalah termasuk bakti anak kepada orang tuanya terlebih dahulu karena itu adalah termasuk bakti anak kepada orang tuanya. Jika orang tua mengizinkan, maka berjihadlah. Dan jika mereka tidak mengizinkan, maka tetaplah bersama orang tua kalian karena bersama dan melayani mereka juga termasuk jihad...

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Sa'id Al-khudzi, bahwa ada seorang laki-laki yang ingin berhijrah ke kota Madinah. Kemudian Nabi Muhammad SAW bertanya : "Apakah orang tuamu tinggal di Yaman?" Laki-laki itu menjawab : "Ya". Beliau bertanya lagi : "Apakah mereka telah mengizinkanmu untuk pergi berhijrah?" Laki-laki itu menjawab : "Belum." Maka beliau bersabda : "Kembalilah, mintalah izin terlebih dahulu kepada mereka. Jika mereka mengizinkan, maka berhijrahlah dan kembalilah kemari. Dan apabila mereka tidak mengizinkan maka tetaplah tinggal disana dan layanilah mereka dengan sebaik-baiknya."

Disebutkan pula dalam hadits yang lain, bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Muhammad SAW. Ia berkata : "Wahai Rasulullah, aku datang menghadap engkau untuk berbai'at ikut hijrah, tetapi aku tinggalkan orang tuaku dalamkeadaan menangis." Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda : "Pulanglah, buatlah orang tuamu tertawa dan senangkanlah mereka karena kamu telah membuat mereka menangis dan bersedih hati."

Disebutkan dalam riwayat dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Muhammad SAW. Laki-laki itu bertanya : "Wahai Rasulullah, apakah aku boleh ikut berjihad?" Nabi Muhammad SAW balik bertanya "Apakah orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab : "Ya, orang tuaku masih hidup." Kemudian beliau bersabda : "Tunaikanlah hak-hak kedua orang tuamu, maka itu sama dengan jihad di jalan Allah."

Semua orang pasti mengetahui, bahwa berjihad, shalat nafilah, puasa dan berdakwah adalah merupakan suatu amalan yang sangat besar pahalanya. Akan tetapi banyak yang tidak mengetahui, bahwa merawat orang tua yang sakit, menyediakan pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya untuk orang tua yang telah lemah dan sakit-sakitan juga sangat besar pahalanya. Untuk itulah, Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan pentingnya merawat dan melayani orang  tua daripada berjihad.
Share:

Teladan Islam | Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua (16)


Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban bagi setiap anak, baik ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Seorang anak harus menunaikan hak-hak orang tua setelah mereka meninggal...

Hal ini dijelaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban yang bersumber dari Abu Asid Malik bin Rabi'ah Ash-Sha'idi. Disebutkan bahwa suatu ketika para sahabat sedang duduk di majelis Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan Bani Salamah. Dia mengajukan pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW : "Wahai Rasulullah, apakah sesudah kedua orang tuaku meninggal dunia, masih ada sisa bakti yang dapat aku persembahkan kepadanya?" Beliau menjawab : "Ya, masih ada, yaitu dengan mengirim do'a dan memohonkan ampun. Menepati janji dan nazar yang pernah diikrarkan kedua orang tua. Memlihara hubungan silaturrahmi serta memuliakan kawan kerabat orang tuamu."

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang bersumber dari Anas bin Malik. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : "Seseorang yang kedua orang tuanya atau salah satunya meninggal dunia, sedangkan ia dalam kondisi durhaka kepadanya, namun kemudian dia mendo'akan dan memohonkan ampunan kepada orang tuanya tersebut, maka dia akan dicatat oleh Allah SWT sebagai orang yang berbakti kepada kedua orang tua."

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Najjar yang bersumber dari Ibnu Zurarah. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : :Istighfar (permohonan ampun) yang dilakukan seorang anak terhadap orang tua yang telah meninggal adalah termasuk kategori berbakti kepadanya."

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abdillah bin Umat. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : "Bila seorang meninggal dunia, maka amal perbuatannya terputus kecuali 3 hal, yaitu ; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat (dengannya), anak shalih yang mendo'akannya."

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : "Tujuh perkara yang pahalanya akan mengalir bagi seseorang setelah ia meninggal dunia, walaupun dia berada dikuburnya (alam kubur) ialah ; orang yang mengajarkan ilmunya, menanam pohon kurma, mewariskan mushaf Al-Qur'an dan meninggalkan anak yang (anak itu) memintakan ampun untuknya."

Pada suatu ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW : "Wahai Rasulullah, adakah sesuatu bagiku untuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?" Beliau menjawab : "Ada 4 perkara, yaitu ; berdo'a untuk mereka, memintakan ampun untuk mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman-teman mereka dan menyambung sanak yang tidak ada hubungan denganmu kecuali dengan mereka."

Derajat orang tua apabila hari kiamat akan terangkat di sisi Allah SWT disebabkan do'a seorang anak yang memintakan ampun atas dosa-dosa mereka.

Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Baihaqi yang bersumber dari Abu Hurairah. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan tentang seseorang yang diberi derajat kedudukan yang tinggi di dalam surga. Mereka bertanya : "Wahai Tuhanku, darimana aku memperoleh derajat kedudukan yang sangat tinggi ini?" Kemudian Allah SWT berfirman : "Anakmu yang telah memohonkan ampunan atas dosa-dosamu."

Maka jelaslah, bahwa do'a anak terhadap orang tua yang telah meninggal, mempunyai arti yang sangat penting. Bahkan dapat menyelamatkan dari amukan api neraka, mengangkat kepada derajat kedudukan di surga yang lebih tinggi. Tentu saja apabila antara anak dan orang tua berada dalam satu ikatan agama, tidak melakukan kesyirikan semasa hidupnya.

Di dalam hadits yang lain pernah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda : "Barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, baik selama mereka masih hidup maupun setelah meninggal, maka hak bagi Allah untuk ridha kepadanya pada hari kiamat." Kami berkata : "Bagaimanakah caranya berbakti kepada mereka (yang telah meninggal dunia) adalah dengan memintakan ampun untuk mereka dan tidak mencaci kepada orang tua seseorang, sehingga orang tersebut membalas mencaci kepada orang tuanya."

Selain memohonkan ampunan untuk orang tua, berziarah kubur juga termasuk berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal.

Hal ini diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan perintah itu disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani yang bersumber dari Abu Hurairah. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : "Barang siapa yang menziarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satu diantaranya pada setiap malam jum'at, maka dia akan memperoleh ampunan dosa dan di catat sebagai orang yang berbakti kepadanya."

Agama Islam telah menganjurkan untuk menziarahi kubur orang tua yang telah meninggal dunia, lebih-lebih pada hari jum'at. Untuk itu hendaklah setiap muslim haruslah memperhatikan himbauan Nabi Muhammad SAW tersebut, sehingga benar-benar menjadi insan yang berbakti kepada orang tua secara sempurna, baik ketika masih hidup maupun ketika orang tua telah meninggal dunia.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Daelami. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda : "Mayit yang berada di dalam kubur ibarat orang yang tenggelam, senantiasa mengharap pertolongan dan do'a dari sanak kerabat, keluarga dan handai taulan. Ketika dia mendapatkan kiriman do'a, maka merasa berbahagialah mereka melebihi kebahagiaan ketika bertemu di dunia. Sedangkan kiriman orang hidup kepada orang mati itu berupa istighfar, do'a dan dzikir."

Nabi Muhammad SAW bersabda : "Hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang yang mati adalah memintakan ampun untuk mereka. Sesungguhnya Allah akan memasukkan kepada ahli kubur dari rumah orang-orang yang bertempat tinggal di daerah yang tinggi seperti daerah gunung (pegunungan)."

Nabi Muhammad SAW bersabda : "Apabila seseorang diantara kamu ingin bersedekah sunat karenaNya, hendaklah pahalanya dihadiahkann kepada orang tuanya, jika mereka berdua orang-orang islam. Kemudian mereka mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun."

Disebutkan pada salah satu riwayat bahwa sesungguhnya Nabi Isa as melewati suatu kuburan yang penghuninya di siksa. Kemudian pada tahun berikutnya ia datang lagi pada kuburan tersebut dan dia tidak disiksa lagi. Nabi Isa bertanya kepada Allah SWT : "Ya Allah! Sesungguhnya pada tahun yang lalu aku melewati kuburan ini dan penghuninya disiksa. Tetapi tahun ini aku melawatinya dan penghuninya tidak disiksa lagi." Maka Allah memberikan wahyu kepadanya : "Sesungguhnya dia meninggalkan anak yang shalih yang suka memperbaiki jalan dan memberikan tempat perlindungan kepada anak-anak yatim. Aku mengampuninya disebabkan apa yang dilakukan anaknya setelah dia meninggal dunia."

Nabi Muhammad SAW bersabda : "Barang siapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka pada malam Jum'at, kemudian membaca surat Yasin, maka dosanya akan diampuni."

Nabi Muhammad SAW juga bersabda : "Barang siapa yang berziarah ke kubur ibunya atau salah satu kerabatnya, maka hal itu ditulis sebagaimana (pahala) haji mabrur, dan barang siapa yang sering berziarah kepada mereka sampai (mereka) meninggal dunia, maka malaikat akan berziarah ke kuburnya."

Salah satu cara lagi untuk berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia adalah manyambung tali silaturrahmi dengan sanak kerabat dan sahabat kedua orang tua.

Disebutkan dalam riwayat Imam Muslim. Abdillah bin Umar bercerita kepada Abdillah bin Dinar ketika dia berjalan menuju ke Makkah. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang laki-laki dari kalangan A'rabi. Abdillah bin Umar mengucap salam kepadanya dan mengajak untuk naik kendaraan onta bersamanya. Laki-laki itu datang dari kalangan A'rabi yang berpola hidup sederhana. Mengapa kamu melakukan hal yang sedemikian?" Abdillah bin Umar menjawab : "Sebab antara ayah laki-laki itu dengan ayahku Umar bin Khaththab ada jalinan persahabatan yang sangat intim, dan aku telah mendengar Nabi Muhammad bersabda : "Sebagian bentuk pengabdian kepada kedua orang tua yang paling utama adalah menyambung tali persaudaraan dengan teman-teman kedua orang tua, sesudah keduanya meninggal dunia."

Disebutkan dalam hadits sebuah riwayat dari Imam Abdur Razaq dan Ibnu Hibban. Pada suatu ketika Abi Buraidah sedang berkunjung ke Madinah, kemudian Abdillah bin Umar datang untuk menemuinya seraya bertanya : "Mengertikah kamu mengapa aku berkunjung kepadamu?" Abi Buraidah menjawab : "Tidak, aku tidak mengerti." Maka Abdillah bin Umar berkata : "Sebab aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda : "Barang siapa ingin berhubungan dengan ayahnya yang telah berada dalam kubur, maka hendaklah dia menyambung tali persaudaraan dengan teman-temannya ayahnya, sesudah ayahnya meninggal." Padahal antara ayahku dan ayahmu ada hubungan persahabatan yang sangat intim. Maka aku ingin sekali melanjutkan hubungan persaudaraan tersebut denganmu."

Seorang anak yang orang tuanya telah meninggal dunia, maka hendaklah memperlakukan sanak keluarga kedua orang tua dengan baik. Setelah mereka meninggal, kita tetap menyambung hubungan dengan paman, bibi, dan anak-anak mereka dari pihak ibu dan ayah. Dan hendaklan hubungan dengan mereka semakin ditingkatkan setelah orang tua meninggal dunia.

Nabi Muhammad SAW bersabda : "Barang siapa yang menginginkan Allah memanjangkan umurnya dan diperluas rezekinya serta terhindar dari mati jelek (Su'ul Khatimah), hendaklah dia bertawakal kepada Allah dan menyambung sanak kerabatnya."

Nabi Muhammad SAW juga bersabda : "Menyambung sanak, berakhlaq mulia dan hidup bertetangga dengan baik, bisa memakmurkan kampung dan menambah umur."

Share:

Thursday, September 5, 2013

Teladan Islam | Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua (15)


Menghormati dan mengasihi orang tua adalah kewajiban bagi setiap anak. Bukan hanya kepada orang tua kandung saja, tapi orang tua angkat juga wajib dihormati dan dikasihi.

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Thufi ra, bahwa ia melihat seorang wanita datang kepada Nabi Muhammad SAW, dan ketika wanita tersebut berada didekat beliau, maka beliau menghamparkan kain yang dipakai oleh beliau. Kemudian aku bertanya : "Wahai Rasulullah, siapakah dia itu?" Beliau menjawab : "Dia adalah ibu angkatku, dia pernah menyusui aku sewaktu aku masih kecil."...


Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang bersumber dari Amr bin Sa'ib, disebutkan bahwa pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW sedang duduk-duduk, tiba-iba ayah angkat beliau datang kepadanya. Kemudian beliau menghamparkan ujung kain lainnya dari tempat duduk beliau. Setelah itu, datanglah ibu angkatnya, maka beliau berdiri dan mempersilahkan saudara angkatnya untuk duduk di depan beliau.

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Umar bin Sa'ib, ia berkata : "Rasulullah SAW selalu menerima nasehat ibu angkatnya dan juga sangat menghormati ibu dan ayah angkatnya."

Kita sebagai anak harus mencontoh perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad SAW yang sangat menghormati dan mengasihi orang tuanya walaupun mereka bukanlah orang tua kandungnya sendiri. Beliau sangat menghormati Halimatus Sa'diyah, seorang wanita yang pernah menyusuinya dan beliau juga sangat menghormati suami dari ibu angkatnya tersebut. Di negara Arab, menghamparkan kain untuk tempat duduk orang lain merupakan tanda penghormatan kepada orang tua, Nabi Muhammad SAW sendiri menghamparkan kain untuk mereka dan menerima nasehat dari ibu angkatnya tersebut.

Pernah disebutkan dalam hadits yang lain, bahwa Nabi Muhammad SAW juga memohonkan ampun untuk ayah dan ibu angkatnya yang telah wafat.Dengan sebab keberkahan beliaulah mereka bangkit lagi kemudian membaca kalimat Thayyibah, ruh mereka meninggalkan tubuh mereka.

Share:

Friday, August 30, 2013

Ciri-Ciri Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah memiliki ciri-ciri khusus. Adapung ciri-ciri itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

[1] Sumber pengambilannya bersih dan akurat. Hal ini karena aqidah ahlus sunnah wal jama'ah berdasarkan Kitab dan Sunnah serta ijma' para orang-orang shaleh terdahulu, para Salafush Shalih, yang jauh dari keruhnya hawa nafsu dan syubhat.
 
[2] Ia adalah aqidah yang berlandaskan penyerahan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab aqidah ini adalah iman kepada sesuatu yang ghaib. Karena itu, beriman kepada yang ghaib merupakan sifat orang-orang mukmin yang paling agung, sehingga Allah memuji mereka : " Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib". [Al-Baqarah : 2-3]. Hal itu karena akal tidak mampu mengetahui hal yang ghaib, juga tidak dapat berdiri sendiri dalam memahami syari'at, karena akal itu lemah dan terbatas. Sebagaimana pendengaran, penglihatan dan kekuatan manusia itu terbatas, demikian pula dengan akalnya. Maka beriman kepada yang ghaib dan menyerah sepenuhnya kepada Allah adalah sesuatu yang niscaya.

[3] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah aqidah yang sejalan dengan fithrah dan logika yang benar, bebas dari syahwat dan syubhat.

[4] Sanadnya bersambung kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat, tabi'in dan para imam, baik dalam ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Ciri ini banyak diakui oleh para penentangnya. Dan memang -Alhamdulillah- tidak ada suatu prinsip pun dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang tidak memiliki dasar Al-Qur'an dan As-Sunnah atau dari Salafus Shalih. Ini tentu berbeda dengan aqidah-aqidah bid'ah lainnya.

[5] Ia adalah aqidah yang mudah dan terang, seterang matahari di siang bolong. Tidak ada yang rancu, masih samar-samar maupun yang sulit. Semua lafazh-lafazh dan maknanya jelas, bisa dipahami oleh orang alim maupun awam, anak kecil maupun dewasa. Ia adalah aqidah yang berdasar kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah laksana makanan yang bermanfaat bagi segenap manusia. Bahkan seperti air yang bermanfaat bagi bayi yang menyusu, anak-anak, orang kuat maupun lemah.

[6] Selamat dari kekacauan, kontradiksi dan kerancuan. Betapa tidak, ia adalah bersumber kepada wahyu yang tak mungkin datang kepadanya kebatilan, dari manapun datangnya. Dan kebenaran tidak mungkin kacau, rancu dan mengandung kontradiksi. Sebaliknya, sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Allah berfirman : "Kalau sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya" [An-Nisaa : 82]

[7] Mungkin di dalamnya terdapat sesuatu yang mengandung perdebatan, tetapi tidak mungkin mengandung sesuatu yang mustahil. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah ada hal-hal yang di luar jangkauan akal, atau tidak mampu dipahami. Seperti seluruh masalah ghaib, adzab dan nikmat kubur, shirath, haudh (telaga), surga dan neraka, serta kaifiyah (penggambaran) sifat-sifat Allah. Akal manusia tidak mampu memahami atau mencapai berbagai persoalan di atas, tetapi tidak menganggapnya mustahil. Sebaliknya ia menyerah, patuh dan tunduk kepadanya. Sebab semuanya datang dari wahyu, yang tidak mungkin berdasarkan hawa nafsu.

[8] Ia adalah aqidah yang universal, lengkap dan sesuai dengan setiap zaman, tempat, keadaan dan umat. Bahkan kehidupan ini tidak akan lurus kecuali dengannya.

[9] Ia adalah aqidah yang stabil, tetap dan kekal. Ia tetap teguh menghadapi berbagai benturan yang terus menerus dilancarkan musuh-musuh Islam, baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi maupun yang lainnya. Ia adalah akidah yang kekal hingga hari kiamat. Ia akan dijaga oleh Allah sepanjang generasi. Tak akan terjadi penyimpangan, penambahan, pengurangan atau penggantian. Betapa tidak, karena Allah-lah yang menjamin penjagaan dan kekalannya. Ia tidak menyerahkan penjagaan itu kepada seorangpun dari mahluk-Nya, Alah berfirman : "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang akan menjaganya". [Al-Hijr : 9]

[10] Ia adalah sebab adanya pertolongan, kemenangan dan keteguhan. Hal itu karena ia adalah aqidah yang benar. Maka orang yang berpegang teguh kepadanya akan menang, berhasil dan ditolong. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran, yang tidak akan membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka sampai datangnya keputusan Allah, dan mereka dalam keadaan demikian". [Hadits Riwayat Muslim 3/1524]. Maka barangsiapa mengambil aqidah tersebut, niscaya Allah akan memuliakannya dan barangsiapa meninggalkannya, niscaya Allah akan menghinakannya. Hal itu telah diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah. Sehingga, ketika umat Islam menjauhi agamanya, terjadilah apa yang terjadi, sebagaimana yang menimpa Andalusia (Spanyol) dan yang lain.

[11] Ia mengangkat derajat para pengikutnya. Barangsiapa memegang teguh aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, semakin mendalami ilmu tentangnya, mengamalkan segala konsekwensinya, serta mendakwahkannya kepada manusia, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya, meluaskan kemasyhuranya serta keutamaannya akan tersebar, baik sebagai pribadi maupun jama'ah. Hal itu karena akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah akidah terbaik yang sesuai dengan segenap hati dan sebaik-baik yang diketahui akal. Ia menghasilkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat dan akhlak yang tinggi.

[12] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kapal keselamatan. Maka barangsiapa berpegang teguh dengannya, niscaya akan selamat. Sebaliknya barangsiapa meninggalkannya, niscaya tenggelam dan binasa.

[13] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah aqidah kasih sayang dan persatuan. Karena, tidaklah umat Islam itu bersatu dalam kalimat yang sama di berbagai masa dan tempat kecuali karena mereka berpegang teguh dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebaliknya, mereka akan berpecah belah dan saling berselisih pendapat jika menjauh darinya.
[14] Aqidah Ahlus Suannah wal Jama'ah adalah aqidah istimewa. Para pengikutnya adalah orang-orang istimewa, jalan mereka lurus dan tujuan-tujuannya jelas.
[15] Ia menjaga para pengikutnya dari bertindak tanpa petunjuk, mengacau dan sikap sia-sia. Manhaj mereka satu, prinsip mereka jelas, tetap dan tidak berubah. Karena itu para pengikutnya selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari bertindak tanpa petunjuk dalam soal wala' wal bara' (setia dan berlepas diri dari orang lain), kecintaan dan kebencian kepada orang lain. Sebaliknya, ia memberikan ukuran yang jelas, sehingga tidak akan keliru selamanya. Dengan demikian ia akan selamat dari perpecahan, bercerai berai dan kesia-siaan. Ia akan tahu kepada siapa harus membenci, dan mengetahui pula hak serta kewajibannya.

[16] Ia akan memberikan ketenangan jiwa dan pikiran kepada pengikutnya. Jiwa tidak akan gelisah, tidak akan ada kekacauan dalam pikirannya. Sebab akidah ini menghubungkan antara orang mukmin dengan Tuhannya. Ia akan rela Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Hakim dan Pembuat Syari'at. Maka hatinya akan merasa aman dengan takdir-Nya, dadanya akan lapang atas ketentuan-ketentuan hukum-Nya, dan pikirannya akan jernih dengan mengetahui-Nya.

[17] Tujuan dan amal pengikut aqidah ini mejadi selamat. Yakni selamat dari penyimpangan dalam beribadah. Ia tidak akan menyembah selain Allah dan akan mengharapkan kepada selain-Nya.

[18] Ia akan mempengaruhi prilaku, akhlak dan mua'malah. Aqidah ini memerintahkan pengikutnya melakukan setiap kebaikan dan mencegah mereka melakukan setiap kejahatan. Ia memerintahkan keadilan dan berlaku lurus serta mencegah mereka dari kezhaliman dan penyimpangan.

[19] Ia mendorong setiap pengikutnya bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam segala sesuatu.

[20] Ia membangkitkan jiwa mukmin agar mengagungkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab ia mengetahui bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah haq, petunjuk dan rahmat,karena itu mereka mengagungkan dan berpegang teguh pada keduanya.

[21] Ia menjamin kehidupan yang mulia bagi pengikutnya. Di bawah naungan aqidah ini akan terwujud keamanan dan hidup mulia. Sebab ia tegak atas dasar iman kepada Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, dan tidak kepada yang lain. Dan hal itu -dengan tidak diragukan lagi- menjadi sebab keamanan, kebaikan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Keamanan adalah sesuatu yang mengiringi iman. Maka, barangsiapa kehilangan iman, ia akan kehilangan keamanan. Allah berfirman : "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [Al-An'am : 82]. Jadi orang-orang yang bertakwa dan beriman adalah mereka yang memiliki kemanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna pula, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang-orang musyrik dan pelaku maksiat adalah orang-orang yang selalu ketakutan. Mereka senantiasa diancam dengan berbagai siksaan di setiap saat.

[22] Aqidah ini menghimpun semua kebutuhan ruh, hati dan jasmani.

[23] Mengakui akal, tetapi membatasi perannya. Ia adalah aqidah yang menghormati akal yang lurus dan tidak mengingkari perannya. Jadi, Islam justru tidak rela jika seorang muslim memadamkan cahaya akalnya, lalu hanya bertaklid buta dalam persoalan aqidah dan lainnya. Meskipun begitu, peran akal tetaplah terbatas.

[24] Mengakui perasaan manusia dan membimbingnya pada jalan yang benar. Perasaan adalah sesuatu yang alami pada diri manusia dan tak seorangpun manusia yang tidak memilikinya. Aqidah ini adalah aqidah yang dinamis, tidak kaku dan beku, ia mengaku adanya perasaan manusia serta menghormatinya, tetapi bukan berarti ia mengumbarnya. Sebaliknya ia meluruskan dan membimbingnya sehingga menjadi sarana perbaikan dan pembangunan, tidak sebagai alat perusak dan penghancur.

[25] Ia menjamin untuk memberi jalan keluar setiap persoalan, baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau persoalan lainnya.

Dengan aqidah ini, Allah telah menyatukan hati umat Islam yang berpecah belah, hawa nafsu yang bercerai berai, mencukupkan setelah kemiskinan, mengajari ilmu setelah kebodohan, memberi penglihatan setelah buta, memberi makan dari kelaparan dan memberi mereka keamanan dari ketakutan.

[Tasharrufan (saduran) dari Mukhtasar Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin AN NUR Thn. IV/No. 139/Jum'at I/R.Awal 1419H]
Share:

Tuesday, August 27, 2013

Apa Itu Sekularisme

Info Mekkah News - Sekularisme merupakan aliran baru dan gerakan yang rusak, bertujuan untuk memisahkan urusan agama dari negara, berjibaku diatas keduniawian dan sibuk dengan kenikmatan dan kelezatan serta menjadikannya sebagai satu-satunyya tujuan di dalam kehidupan ini, melupakan dan melalaikan rumah akhirat dan tidak melirik kepada amalan-amalan ukhrawi ataupun memperhatikannya. Sabda Rasulullah berikut ini sangat sesuai dilabelkan kepada seorang sekuler,

"Artinya : Celakalah budak dinar, budak dirham dan budak khamishah (sejenis pakaian terbuat dari sutera atau wol, berwarna hitam dan bertanda); jika diberi, dia rela dan jika tidak diberi, dia mendongkol. Celaka dan merugilah (sia-sialah) dia dan bila duri mengenainya, maka dia tidak mengeluarkannya" [Al-Bukhari, al-Jihad (2883)]

Setiap orang yang mencela sesuatu dari ajaran Islam baik melalui ucapan ataupun perbuatan maka sifat tersebut dapat dilekatkan padanya. Barangsiapa menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai pemutus dan membatalkan hukum-hukum syari'at, maka dia adalah seorang sekuler. Siapa yang membolehkan semua hal yang diharamkan seperti perzinaan, minuman keras, musik dan transaksi ribawi dan meyakini bahwa melarang hal itu berbahaya bagi manusia dan merupakan sikap apatis terhadap sesuatu yang memiliki mashalahat terhadap diri, maka dia adalah seorang Sekuler. Siapa yang mencegah atau mengingkari penegakan hukum hudud seperti hukum bunuh terhadap si pembunuh, rajam, cambuk terhadap pezina atau peminum khamar, potong tangan pencuri atau perampok dan mengklaim bahwa penegakannya menyalahi sikap lemah lembut dan mengandung unsur kesadisan dan kebengisan, maka dia masuk ke dalam sekulerisme.
Sedangkan hukum Islam terhadap mereka, maka sebagaimana firman Allah Swt tatkala memberikan sifat kepada orang-orang Yahudi,
"Artinya : Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. " [Al-Baqarah :85].
Barangsiapa menerima sesuatu yang setara dari ajaran agama seperti Ahwal Syakhshiyyah (Undang-Undang Perdata), sebagian ibadah dan menolak apa yang tidak sejalan dengan hawa nafsunya, maka dia masuk ke dalam makna ayat ini.

Demikian juga firmanNya.
"Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." [Hud:15-16]
Maka, tujuan utama kaum sekuler adalah menggabungkan dunia dan kenikmatan pelampiasan hawa nafsu sekalipun diha-ramkan dan mencegah dari melakukan kewajiban, maka mereka masuk ke dalam makna ayat di atas dan juga ayat berikut,

"Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." [Al-Isra :18]
Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits semisalnya, wallohu a' lam.

Demikianlah Jawaban yang diberikan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apa itu sekulerisme? Dan bagaimana hukum Islam terhadap para penganutnya?


[Fatawa Fi at-Tauhid, dari fatwa Fadhilatusy Syaikh Ibn Jibrin, h.39-40]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar̢۪iyyah Fi Al-Masa̢۪il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]
Share: