Thursday, December 24, 2015

Jangan Pernah Melakukan Dua Dosa Ini, Karena Dosanya Tetap Mengalir Meski Sudah Meninggal

Info Mekkah News - Sebagai manusia bisa dengan mudah melakukan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena seringnya dilakukan, tindakan tersebut terkadang dianggap biasa sehingga tidak terasa seperti dosa. Padahal dosa bukanlah perkara main-main.

Balasannya mutlak neraka yang sudah disiapkan Allah SWT bagi hamba-Nya yang ingkar. Ternyata, setelah meninggal tanggungjawab terhadap dosa maksiat yang pernah dilakukan tidak terputus begitu saja.

Sumber ; bestfard,wordpress.com
Selama perbuatan maksiat tersebut masih berdampak dan berpengaruh kepada orang lain, maka dosanya akan tetap mengalir kepada pelakunya meski Ia sudah meninggal. Apa saja dosa-dosa tersebut? Berikut ulasannya.

Jika biasanya kita mengenal amal jariyah yang pahalanya mengalir meski sudah meninggal, maka ada juga dosa jariyah yang di janjikan Allah SWT akan diterima manusia. Saat sudah meninggal, seseorang akan tetap mendapatkan dosa karena perbuatannya semasa di dunia masih berpengaruh buruk terhadap orang lain.

Padahal di alam barzah manusia sangat membutuhkan limpahan pahala sebagai pertolongan mereka menunggu hari kiamat. Namun karena dosa jariyah ini mereka justru harus menanggung dosa-dosa yang dilakukan orang lain, akibat pengaruh atas tindakan maksiat yang pernah Ia lakukan semasa hidup.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Lantas apa saja dosa yang akan terus mengalir ini? 


1. Menjadi Pelopor Maksiat
Pelopor merupakan orang yang pertama melakukan suatu tindakan sehingga yang lain turut mengikuti. Pengikutnya bersedia meniru baik dengan paksaan maupun tanpa diminta sama sekali. Kondisi ini akan sangat bagus jika menjadi pelopor untuk tujuan yang baik. Namun bagaimana jika menjadi pelopor maksiat? 

Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang yang menjadi pelopor ini sama sekali tidak mengajak orang di lingkungannya untuk berbuat maksiat serupa. Ia juga tidak memberikan motivasi kepada orang lain untuk mengikutinya. Namun karena perbuatannya ini Ia berhasil menginsipirasi orang lain melakukan maksiat serupa.
itulah mengapa anak nabi Adam, Qabil, yang menjadi orang pertama yang membunuh manusia harus bertanggung jawab atas semua kasus pembunuhan di alam ini. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana dosa yang akan ditanggung pelopor dan pendesign rok mini, baju you can see, penyebar video porno dan masih banyak tindak maksiat lainnya. Sebagai pelopor dosa mereka akan terus mengalir hingga hari kiamat kelak. 


2. Mengajak Orang lain Melakukan Kesesatan dan Maksiat
Berbeda dengan pelopor yang hanya menginspirasi orang lain, orang yang satu ini dengan nyata mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan tindakan maksiat. Merekalah merupakan juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Dalam Alquran Allah SWT menceritakan bagaimana orang kafir kelak akan menerima dosa dari kekufurannya. Belum lagi dengan dosa-dosa orang-orang yang juga mereka sesatkan.

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).”(QS. an-Nahl: 25)

Ayat ini memiliki makna yang sama dengan  hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Contoh mudah terkait hadist ini adalah orang-orang yang menjadi propaganda kesesatan, mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, mengajak masyarakat untuk berbuat kesyirikan dan bid’ah.

Merekalah para pemilik dosa jariyah, lantas bagaimana dosa mereka? Selama masih ada manusia yang mengikuti apa yang mereka serukan, maka selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih banyak melakukan amal shaleh dibanding dosa-dosa maksiat. Karena hidup tidak hanya semata di dunia lalu selesai ketika sudah meninggal. Namun perjalanan masih panjang untuk menuju kehidupan yang kekal.



Sumber : infoyunik.com
Share:

Kenapa Umat Islam Shalat Menghadap Ka'bah? Inilah 5 Jawabannya

Info Mekkah News - Menanggapi pertanyaan, mungkin sebagian kami bingung. Tetapi, Dr. Zakir Naik—seorang ulama populer dari India yang dikenal cerdas serta pakar dalam ilmu perbandingan agama—menjawabnya dengan lugas, cerdas, serta ilmiah.

Berikut merupakan jawaban beliau yang diambil dari buku "Mereka Bertanya, Islam Menjawab: Kumpulan Pertanyaan Mengganjal mengenai Islam yang Tak jarang Diajukan Orang Awam serta Non-Muslim"

Sumber : google.com

"Ka'bah merupakan kiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Butuh dicatat bahwa mesikipun kaum muslimin menghadap Ka'bah dalam salat, mereka tak menyembah Ka'bah. Kaum muslimin hanya menyembah serta bersujud terhadap Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka'bah alias mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan terhadap Allah. Allah-lah yang memerintahkan mereka untuk menyembah-Nya dengan tutorial semacam itu. Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:

'Sungguh Kami (tidak jarang) menonton mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami bakal memalingkan kalian ke kiblat yang kalian sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram serta di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya....'

1. Islam menghendaki persatuan
Ketika kaum muslimin hendak menunaikan salat, bisa sehingga ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan. Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah terhadap Allah maka kaum muslimin di mana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka'bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka'bah, mereka salat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka'bah, mereka menghadap barat. Serta inilah satu satunya agama yang mempunyai Qiblat.

2. Ka'bah merupakan pusat peta dunia
Kaum muslimin merupakan umat pertama yang mengfoto peta dunia. Mereka mengfoto peta dengan selatan menunjuk ke atas serta utara ke bawah. Ka'bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membikin peta terbalik dengan utara menghadap ke atas serta selatan ke bawah. Walau begitu, alhamdulillah, Ka'bah terletak di tengah-tengah peta. Subhanallah..!

3. Tawaf keliling Ka'bah untuk menunjukkan keesaan Allah
Ketika kaum muslimin berangkat ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf alias berkeliling Ka'bah. Lakukanan ini melambangkan keimanan serta peribadahan terhadap satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.

4. Hadits Umar bin Khathab
Mengenai batu hitam, hajar aswad, Umar bin Khathab mengatakan, "Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tak bisa mendatangkan mudarat maupun kegunaaan. Seandainya aku tak menonton Rasulullah menciummu, niscaya aku tak bakal menciummu" (HR. Bukhari). Hadits ini memperlihatkan bahwa Ka'bah bukanlah apa apa (bukan pusat sesembahan).

5. Orang berdiri di atas Ka'bah serta mengumandangkan azan
Pada zaman Nabi, orang bahkan berdiri di atas Ka'bah serta mengumandangkan azan. Coba kami tanyakan terhadap mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka'bah; penyembah berhala mana yang berani  berdiri di atas berhala sesembahannya? pasti saja tak ada. Ini kembali menunjukkan bahwa Ka'bah bukanlah sesembahan ummat Muslim.
Dikutip dari buku "Mereka Bertanya, Islam Menjawab: Pertanyaan Mengganjal mengenai Islam yang Tak jarang Diajukan Orang Awam serta Non-Muslim" terbitan AQWAM

Sumber: Lampuislam.com
Share:

10 Keutamaan Menjadi Seorang Pemaaf


“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. an-Nur [24]: 22)

Sumber: Sidomi.com

Pertama,dapat menyelesaikan perselisihan atau perseteruan. Perselisihan atau perseteruan mungkin timbul lantaran ada pihak yang melakukan perbuatan aniaya dan pihak lain merasa teraniaya. Jika pihak yang bersalah tidak mau meminta maaf, dan pihak yang merasa teraniaya juga enggan memaafkannya, maka perselisihan tersebut akan sulit diselesaikan. Tetapi dengan adanya sifat pemaaf niscaya perselisihan dan perseteruan tersebut dapat didamaikan.



Kedua, dapat menghilangkan rasa benci, dengki dan dendam. Benci, dengki, dan dendam mungkin timbul karena suatu perseteruan yang belum bisa diselesaikan, lalu mendorong pihak-pihak yang berseteru untuk melakukan balas dendam, mencederai dan menghancurkan pihak lawan. Jika masing-masing pihak berlapangdada serta dengan tulus mau berdamai dan saling memaafkan, insya Allah rasa benci, dendam dan dengki tersebut akan bisa dihilangkan.



Contohnya seperti ini:

Bayangkan di rumah, ada anggota keluarga yang kita benci. Sekarang bayangkan kita dalam perjalanan pulang ke rumah.



Ketika sudah di dekat rumah, kita melihat sebuah ambulan terparkir di depan rumah dan para tetangga juga sudah berkumpul. Tentu hal ini membuat kita khawatir dan bertanya-tanya tentang ada apa sebenarnya.



Kemudian kita melihat beberapa petugas dari rumah sakit  membawa stretcher (tandu) keluar dari rumah, kita menghampirinya dan ternyata orang yang kita benci di dalam keluarga-lah yang ditandu keluar dengan stretcher itu. Ternyata orang itu telah meninggal.



Kebencian kita kepada orang itu tentu juga telah hilang. Bayangkan jika orang itu adalah ibu atau saudara kita sendiri, sedangkan kita tidak pernah berkesempatan untuk berbicara dengannya tentang masalah kita, tak pernah punya kesempatan untuk mendapatkan maaf dari mereka, atau memaafkan mereka. Apakah sekarang kita merasa senang? Tentu tidak...



Beberapa orang berpikir bahwa jika mereka menunggu sampai hari kiamat, dimana setiap manusia dapat mengadukan perkaranya dan mendapatkan haknya dengan adil, maka dia akan dapat lebih. Tapi sesungguhnya tidak begitu. Jika kita dapat mengampuni mereka saat berada di dunia, maka kita akan mendapatkan pahala lebih banyak daripada menunggu hingga hari kiamat. Hal ini sudah dijelaskan dalam hadist.



Jika kita menunggu hingga hari kiamat, memang kita dapat menyelesaikan masalah kita dengan orang itu, dan Allah akan memberikan kita sebagian pahala darinya, tapi pahala terbesar yang dapat kita raih adalah dengan memaafkan mereka ketika masih di dunia ini.


Ketiga, dapat menyambung silaturrahim yang telah putus. Dua orang bersaudara atau bertetangga, bisa jadi terganggu komunikasinya sehingga bertahun-tahun tidak saling bertegur-sapa. Padahal pemicunya mungkin sepele, katakanlah gara-gara masalah anak. Namun karena keduanya merasa berada di pihak yang benar dan tidak ada yang mau mengalah, akibatnya silaturrahim antara keduanya menjadi terputus.

Keempat, dapat memperkokoh ukhuwah Islamiyah (persatuan dan kesatuan umat). Di dalam kehidupan umat Islam banyak terjadi perbedaan paham dan pendapat, baik di bidang fiqih maupun bidang-bidang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut kadang sampai menimbulkan konflik dan benturan yang cukup keras. Maka, bila setiap Muslim bersikap pemaaf terhadap saudaranya, berlapang dada dan saling menghormati pendapat yang berbeda tersebut, insya Allah persatuan dan kesatuan umat akan bisandiperkokoh.

Kelima, pemaaf itu dapat menghilangkan rasa permusuhan dan memperbanyak teman. Islam melarang permusuhan antarsesama. Sebaliknya, Islam sangat menganjurkan membangun persahabatan sebanyak mungkin. Untuk itulah Islam menganjurkan sifat pemaaf dan ketulusan hati kepada para pemeluknya, karena sifat pemaaf yang tulus itu akan menghilangkan sifat benci dan dendam, menghilangkan rasa permusuhan dan mempersubur persahabatan.

Keenam, melahirkan sifat tawadu’, menghilangkan sifat sombong dan angkuh. Sifat sombong dan angkuh dapat timbul pada diri seseorang, karena ia merasa lebih dari yang lain, paling baik, paling benar dan paling mampu dalam segala hal. Sifat-sifat ini sering membuat orang enggan meminta maaf, karena ia merasa tidak pernah bersalah, sehingga ia gengsi untuk meminta maaf, bahkan meminta maaf dianggapnya identik dengan kerendahan diri.

Ketujuh, dapat menghapus dosa dan memudahkan jalan ke surga. Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang dan tidak akan memasukkannya ke surga sebelum orang tersebut terlebih dulu menyelesaikan urusannya di dunia, sangkut pautnya dengan orang lain sehingga mereka berdamai dan saling memaafkan.

Kedelapan, menjadikan hati tenang-tenteram. Dosa adalah sesuatu yang membuat pelakunya gelisah, tidak tenang. Apalagi kalau dia telah menyadari betul bahwa perbuatannya itu tidak benar, maka bisa dipastikan, maka hidupnya tidak akan pernah merasa tenang, setiap hari dihantui oleh rasa bersalah atau berdosa. Jika dia telah meminta maaf, dan kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, barulah hatinya akan tenang.

Kesembilan, sifat pemaaf itu akan melahirkan pemaaf juga. Ada orang yang ingin semua kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, sementara dia sendiri enggan memaafkan kesalahan orang lain. Tentu orang lain akan sulit menerima hal itu. Jika kesalahan kita ingin dimaafkan oleh orang lain, maka terlebih dahulu maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain, niscaya orang lain akan memaafkan kesalahan kita.

Kesepuluh, sifat pemaaf itu merupakan bagian dari strategi dakwah yang jitu. Kaum kafir Quraisy demikian dahsyat memusuhi Nabi Muhammad dan umat Islam. Umat Islam di masa itu, selalu diganggu, disiksa bahkan dibunuh.

Tetapi, ketika kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah dan Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW segera melakukan perjanjian damai, memaafkan semua kesalahan semua orang kafir Quraisy. Tindakan Nabi itu, ternyata membuat mereka tersentuh dan terharu, sehingga kemudian mereka berbondong-bondong masuk Islam. 



Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf 7:199)

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. 

 (QS. Al-Fushilat 41:35)

Share:

8 Fakta Mengejutkan Tentang Kelahiran Nabi Muhammad

sumber: adinawas.com
Info Mekkah News - Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia sempurna sebab perilaku dan akhlaknya begitu mulia. Walau telah meninggal ribuan tahun lalu, tetapi ajarannya tak berlalu begitu saja. Islam saat ini justru menembus seluruh penjuru dunia walau tanpa junjungan semesta alam tersebut.

Dalam suatu  hadist dijelaskan bahwa sejak penciptaan Nabi Adam, nama Nabi Muhammad telah tertulis di pintu surga. Kelahiran Rasulullah pada 12 Rabiul Awal itu begitu ditunggu-tunggu dari masa kemasa oleh seluruh penduduk langit dan bumi.

Tidak heran apabila saat kelahirannya terjadi momen-momen alam aneh yang sebelumnya tak sempat terjadi. Ini adalah sambutan atas lahirnya manusia mulia yang begitu ditunggu-tunggu. Apa saja momen tersebut? Berikut ulasannya.

Pada tahun ini hari lahir Nabi Muhammad SAW diperingati setidak sedikit dua kali. Yakni pada 3 Januari 2015 (12 Rabiulawal 1436 H) dan 24 Desember 2015 (12 Rabiulawal 1437 H). Faktor ini terjadi sebab adanya perbedaan penanggalan masehi dan tahun hijriyah.

1. Padamnya Api Majusi


Kaum Majusi adalah agama alias kepercayaan yang memakai api sebagai sesembahan. Api ini tak sempat padam selagi ribuan tahun. Bakal tetapi api mereka tiba-tiba padam saat Nabi Muhammad SAW lahir. Para penganut Majusi berusaha mencoba menyalakan apinya, tapi tetap tak menyala.

Dalam A'lamun Nubuwwah, bahwa Abu Ayyub Ya'la bin Imran An Nahli meriwayatkan dari Makhzum bin Hani' Al Makhzumi dari ayahnya, ia mengatakan,

"Pada malam dilahirkannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bergetarlah istana Kisra hingga setidak sedikit empat belas balkonnya runtuh, api Persi pun padam padahal selagi seribu tahun belum sempat padam, dan air danau Sawah mengering. Faktor itu membikin Kisra ketakutan, lalu ia memakai makhkotanya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Kemudian ia mengumpulkan menteri-menteri dan para pembantunya lalu menceritakan mimpinya tersebut. Kemudian mengatakanlah Al Mubidzan[2], "Adapun saya sendiri, semoga Allah Ta'ala membenahi urusan raja, saya menonton dalam mimpi saya ada unta-unta berat yang menuntun kuda-kuda mahal mengarungi sungai Dijlah lalu mereka menyebar di negeri-negeri kita. Kisra bertanya, "Apa pengertian semua itu hai Mubidzan?"

Ia menjawab, "Sebuah momen besar yang datang dari penjuru Arab."

Maka Kisra menulis surat perintah terhadap An Nu'man bin Al Mundzir, "Kirimkan kepadaku seseorang yang mengenal supaya aku dapat bertanya padanya apa yang aku inginkan."

Maka menghadaplah Abdul Tetap bin 'Amr bin Nafilah Al Ghassany. Sesampainya di hadapan Kisra ia lalu diberitahu mengenai momen yang terjadi. Kemudian ia mengatakan, "Wahai raja, sesungguhnya ilmu mengenai faktor itu ada pada paman saya. Ia tinggal di tahap timur negeri Syam. Namanya Suthaih.

Kisra mengatakan, "Datangi dirinya dan tanyalah dengan apa yang telah aku beritakan kepadamu lalu bawalah jawaban itu kepadaku."

Singkat cerita, Abdul Tetap pun bertanya mengenai abnormalitas yang dilihat oleh Kisra dan Al Mubidzan. Selanjutnya ia mengatakan, "Hai Abdul Masih, apabila telah tak sedikit tilawah (tilawah Alquran), diutus seseorang dari Tihamah (tempat kelahiran Nabi), ada banjir di lembah Samawah, mengeringnya danau Sawah, dan padamnya api Persi, maka Syam bukan lagi negeri Syam bagi Suthaih....." Lalu ia pun meninggal." (Imam Al Mawardi Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Al Habib Al Bashri Al Baghdadi, A'lamun Nubuwwah halaman 182-183)

2. Pasukan Gajah dan Serangan Burung Ababil

Nabi Muhammad lahir pada tahun gajah, sebab bercocokan dengan agresi pasukan Abrahah dari Yaman ke Kabbah. Agresi ini terjadi sebab Raja Abraha merasa kesal Kabbah dikunjungi tak sedikit orang. Akhirnya tentara Abraha memasuki wilayah Mekkah dengan bebas sebab keadaan kota ini sepi.

Nyatanya Allah SWT menyelamatkan Kabbah dengan mengutus burung Ababil untuk mengangkat kerikil Sijjil dari neraka dengan paruhnya. Kerikil itu kemudian dijatuhkan cocok dikepala para pasukan Abraha hingga tembus ke badan hingga mati. Momen ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5).

Pada masa itu lahir junjungan semesta Alam yang diberi nama Muhammad. Sang Nabi Allah ini lahir dalam keadaan Yatim sebab sang ayah telah meninggal saat dirinya berada di kandungan ibunya.

3. Jin Tak Dapat Mencuri Berita


Saat sebelum Nabi Muhammad lahir setan dengan bebas mencuri berita dari langit untuk diberikan terhadap tukang sihir. Tetapi pada malam mulia itu mereka tak lagi dapat mencuri rahasia tersebut. Para setan dihadapkan deng panah api setiap kali bakal mencuri berita.

Setan-setan ini kemudian berkumpul dan menginformasikan keganjilan tersebut terhadap Iblis.

"Dahulu kami dapat naik ke langit, tetapi kali ini kami telah di larang untuk naik"

Iblis menjawab; "Menyebarlah anda di muka bumi, dari barat hingga timur, dan perhatikan dengan akurat apa yang sebetulnya telah terjadi!"

Seusai menyebar ke penjuru dunia hinggalah mereka ke Kota Mekah. Di sana tampak seorang bayi yang sedang dikelilingi para malaikat dan memancarkan sinar dari dalam dirinya yang mencuat ke atas langit. Para malaikat pun sibuk memberi salam terhadap junjungan alam tersebut.

Kemudian setan-setan itu kembali menghadap Iblis, sambil menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan itu.Maka Iblis pun berteriak dengan suara yang sangat keras;

"Aaaaah, telah keluar “ayatul 'alam” dan rahmat bagi anak cucu Adam, sebab itulah anda telah dicegah untuk naik ke langit, tempat pandangannya dan pandangan umatnya!!"

4. Salam Burung-Burung


Seolah memberi salam atas kelahiran manusia yang ditunggu-tunggu, burung-burung di atas langit Mekah sibuk bersaut-sautan berkicau saat kelahiran Nabi.

5. Berhala Bersujud


Pada saat Nabi lahir berhala yang selagi ini disembah mendadak bersujud. Faktor ini diriwayatkan oleh Abdul Muthalib yang mengatakan, "Sewaktu ku berada di dekat kakbah, patung berhala yang ada di dalam kakbah tiba-tiba jatuh tersungkur dari tempatnya dalam bentuk bersujud terhadap Allah Ta'ala. Aku juga mendengar suara dari dinding kakbah, 'Nabi terpilih telah lahir yang bakal menghancurkan orang-orang kafir, dan membersihkan aku dari berbagai patung berhala, dan memerintahkan untuk menyembah terhadap Dzat Yang Merajai Alam ini."

6. Suara dari Kakbah


Pada saat Rasulullah lahir, terdengar suara di Kabbah yang berbunyi "Katakanlah telah datang kebenaran (Islam) dan tak bakal mengawali kebatilan, juga tak bakal mengembalikan kekufuran."

7. Aminah Tak Merasa Letih


Hal ajaib lagi terjadi pada Aminah, sang Bunda Nabi. Tak sama dengan wanita pada umumnya yang keletihan dan kepayahan saat mengandung, maka faktor ini tak dirasakan oleh Aminah. Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa selagi mengandung Rasulullah SAW, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya pada bulan Rabi’ul Awwal.

Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal menjadi pemimpin agama yang besar.

Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mendapat derajat paling tinggi di segi Allah.

Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mendapatkan kemenangan dunia dan akhirat.

Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mendapatkan pangkat dan derajat yang besar di segi Allah.

Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mempunyai kehebatan dan mu’jizat yang besar.

Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mendapatkan derajat yang besar di segi Allah.

Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mempunyai Syafaat dan Telaga Kautsar.

Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal menjadi penutup para Nabi dan Rasul.

Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu bakal mengangkat Al-Qur’an yang diridhai.

Semua Nabi yang datang rutin beramanat supaya nanti apabila telah lahir mereka memberi nama anaknya dengan Nama Muhammad. Faktor ini rupanya terbesit di hati Abdul Muthalib, sang kakek yang kemudian memberinya nama Muhammad. Padahal dikalangan Quraisy nama tersebut sangat asing dan biasanya lebih memilih nama-nama dari leluhur mereka. Tetapi sang kakek mempunyai argumen lain, “Aku berharap ia bakal menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.” ungkapnya.

8. Tamu Agung Penghuni Surga


Saat proses kelahiran Nabi, Aminah juga di datangi oleh para penghuni surga. Mereka menolong proses lahirnya Nabi Muhammad. Ada 2 wanita yang sehingga perhatian Aminah, mereka memberi salam dan menyebut dirinya Asiya (istri Raja Fir'aun) dan Maryam (ibu Nabi Isa a.s.).

Terbukti, alam bergemuruh saat sang Tuan Rasulullah hadir ke dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy faktor 192 dan 193

Sesungguhnya (pada saat kelahiran Tuan Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar luar biasa menarik meluapkan ketersanjungan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga terus tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar terhadap Allah SWT dengan mengucapkan; Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) terhadap Allah SWT..”

12 Rabiul Awal cocok bakal jatuh pada 24 Desember 2015. Sungguh hina lah kami apabila seluruh Alam memujinya dan menghormatinya, sementara kami pelit untuk bersalawat. Padahal tak ada yang paling berharga bagi Nabi Muhammad SAW tidak hanya kita, Umatnya.

“Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa alihi Washahbihi Wasallim”

Sumber: (Kitab Nurul Musthofa Jilid 1, Habib Murtadho bin Abdullah bin Ahmad Al-Kaff)


Sumber: Infoyunik.com
Share:

Umat Islam Ini Diusir Nabi Muhammad Ketika Diakhirat, Ini Alasannya

Info Mekkah News - Hari kiamat merupakan sebuah peristiwa yang pasti akan terjadi. Ketika alam dunia sudah berakhir, maka manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar. Di tempat ini miliaran manusia akan berkumpul untuk ditimbang amal baik dan amal buruknya.

Kondisi di Padang Mahsyar digambarkan dalam sangat kacau dan masing-masing memikirkan diri sendiri. Terlebih matahari saat itu berada berada 1 mil di atas kepala sehingga kondisi sangat panas.  Beruntung Nabi Muhammad dengan kasih sayangnya memberikan pertolongan kepada umatnya berupa Syafaatnya.


Namun ada umat Islam yang akan diusir oleh junjungan semestas alam ini. Karena kesalahannya selama di dunia, Rasulullah pun enggan didekati mereka. Siapa orang Islam diusir Nabi Muhammad saat di akhirat? Berikut ulasannya.

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengisahkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim. Saat itu Rasulullah SAW sedang berjalan melewati kuburan dan mengucapkan salam:

“Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian“.

Rasulullah SAW kemudian bersabda: “aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku“.

Hal ini cukup membuat para sahabat heran. Mereka kemudian bertanya kepada Nabi   “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab :

“Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah ummatku yang akan datang kelak“.

Sahabat kemudian bertanya lagi :  “wahai rasulullah, bagaimana engkau dapat mengenali ummatmu yang sampai saat ini belum terlahir?“. Beliau menjawab:

“Menurut pendapat kalian, andai ada orang yang memiliki kuda yang di dahi dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?”

Para sahabat menjawab : “tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“. Maka Rasulullah menimpali jawaban mereka dengan bersabda:

“Sejatinya ummatku pada hari qiyamat akan datang dalam kondisi wajah dan ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka berwudlu semasa hidupnya di dunia“.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa nantinya Ia akan menunggu umatnya di pinggir telaganya di alam Mahsyar.  Namun Rasulullah menjelaskan bahwa diantara umatnya nanti akan ada yang diusir malaikat. Mereka seperti onta yang kehilangan sang pemilik sehingga mendatangi tempat-tempat minum orang lain namun akan diusir.

Namun Rasulullah SAW mengetahui bahwa mereka adalah umatnya karena memiliki tanda pernah berwudhu. Nabi pun kemudian akan memanggil mereka. Namun para Malaikat yang mengusir mereka dan berkata:

"Aku adalah pendahulu kalian menuju telaga. Siapa saja yang melewatinya, pasti akan meminumnya. Dan barangsiapa meminumnya, niscaya tidak akan haus selamanya. Nanti akan lewat beberapa orang yang melewati diriku, aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku, namun mereka terhalangi menemui diriku." Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya mereka termasuk umatku." Maka dikatakan, "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui perkara yang telah mereka rubah sepeninggalmu." Kemudian aku (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) bersabda: "jauhlah, jauhlah! bagi orang yang merubah (ajaran agama) sesudahku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Meninggalkan ajaran Nabi serta mengubahnya merupakan tindakan mengikuti musuh-musuh Allah SWT. Mereka bahkan memiliki slogan atas nama kemajuan jaman, modernisasi, kebudayaan dan peradaban. Agama Islam hanya bepegang pada dua hal, yakni Alquran dan hadist. Jika menyimpang selain itu, maka jangan pernah berharap untuk bisa minum di telaga Nabi Muhammad di Padang Mahsyar kelak. Wallahu a'lam bissawab.


Sumber : infoyunik.com
Share:

Kenapa Orang Dzolim Kok Hidupnya Selalu Enak? Ini Jawabannya..

Info Mekkah News - Diantara kita mungkin pernah berfikir kenapa orang yang telah berbuat dzolim, ingkar dan menyakiti orang lain tetap hidup makmur dan bebas? Berbeda dengan orang yang beriman yang justru tidak henti-hentinya mendapat cobaan dalam berbagai bentuk dari Allah SWT. Lantas, adakah alasan Allah SWT melakukan demikian?

Pertanyaan ini tanpa disadari dapat mengundang diri untuk mempertanyakan keadilan Allah.   Walau kondisi  seseorang tidak sebaik mereka, yakinlah Allah telah menyelamatkan diri tidak diserupa dengan mereka dan masih memberi kekuatan diri untuk terus beribadah kepada-Nya.
Sumber : id.gofreedownload.net

Lantas mengapa orang yang sudah zalim dan ingkar kepada Allah masih diberikan rezeki, kesehatan, tidak ditampakkan dosanya dan tidak disegerakan sangsi kepadanya. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Saad bin Hilal berkata bahwa meski dzalim dan selalu melanggar perintah Allah, orang dzalim tetap tetap memberinya 4 anugerah kepadanya:

1. Orang dzalim tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki
Allah SWT memiliki sifat Rahman yakni kasih Allah pada semua manusia, dan rahiim kasih sayang Allah hanya untuk orang beriman saja kelak di akhirat. Nah orang dzalim mendapat kasih sayang berupa rahman, jadi meski Ia dzalim atau kafir, tetap saja mendapatkan nikmat Allah ini. Namun Rahman  Allah itu hanya sebatas di dunia saja. 

Akan tetapi orang dzalim tidak akan mendapatkan sifat rahiim, karena sifat ini hanya untuk kasih sayang Allah hanya untuk orang beriman dari mulai di dunia dan di akhirat. Seperti dalam surat Al-Israa’ ayat 20 berikut ini. 

Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu  Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (Q.S. Al-Israa’ [17] : 20).

Orang dzalim  adalah orang yang menginginkan kehidupan di dunia saja. Mereka bahkan disegerakan diberi keduniawaian sebagaimana yang mereka minta.

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S. Al-Israa’ [17] : 19).

Perhatikan secara jelas dan seksama orang zalim itu, tentu bukan dengan pandangan kedengkian karena kelebihan materi mereka, apakah sejujurnya mereka bahagia dan tenang dengan harta yang didapatnya itu, lantas bagaimana kehidupan keluarganya.

Ternyata ketenangan dan kebahagian hanya muncul dipermukaan, namun didalamnya hati mereka sudah tentu gersang. Manifestasinya terlihat dengan  tiada henti mereka mengejar kedudukan, kekayaan dan kelezatan hidup. Apa yang sudah didapat walau melimpah, masih terus dianggap kurang.

Dengan demikian tidak perlu kuatir dengan orang zalim yang malah mendapatkan apa apa yang mereka inginkan di dunia. Jika tiba waktunya yang dijanjikan Allah maka segala harta kekayaannya tidak dapat dijadikan penebus untuk membebaskan dirinya dari siksanya yang pedih yang telah disiapkan Allah.

2. Orang dzalim tidak terhalang untuk mendapat kesehatan
Sifat Allah Rahman juga berlaku untuk kesehatan. Setiap orang yang dzalim tidak terhalang untuk mendapat kesehatan. Selain karena izin Allah SWT, kesehatan didapat karena dibarengi dengan pola hidup sehat dan olahraga. 

Bagi mereka yang dzalim namun tetap menjaga pola hidupnya, maka  Allah SWT tetap menganugerahkan kesehatan karena usahanya tersebut. Akan tetapi ini tidak berlaku jika Allah menginginkan hambanya yang dzalim sakit, meski Ia telah menjaga pola hidup sehat dan berolahraga, namun akan tetap mengalami sakit dengan izin Allah. 

3 Allah tidak akan menampakkan dosanya semasa hidup di dunia
Allah tidak akan memperlihatkan dosa semasa di dunia kepada orang dzalim. Ia hanya akan mengetuk pintu bagi orang terpilih tentang beratnya azab neraka terhadap dosa yang telah dilakukan di dunia.

Memperlihatkan dosa semasa hidup juga termasuk nikmat Allah, bagaimana tidak, dengan begitu manusia akan mengingat kematian dan akhirnya beralih menjadi lebih baik lagi. Namun kepada orang dzalim, Allah tidak menganugerahkan hal tersebut. Mata hati mereka tertutup dan tidak bisa melihat dosa-dosa yang telah mereka lakukan. 

4. Allah tidak menyegerakan hukumannnya di dunia
Bagi mereka yang dzalim, Allah juga tidak menyegerakan hukumannnya di dunia. Namun hal ini bukan berarti orang dzalim luput dari pengawasan Allah SWT. Allah hanya menangguhkan atas mereka. Terhadap rahmatNya  yang tetap diberikan kepada manusia yang jelas-jelas ingkar, menunjukkan kesabaran Allah atas semua ciptaan-Nya.

Firman Allah: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,  (Ibrahim :42)

Firman Allah : Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. (Al Anam : 120)

Dengan demikian tidaklah usah irilah dengan mereka karena Allah hanya menangguhkan. Bukan kah hidup di dunia hanya sementara, di sinilah kita diwajibkan mendapatkan bekal untuk mendapatkan surga di akhirat kelak.


Sumber : infoyunik.com
Share:

8 Dosa Penyebab Sulit Mendapat Jodoh, No 2 Mungkin Sering Kita Lakukan

Info Mekkah News - Jodoh merupakan ketetapan Allah SWT dan menjadi rahasia tanpa seorang pun mengetahuinya secara pasti. Terkadang ada yang sudah menjalani hubungan lama, tiba-tiba kandas karena alasan sepele. Sementara dua orang yang terpisah jauh, kemudian menjadi suami istri tanpa diduga sebelumnya.

Tingkat kesulitan manusia dalam mendapatkan jodoh berbeda-beda. Ada yang dimudahkan, ada pula yang hingga kini tak kunjung menemukan pasangan hidupnya. Padahal usianya sudah memasuki umur yang matang dan siap menjalani rumah tangga. 


Sumber : griyawisata.com
Jika jodoh adalah urusan Allah, maka tidak kunjung dapat jodoh juga disebabkan karena Allah. Hal ini biasanya terjadi karena dosa yang dilakukan pribadi manusia. Dosa-dosa ini tanpa sadar menutup rezeki mereka untuk mendapatkan pasangan hidup. Berikut ini rangkuman dosa yang dapat menghalangi jodoh. 

1. Syirik

Syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan selain-Nya. Terkadang usaha kita dalam mendapatkan jodoh justru mengarah ke arah syirik yang semakin membuat jodoh menjauh. Misalnya saja menginginkan jodoh dengan datang ke dukun, tukang ramal, atau memakai jimat-jimat atau bacaan menyesatkan. 

Periksalah bagaimana kualitas kita selama ini dalam menjalankan hubungan dengan Allah. Misalnya salat yang masih bolong-bolong, atau bermalas-malasan mengerjakan salat. Tidak heran jika Allah juga membalas umatnya dengan melambatkan jodohnya juga. 

Maka dari itu, untuk mendapatkan jodoh maka harus memperbaiki   hubungan dengan sang pemberi jodoh, Allah SWT,  setelah itu baru berikhtiar mencari hubungan perjodohan.

“Janganlah sekali-kali kamu diperdayakan dunia & diperdayakan para penipu yang mengatasnamakan Allah” (QS 31:33)

Jika pun mereka di datangkan jodoh, maka biasanya akan dipertemukan dengan mereka yang syirik juga. Bisa saja anda mendapat jodoh, namun justru membuat hidup anda tidak tentram & tidak berkah. Pasalnya akan berlaku hukum keseimbangan Allah dalam perjodohan, dimana laki-laki dan perempuan harus memiliki nilai yang sama di mata Allah SWT.

“….musyrik laki2 berjodoh dengan musyrik perempuan, laki2 yang berperilaku buruk dengan perempuan yang berperilaku buruk juga.” ( QS 24:3&26)

2. Jarang Shalat dan Melalaikan Shalat
Salat merupakan gerbang menuju Allah SWT. Ini adalah perintah wajib yang harus dijalankan umat Islam tanpa ada alasan untuk meninggalkannya. Jarang salat artinya Allah juga tidak cepat dalam merespon doa manusia terhadap jodoh. 

Hal ini juga berlaku bagi mereka yang salat namun kerap menunda-nunda hingga masuk waktu akhir. Karena urusan dunia, biasanya manusia lupa untuk menunaikan ibadah wajib yang satu ini. Sehingga Allah juga tidak akan memprioritaskan mereka yang telah melalaikan-Nya.

“Maka kecelakaanlah bagi orang2 yang shalat (yaitu) orang2 yang lalai dari shalatnya.” (QS 107:4-5)

3. Berzina
Berzina merupakan perbuatan keji yang sangat dibenci Allah. Bahkan dalam sebuah riwayat menceritakan kisah Nabi Musa yang menolak wanita yang bertobat karena telah melakukan dosa zina. Hal ini menandakan bahwa perbuatan zina sangat merusak hubungan manusia dengan Allah, termasuk untuk urusan jodoh.

Jujurlah pada diri, apakah anda pernah melakukan perbuatan tersebut? Jika iya bersegeralah taubat nasuha karena Allah SWT selalu memberikan ampunan kepada hamba-hambanya. Karena siapa yang melakukan hal demikian, mereka akan mendapatkan balasan langsung di dunia salah satunya dijauhkan dari jodohnya. 

4. Dosa kepada Orang Tua
Orang tua merupakan perwakilan Allah SWT di dunia. Keridhaan mereka akan menjadi ridha Allah, sehingga jika kita melakukan dosa terhadap orang tua, maka Allah akan menutup sumber rezeki kita termasuk urusan jodoh. 

Perlu diketahui bahwa berkata “ah” saja kepada orang tua sudah membuat Allah marah, apalagi jika melakukan dosa lebih dari itu.  Hal ini termasuk doa besar yang menjauhkan rahmat Allah termasuk jodoh.  

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. 17:23).

5. Hubungan Silaturahmi yang Putus
Bagi anda yang sulit jodoh, ada baiknya anda memeriksa hubungan anda dengan kerabat. Pasalnya salah satu penjauh rahmat adalah putusnya tali silaturahmi antar sesama kerabat. 

“Sesungguhnya orang2 mukmin itu bersaudara. Karena itu peliharalah persaudaraan dan peliharalah diri anda dihadapan Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.49:10)

6. Bergunjing dan Mengadu Domba 
Ternyata aktivitas yang kerap dilakukan ini menjauhkan manusia dari jodoh, Ya menggunjing juga mengakibatkan sesoorang dijauhkan dari jodohnya. Apalagi jika sudah mengarah kepada adu domba yang berujung pada fitnah.  

“Hai orang2 yang beriman, jauhilah kebanyakan kecurigaan, karena sebagian dari kecurigaan itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (QS 49:12)

7. Makan Rezeki yang Haram
Perkara haram juga dapat menjauhkan jodoh. Jika saat ini masih sulit jodoh, maka periksalah rezeki yang kita makan. Apakah sudah dicari dengan jalan halal, atau masih haram. Jika pun sudah halal, sudah kah kita menunaikan untuk mengeluarkan zakat. Karena sebenarnya, dalam harta kita terdapat hak-hak orang lain yang harus kita keluarkan. 

8. Kikir
Salah satu cara mendapatkan jodoh adalah dengan memperbanyak sedekah. Jadi sebenarnya, jika kita tidak bersedekah, maka akan menghambat rahmat Allah yang lain. Salah satunya adalah jodoh. Banyak kisah-kisah tentang orang-orang yang menjemput jodoh dengan sedekah ini.


Sumber : infoyunik.com
Share:

Wednesday, December 23, 2015

3 Kelompok Orang Yang di Salami Malaikat, Siapa Saja?

Info Mekkah News - Sebagai anugrah atas pengorbanan dan kesungguhan menjalankan mandat kehambaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, maka ada karunia yang diberbagi untuk hamba-hamba yang taat ini. Orang-ornag dalam kategori ini diberbagi peluang untuk bisa merasakan jabat tangan dengan makhluk Allah yang taat pula, yakni para malaikat.

Dalam suatu  hadits disebutkan bahwa ada tiga kelompok manusia yang bakal berjabat tangan dengan para malaikat. Mereka itu adalah para syuhada, orang mukmin yang bertahajud pada bulan Ramadhan, dan mereka yang berpuasa pada hari Arafah.

Sumber : google.com

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sempat bersabda, “Tiga kelompok bakal berjabat tangan dengan malaikat sewaktu dibangkitkan dari kuburnya. Mereka itu adalah para syuhada, orang-orang mukmin yang bertahajud pada bulan Ramadhan, dan mereka yang berpuasa di hari Arafah.”

Ketiga kelompok ini adalah makhluk Allah yang memperoleh perlakuan istimewa sebab selagi di dunia mengabdikan umur mereka untuk menjadi hamba Allah yang sejati.

Para syuhada adalah orang-orang yang dengan rasa optimis dan percaya diri bahwasanya meneyerahkan seluruh nasib dan mati mereka hanya di jalan Allah. Mereka sangat bersemangat ketika wajib berkorban untuk kepentingan agama. Sebab itu, nyawa sekalipun mereka serahkan demi tegaknya agama Islam. Dan apresiasi berupa memperoleh peluang untuk berjabat tangan dengan para malaikat adalah suatu  kehormatan yang diberbagi terhadap mereka.

Demikian pula orang-orang yang mengoptimalkan seluruh malam dari bulan Ramadhan untuk meperbuat ibadah shalat Tahajjud, turut memperoleh peluang emas ini. Bagi orang-orang ini, Ramadhan adalah bulan peluang emas untuk senantiasa bermunajat terhadap Allah. Kalau kemudian Allah memberbagi peluang spesial untuk berjabat tangan dengan malaikat, maka itu adalah anugrah yang layak diberbagi terhadap mereka.

Demikian juga orang-orang yang memperhatikan hari-hari penting dalam perjalanan nasib mereka. Contoh momen yang tak kalah penting adalah hari Arafah. Sebab pada hari itu tak sedikit sekali pesan-pesan keagamaanyang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terhadap para umatnya. Hingga-sampai dalam ibadah fiqih, mendatangi Arafah adalah ritual penentu syah alias tidaknya seseorang dalam menjalankan ibadah haji.

Sekali lagi diberinya peluang oleh Allah untuk berjabat tangan dengan malaikat adalah anugrah yang selayaknya diterima oleh ketiga golongan tersebut.

Disambut Malaikat Ridhwan

Disebutkan, bahwa apabila hari kiamat telah tiba, dan seluruh umat manusia dibangkitkan dari kuburnya, maka Allah mewahyukan terhadap malaikat Ridhwan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang berpuasa dalam keadaan lapar dan dahaga. Sambutlah mereka dengan segala kenikmatan dan kelezatan yang ada di dalam surga.

Maka malaikat Ridhwan terbuktigil para jejaka dan anak-anak yang bilangannya lebih tak sedikit dari tetesan hujan, bintang-bintang di langit, dan daun-daun pohon.

Lalu mereka berdatangan sambil mengangkat baki-baki yang terdiri dari cahaya yang bergemerlapan, berisikan buah-buahan, makanan yang bersih lagi tak sedikit, dan minuman-minuman yang lezat. Itu semua dihidangkan terhadap mereka denan penuh penghormatan dan dengan ucapan: Makan dan minumlah dengan selezat-lezatnya, sebagai balasan dari hari-hari yang telah berlalu.”

Diriwayatkan bahwa Rasulullh shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Apabila hari kiamat telah tiba, bakal ada sekelompok manusia yang bersayap-sayap burung. Mereka terbang dan berhinggapan di psupaya-psupaya surga. Lalu malaikat juru kunci surga bertanya, ‘Siapakah anda semua ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.’ Malaikat juru kunci surga bertanya, ‘Telahkah anda menjalani hisab?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Malaikat juru kunci surga bertanya lagi, ‘Telahkah anda melalui sirath?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Malaikat juru kunci surga bertanya lagi dengan apa mereka memperoleh derajat seperti ini. Mereka menjawab, ‘Kami beribadah terhadap Allah dengan tutorial yang samar (secara sembunyi-sembunyi). Dan kita dimasukkan ke dalam surga dengan rahasia pula.’” (Dalam kitab Zubdatul Wa’idiin)

Sumber: Lampuislam.org
Share:

Inilah Tingkatan-Tingkatan di Dalam Neraka

Info Mekkah News - Neraka merupakan tempat dimana Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan orang-orang yang ingkar kepada-Nya ke dalamnya. Mereka disana bakal menjalani siksaan yang mengerikan dikarenakan apa yang telah mereka lakukan di dunia. Kulit mereka bakal dihanguskan oleh panasnya api neraka. Serta seusai kulit mereka hangus, maka Allah bakal menjadikan kulit mereka semacam semula kembali, untuk kemudian dibakar lagi oleh api neraka. Serta semacam itulah siksaan yang bakal mereka rasakan di dalamnya berulang-ulang. Oleh sebab itu, telah sepatutnya selagi kami tetap nasib di dunia ini mematuhi apa-apa yang diperintahkan Allah serta menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan semaksimal mungkin dengan andalan supaya dijauhkan dari siksa neraka.

Sumber : google.com


Ketika kami menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai siksa neraka, jelas bahwa panas api neraka bertingkat-tingkat, serta begitu juga dengan azab alias hukuman yang disiapkan Allah subhanahu wa ta’ala bagi para penghuninya. Jadi, neraka bukan hanya terdiri atas satu tingkat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya orang-orang yang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah di neraka...” (Qs. An-Nisa’[4]: 145)

Mengenai tingkatan-tingkatan yang tersedia di surga serta neraka, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan masing-masing bakal mendapatkan derajat yang selaras dengan amal mereka...” (Qs. Al-An’am[6]: 132)

“Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali mengangkat kemurkaan (yang besar) dari Allah serta tempatnya merupakan jahannam? Serta itulah sekurang baik-kurang baik tempat kembali! (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di segi Allah, serta Allah Maha Menonton apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Ali Imran[3]: 162-163)

‘Abd ar-Rahman ibn Zaid ibn Aslam mengatakan, “Tingkatan-tingkatan dalam surga terus meninggi, sementara tingkatan-tingkatan dalam neraka terus merendah.” [1]

Sebagian ulama salaf meriwayatkan bahwa para Muslim yang masuk neraka sebab dosa-dosa mereka bakal ditempatkan pada tingkat pertama, orang-orang Yahudi pada tingkat kedua, orang-orang Kristen pada tingkat ketiga, kaum Sabi’in pada tingkat keempat, kaum Zoroaster pada tingkat kelima, orang-orang Arab musyrik pada tingkat keenam, serta orang-orang munafik pada tingkat ketujuh. Beberapa kitab memberbagi nama-nama yang tak sama terhadap tingkatan-tingkatan di neraka: tingkat pertama disebut jahannam, kedua lazha, ketiga huthamah, keempat sa’ir, kelima saqar, keenam jahim, serta ketujuh hawiyah.

Namun, tak ada dalil bahwa para penghuni neraka terbagi ke dalam tingkatan-tingkatan menurut nama-nama tersebut. Yang benar merupakan bahwa semua nama tersebut—jahannam, lazha, huthamah, serta seterusnya—merupakan nama-nama lain untuk menyebut neraka dengan cara keseluruhan, serta nama-nama tersebut tak ada hubungannya dengan salah satu tingkatan alias tahap dari neraka. Kami juga mengenal bahwa para penghuni neraka bakal ditempatkan di beberapa tingkatan neraka menurut besarnya dosa serta tingkat kekafiran mereka.

Referensi: Al-Asyqar, 'Umar Sulaiman (2001). Surga serta Neraka. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta




Sumber: Lampuislam.org
Share:

Ingin Melihat Wajah Allah SWT di Akhirat, Lakukan Tiga Amalan Ini

Info Mekkah News - Salah satu kenikmatan manusia saat berada di surga adalah dapat melihat wajah Allah SWT. Ini merupakan puncak kenikmatan yang dirasakan oleh makhluk karena bisa melihat wajah Rabb-nya secara langsung.

Hal ini tercantum dalam Alquran dan kitab-kitab aqidah para ulama berdasarkan hadist Nabi Muhammad SAW, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka kepada Allah sewaktu di dunia.
Sumber : aliffiyanto.wordpress.com

Namun, bukan sebuah perkara mudah untuk bisa mendapatkan kenikmatan ini. Melainkan dengan usaha berupa amal saleh saat menjalani kehidupan di dunia. Berikut ini tiga amalan yang bisa dilakukan manusia agar kelak di akhirat dapat melihat wajah Allah SWT. 

1. Iman dan Ihsan (Merasa Selalu Diawasi oleh Allah)
Iman dan ihsan menjadi pintu untuk bisa melihat wajah Allah SWT. Dengan Iman dan ihsan seorang mukmin akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap ibadahnya. Seakan-akan dia melihat-Nya dengan hatinya di saat beribadah kepada-Nya. Maka ganjarannya adalah dengan melihat wajah Allah dengan mata kepala di akhirat.

Penghulu Ulama` Madzhab Hanabilah, Al-Hafiz Ibn Rajab al-Hanbali Rahimahullahu Ta’ala berkata, bahwa “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS Yunus : 26 yang artinya: 

“Bagi orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).” (QS Yunus [10]: 26)

Telah sahih dalam Ṣaḥīḥ Muslim dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menafsirkan ziyādah (tambahan) dalam ayat ini dengan melihat wajah Allah di Surga. 
“Wajah–wajah orang-orang yang beriman pada hari itu berseri–seri kepada Rabbnya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

2. Menjaga Salat Subuh dan Ashar
Amalan selanjutnya yang dapat membuat manusia dapat melihat wajah Allah di akhirat adalah menjaga salat Subuh dan Ashar. Salat merupakan ibadah wajib yang paling mulia dan bisa mengantarkan seorang hamba untuk meraih kenikmatan melihat Allah.

Dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat ke arah bulan di malam purnama seraya berkata, ’Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak samar dalam melihatnya. Jika kalian mampu untuk tidak meninggalkan salat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan salat sebelum terbenamnya matahari (Asar), maka lakukanlah.” (HR al-Bukhari: 7434, Muslim: 1432)

Nabi Muhammad menjelaskan secara jelas bahwa ada hubungan erat antara menjaga salat dan rukyah (melihat Allah). Nabi dalam hadist ini menjelaskan bahwa melihat wajah Allah SWT bukan sekedar angan-angan, melainkan sebuah kepastian yang hanya akan didapatkan kesungguhan dalam beramal dan menjalankan ibadah. Rasulullah SAW juga mengajarkan kita agar memperhatikan dan menjaga dua salat yang agung yaitu salat Fajar (Subuh) dan salat Asar yang memiliki banyak keutamaan dan berat bagi orang munafik.


3. Doa
Berdoa merupakan ibadah yang mulia dan menunjukan bagaimana kesungguhan Hamba dalam meminta kepada Rabb-nya. Ternyata Rasulullah SAW juga telah mengajarkan kepada umatnya sebuah doa yang agar bisa “ melihat Allah” di kahirat nanti. 

“Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia) tanpa ada mara bahaya dan fitnah yang menyesatkan.” Diriwayatkan oleh al-Nasa’i: 1305, al-Bazzar: 1393, Ibn Hibban: 1971 dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ 1301.

Baginda Rasulullah memunajatkan doa ini dalam ibadah yang paling utama yaitu salat. Semoga kita umat mukmin dapat senantiasa melaksanakan tiga amalan ini. Karena tiada kenikmatan yang paling utama, selain melihat maha berkuasanya sang Pencipta, Allah SWT.

Sumber : infoyunik.com
Share: