Sunday, December 27, 2015

Inilah Golongan Keluarga Yang Akan Kembali Berkumpul Disurga

Info Mekkah News - Keluarga merupakan pondasi awal yang membangun generasi dalam Islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga memiliki peranan yang sangat penting untuk melakukan hal tersebut. Sebab, berawal dari sebuah keluargalah seorang anak menjadi baik atau buruk.

Setiap keluarga seharusnya berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadist. Dengan demikian, maka barulah keluarga tersebut akan menjadi keluarga yang selalu berada di dalam naungan Allah SWT. Selain itu, mahligai rumah tangga yang selalu berada di jalan Allah akan membawa mereka menuju surga.
Sumber : dakta.com


Ternyata, di surga kelak ada golongan keluarga yang akan berkumpul sama halnya seperti saat mereka berada di dunia. Golongan keluarga yang bagaimanakah yang akan berkumpul bersama di dalam surga? Penasaran? Mari simak ulasan selengkapnya di sini.

Golongan keluarga yang bisa berkumpul di surga kelak adalah yang semua anggota keluarganya merupakan hamba Allah yang beriman. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka” (QS At-Thuur: 21)

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. “Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat)-mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan bisa menolong engkau sedikitpun di akhirat nanti,” tegas Rasulullah saw.

Itulah nasihat yang diberikan oleh Rasulullah SAW untuk anaknya Fatimah. Memang sebagai orangtua bahkan seorang nabi sekalipun tidak dapat memberikan garansi kepada anak-anaknya untuk menjadi penghuni surga, kecuali anak tersebut mau berusaha mendapatkan surga tersebut.

Kejadian nyatanya bisa dilihat dari kisah Nabi Nuh as. Beliay berpisah dengan anaknya karena si anak tersebut tidak mau mengikutinya beriman kepada Allah SWT. Bahkan ketika air banjir datang, anaknya timbul tenggelam dipermainkan oleh air bah. Sebagai seorang ana, tentu nabi Nuh as tidak tega untuk melihatnya. Lalu beliau pun berdoa kepada Allah SWT:

“Ya Rabbi, itu anakku adalah keluargaku. Sungguh janji Engkau benar, dan hanya Engkau Hakim yang Maha Adil,” pinta Nuh as.

Allah swt menjawab: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah tergolong keluargamu, karena dia tidak beramal sholeh. Maka janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya,”.

Hal tersebut membuktikan bahwa sekalipun anak kandung dari Nabi Nuh as, akan tetapi jika ia tidak beriman, maka Allah SWT mengatakan bahwa anak tersebut bukanlah termasuk anggota keluarganya.

Sebagai orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak mereka. Hal ini harus dilakukan bersama istri, agar kelak keluarga tersebut dapat berkumpul di surga Allah SWT. Selain itu, jangan lupa berdoa agar mendapatkan kebahagian tersebut.

Sebab, pada dasarnya kebahagiaan hakiki itu adalah ketika kita bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan beriman dan bertakwa saat di dunia dan akan berhasil pula berumpul d surga Allah SWT.

Namun ingatlah akan Hadits Nabis saw: “Nanti di hari Kiamat, seseorang suami diseret ke tengah-tengah Padang Mahsyar. Bergelayutan isteri dan anak-anaknya di lengan kanan dan lengan kirinya,”

Ketika dihisab, ternyata sang suami bisa masuk surga, lantaran amalnya cukup. Sementara sang isteri dan anak-anaknya dinyatakan masuk neraka, lantaran kurang amal saat di dunia.

Lalu sang isteri berkata: “Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinikahi dan dipergauli, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari laki-laki ini,” ujar isterinya sambil menunjuk-nunjuk suaminya.

Lalu anak-anaknya pun protes: “Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinafkahi dan diberi harta, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari ayah kami ini,” ujar anak-anaknya. Akhirnya, semua keluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. Nau’dzubillahi min dzalik.

Demikianlah ulasan mengenai golongan keluarga yang berkumpul di surga kelak. Untuk itu, jadikanlah keluarga sebagai ladang untuk mendapatkan pahala dengan amal shaleh yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Agar kebahagiaan berkumpul di dunia akan dirasakan juga saat di surga nanti.


Sumber : infoyunik.com
Share:

Ketahuilah, Ini Cara Mengatahui Ada Gangguan Jin Dalam Tubuh Kita

Info Mekkah News - Jin merupakan makhluk yang dicipkan oleh Allah SWT dari api dan kita imani keberadaannya. Mereka berada di sekitar kita dan bisa melihat dengan jelas keberadaan manusia. Namun manusia tidak dapat melihat makhluk sejenis jin, kecuali jika jin tersebut menampakkan dirinya kepada kita.

Selain bisa melihat manusia, tugas jin adalah mengganggu dan menyesatkan manusia. Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa ada jin yang mengganggu bahwa masuk ke dalam tubuh, sedangkan kita tidak dapat melihatnya.


Sumber : Google.com
Ternyata tidak diperlukan ilmu khusus untuk mengetahui gangguan jin yang mengganggu seseorang. Cukup cermati tanda-tanda berikut ini maka akan dengan mudah kita bisa memastikan ada atau tidaknya gangguan jin pada diri seseorang. Seperti apa?. Berikut penjelasannya.


1. Sakit Kepala Tanpa Sebab
Karena sifat jin sama dengan sifat setan yang merasuki manusia lewat aliran darah, maka akan sangat mudah jin menyakiti manusia saat berada di dalam tubuh. Karena aliran darah dalam tubuh manusia akan terhubung ke semua. organ-organ tubuh manusia. Dan jika ada gangguan jin pada diri seseorang, biasanya orang tersebut akan sering pusing pada sebagian atau keseluruhan kepalanya, namun tidak disebabkan penyakit dari kedua mata, telingan, hidung, gigi maupun lambung. Selain itu terasa nyeri atau panas pada bagian persendian tertentu dan dada terasa sesak.

2. Tanda pada Pikiran dan Jiwa
Karena terlalu lama jin tersebut mendiami tubuh kita, maka tidak heran jika tubuh kita dikendalikan oleh jin. Biasanya untuk mengenali orang tersebut dibawah kuasa jin bisa dilihat dari gerak-geriknya. Orang yang ada jin di dalam tubuhnya akan mudah merasa ketakutan, resah dan merasa ada yang mengikuti. Mereka juga menjadi orang yang pemarah serta tidak bisa menahan emosi. Kadang suka melamun dan menghayal seperti berpikir tetapi dengan tatapan kosong.

3. Saat Melakukan Ibadah 
Tanda selanjutnya bisa kita lihat jika sedang beribadah. Ketikan jin sudah masuk ke dalam tubuh kita akan memuncul rasa malas dalam beribadah. Jin juga akan berusaha mnegalihkan pikiran kita dengan hal-hal yang lain agar kita enggan melaksanakan ibadah. Selanjutnya, kita akan sering lupa jumlah rakaat dalam salat. Terasa mengantuk saat berdzikir atau saat membaca dan mendengar Alquran, atau ketika hadir dalam pengajian.

4. Saat Tertidur 
Orang yang terkena gangguan jin biasanya sering bermimpi dikejar sesuatu atau sering mimpi jatuh dari tempat yang tinggi. Dan biasanya mimpinya ada interval tertentu dua atau tiga hari berturut-turut mengulang mimpi yang sama. Dan ada lagi tanda-tandanya seperti susah untuk bangun pagi dan meninggalkan salat subuh, serta berdiri dalam keadaan tertidur. Dan dengan keahlian yang dimiliki jin yang dapat meniru segala jenis benda dan makhluk, kadang jin mengganggu kita dengan menyerupai sesuatu yang indah dan yang buruk di dalam mimpi.

Perlu diingat bahwa penjelasan di atas bukan kemutlakkan, karena semua itu berdasarkan pengalaman dan pengamatan, bukan berdasarkan dalil. Semoga informasi ini bermanfaat serta dapat menambah pengetahuan kita. Aamiin ya Rabbal Alamin.


Sumber : infoyunik.com
Share:

Saturday, December 26, 2015

Ketahui 4 Golongan Pria Yang Masuk Neraka

Sumber: Google.com
Info Mekkah News -  Apabila dalam suatu  hadist Rasulullah SAW sempat memberi tau bahwa tak sedikit penghuni neraka adalah wanita, bukan berarti para pria bisa tenang begitu saja. Sungguh ada golongan pria yang harus menderita di neraka sebab melalaikan tanggungjawabnya terhadap wanita.

Mereka adalah pria yang tak mempedulikan anak-anaknya, alias sebagai suami yang tak menjaga istrinya, sebagai saudara yang tak menjaga kehormatan saudainya, serta seorang putra yang orang tuanya telah tuan, tetapi tak menjaga serta memeliharanya dengan baik. Berikut ini uraian dari golongan pria yang masuk neraka

1. Ayah Durhaka
Golongan pria pertama yang masuk neraka adalah ayah yang tak bertanggungjawab terhadap anak-anaknya. Ayah bukan hanya sekedar pasangan dari ibu, ayah bukan sekedar mesin ATM, seusai itu berakhir urusan, ayah bukanlah sosok asing di rumah yang bicara sebutuhnya, alias hanya  diperlukan Ayah adalah pria yang bertanggungjawab terhadap keluarga, istri serta putra-putrinya. Tak hanya bertanggungjawab terhadap , tapi juga akhlaknya, pendidikan, serta kesuksesan dunia serta akhirat. Inilah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya

“Setiap kalian adalah pemimpin, serta setiap pemimpin bakal dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin, Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anak buah keluarganya, serta Ia bakal dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka.” (HR. Muslim)

Sementara dalam Alquran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap orang beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu serta keluargamu atas api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia serta batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras serta tak mendurhakai  Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya terhadap mereka yang rutin mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS.At Tahrim:6)

Ayah adalah benteng penjaga bagi putra-putrinya dari lakukanan maksiat serta dosa. Jangan hingga seorang ayah kehilangan kepekaan iman, jadi membiarkan anak buah keluarganya larut dalam gelimang maksiat serta dosa. Alias yang lebih parah Ia sendiri yang menjerumuskan istri serta anak-anaknya dalam dosa. Ada ancaman yang sangat berat terhadap ayah yang tak perduli terhadap agama serta akhlaq putra putrinya.

Semacam ayah yang tak peduli dengan pakaian anak-anaknya, membiarkan auratnya terbuka serta menjadi pemandangan umum. Alias seorang ayah yang membiarkan anaknya berangkat berdua-duaan dengan lelaki lain yang bukan muhrimnya. Para pria semacam ini disebut dayyus, serta dayyus tergolong terancam orang yang tak masuk surga. Apabila surga tak menerima, pasti neraka lah tempat kembalinya.

Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka adalah pecandu khamr, durhaka terhadap orang tua serta dayus, yaitu orang yang tak cemburu ketika bermaksiat orang bermaksiat dengan keluarganya. (HR Ahmad)

Ancaman terhadap ayah yang menjadi dayus sejatinya berfungsi supaya mereka menjadi pemimpin yang baik bagi anak buah keluarga lainnya. Hari-kali ini, tak sedikit ayah yang merasa tanggungjawab serta pengasuhan anak sepenuhnya ada di Ibu. Ia telah merasa lumayan memenuhi mereka dengan beberapa fasilitas.

2. Suami yang Dzalim
Golongan kedua yang bakal menjadi penghuni neraka yaitu suami yang durhaka serta dzalim terhadap istrinya. Istri adalah mandat yang dititipkan walinya terhadap seorang pria yang bernama suami. Wali wanita itu pasti mau melepaskan anak, saudara mereka sebab mereka yakin suaminya bisa menjaga anak serta saudara mereka dengan baik.

Pesan berbuat baik terhadap wanita bukan saja andalan setiap wali, tetapi perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah serta Rasul-Nya dalam kitab serta sunnah.

....Dan bertemanlah dengan mereka dengan cara baik, kemudian bila kalian tak menyukai mereka, maka bersabarlah sebab mungkin kalian tak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang tak sedikit. (Q.S Annisa:19).

Tergolong dalam faktor yang baik yaitu, baik dalam bertutur kata, baik memperlakukannya, tak bermuka masam ketika berjumpa, begitu juga baik dalam nafkah. Berteman dengan baik, berarti juga kesamaan serta kesetaraan. Artinya suami bakal mendapat perlakuan baik dari istri ketika suami memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan suami diminta bersabar, menerima ketidak lebihan dari istrinya. Juga ketika istri, tak melaksanakan keharusannya dengan maksimal.

“Janganlah suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Apabila dirinya tak menyukai satu adab darinya, dirinya pasti menyukai adab lain darinya”(HR Muslim).

Adalah hak istri untuk memperoleh nafkah dari suaminya, baik itu pangannya, pakaiannya, tempat tinggalnya serta semua kebutuhan yang disesuikan dengan performa suami serta status istri. Bahkan dalam faktor pangan, hak istri untuk memperoleh makanan siap santap dari suaminya, demikian juga butuh tempat tinggal. Sebagian pakar fiqih berkata, tempat tinggal untuk istri, haruslah khusus untuk istri tersebut tak boleh bercampur dengan keluarga lainnya. Serta apabila istrinya berasal dari kalangan berada yang biasa dilayani dengan pembantu, maka haknya juga untuk memperoleh pesuruh yang disediakan oleh sang suami.

Adalah suatu  kedzaliman, apabila suami mempunyai kelapangan ekonomi tetapi kikir terhadap istrinya. Bahkan cenderung mengebiri hak-haknya Sifat kikir amat dicela Allah serta Rasul-Nya. Apalagi apabila itu dilakukan terhadap orang yang berhak, semacam istri. Oleh sebab itu, dalam permasalahan suami yang sanggup tapi kikir, Rasulullah SAW memberi keringanan atas istri untuk mengambil harta suami sewajarnya, walau dengan diam-diam. Faktor ini tak dianggap pencurian, sebab Ia mempunyai hak pada harta suami.

Sungguh pria sejati yang menafkahi keluarga dari keringatnya sendiri, seorang pria sejati tak memberi beban terhadap istrinya untuk mencari nafkah apalagi hingga bergantung terhadap pemberian istri, ini mencerminkan tanggungjawab serta kepemimpinan yang lemah.

Tidaklah seorang hamba dibebankan tanggungjawab untuk kemudian dirinya abai, melainkan dirinya tak mencium bau surga (HR Bukhari).

3. Saudara Laki-Laki yang Tak Bertanggungjawab
Golongan laki-laki yang tak masuk surga adalah saudara laki-laki, sebab apabila ayahnya telah tiada, tanggungjawab menjaga seorang wanita adalah saudara lelakinya. Tergolong dalam faktor ini paman, apabila mereka hanya mementingkan keluarganya saja, sementara adik alias keponakannya dibiarkan jauh dari aliran Islam, maka tunggulah ancaman neraka di akhirat kelak.

Saudara laki-laki mempunyai keharusann yang melekat terhadap saudara-saudara perempuannya. Mulai dari mendidik, menyayangi, melindungi, serta membela mereka. Apabila ayah telah wafat, maka saudara laki-laki berperan sebagai pengganti ayah, harus memberbagi nafkah terhadap saudara perempuan yang belum menikah alias yang menjanda apabila mereka tak mampu.

Saudara perempuan harus mentaati serta menghormati saudara laki-lakinya. Apabila janda tersebut mempunyai anak, maka anak tersebut yang harus memberbagi nafkahnya adalah ayahnya, apabila Ayah telah wafat maka kakek dari ayah alias saudara dari ayah yang harus memberi nafkah terhadap anak-anak janda tersebut.

Saudara laki-laki yang menelantarkan saudara perempuan, maka Ia telah durhaka terhadap orangtuanya. Tugas lain dari saudara laki-laki adalah menjaga harta saudara perempuannya, jangan malah mengkhianatinya dengan merampas hartanya. Ia juga tak boleh menghalang-halangi apabila ada orang baik yang menikahi saudarinya.

4. Anak Laki-laki yang Tak Memelihara Orangtuanya
Golongan pria keempat yang masuk neraka sebab gagal menjalankan tugasnya adalah anak laki-laki.

“Seorang laki-laki datang terhadap Rasulullah lalu bertanya, Wahai Rasulullah siapakah orang yang palign berhak aku pergauli  dengan sebaik-baiknya?”Sabdanya, “Ibumu” Ia lalu bertanya “kemudian siapa ?” Sabdanya “Ibumu” “kemudian siapa lagi?” Sabdanya “Ibumu”, “Kemudian siapa lagi”, Sabdanya “Ayahmu” (HR. Muslim).

Secara khusus, Islam menekankan hak bunda terhadap laki-laki kandungnya, mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak. Sebab seusai anak perempuan menikah Ia lebih berkeharusan mentaati suaminya dibanding Ibunya, sedangkan anak laki-laki walau telah menikah, tak mengurangi keharusannya untuk mengabdi terhadap orangtuanya. Serta mengabdi terhadap Bunda lebih di dahulukan dari pada terhadap istrinya. Jadi pengorbanan anak laki-laki terhadap Bunda kandungnya tak putus, tetapi pengorbanan anak perempuan lebih mutlak terhadap suaminya. Oleh Sebab itu, anak laki-laki lebih terbelit terhadap Ibunya dibanding anak perempuan. Laki-laki harus menafkahi istri serta anaknya, serta juga harus memperhatikan hidup bunda kandungnya. Apabila ibunya tak mampu, maka keharusan nafkahnya juga menjadi tanggungjawabnya. Seorang Istri juga harus menyadari bahwa keharusan suami juga terhadap bunda kandungnya, maka para istri doronglah suami untuk lebih mengabdi terhadap Ibunya.
Orang-orang yang durhaka terhadap Bunda bapaknya, Allah bakal menurunkan siksanya di dunia ini. Tak harus menantikan menanti di alam kuburAtau di akhirat, siksaan itu beberapa macam bentuknya, bisa persoalan keluarga yang tak kunjung berakhir, anak-anak yang tak bisa diarahkan, rezeki yang tak kunjung datang serta lain sebagainya. Maka penting bagi anak laki-laki untuk memperhatiakan Bunda kandungnya. Itu telah menjadi tugas serta tanggungjawabnya jangan hingga tugas ini dilalaikan yang menjadi penyebab Ia terjerumus ke neraka.

Sumber: Infoyunik.com
Share:

Inilah 10 Cara Unik Agar Jadi Suami yang Romantis

Cahayatasbih.com - Setiap istri pasti mengingingkan suami yang senantiasa membikin ia tersanjung. Sebagian besar wanita ingin suaminya dapat bersikap romantis terhadap mereka. Tetapi tak semua istri yang dapat mengungkapkan faktor tersebut terhadap suaminya.

Di pihak para suami, tak sedikit di antara mereka yang tak dapat bersikap romantis terhadap istrinya dengan beberapa alasan. Salah satunya sebab canggung alias merasa kesusahan untuk mengawali bagaimana tutorial menjadi romantis.


Sumber : muslimahcorner.com


Padahal sebetulnya menjadi sosok suami yang romantis ini tidaklah susah. Hanya butuh mengenal trik serta triknya. Berikut ini 10 tutorial unik yang dapat para suami praktekkan supaya menjadi romantis untuk istri tercinta.

1. Panggil dengan Panggilan Romantis
Romantis itu tak hanya dapat ditunjukkan lewat tindakan, tetapi dapat juga diperbuat lewat ucapan. Salah satu ucapan yang mengangkat suasana romantis dalam rumah tangga merupakan terbuktigil istri dengan panggilan romantis.

Meskipun pada awalnya bakal membikin hati deg-degan, tetapi apabila telah terbiasa bakal mudah saja mengucapkannya. Rasulullah SAW sendiri juga mempunyai panggilan romantis terhadap istrinya Aisyah yakni dengan sebutan “humaira” (pipi yang kemerah-merahan).

Jadi, mulailah terbiasa terbuktigil istri dengan panggilan yang romantis, semacam sayang serta sebagainya. Faktor ini bakal membikin istri terus tersanjung serta rumah tangga yang dibina juga bakal terus berwarna.

2. Katakan Cinta
Mungkin tak sedikit pasangan yang telah lama menikah lupa untuk senantiasa berbicara cinta terhadap suami alias istrinya. Padahal sebetulnya, perkataan semacam “aku cinta kamu” ini wajib tak jarang diucapkan.

Mulai saat ini, bila ingin menjadi sosok suami yang romantis cobalah untuk lebih tak jarang mengucapkan “aku cinta kamu” terhadap istri dengan lembut. Lebih romantis lagi apabila faktor ini diperbuat saat makan malam spesial. Peristiwa-peristiwa yang demikian dapat menjadi kenangan yang tak terlupakan oleh istri.

3. Makan Semangka Berdua
Bersikap romantis dapat diperbuat kapan saja, bahkan ketika liburan bersama buah hati. Saat musim liburan, ajaklah istri serta anak ke tempat wisata keluarga. Biarkan anak-anak bermain serta luangkan waktu berdua dengan istri. Suami dapat mengambil seiris semangka lalu berbicara terhadap istri bahwa ingin memakannya berdua. Prilaku semacam ini pasti bakal membikin istri tersipu malu serta memuji sikap suami yang romantis.

4. Makan Es Krim Berdua
Selain makan irisan semangka berdua, makan es krim berdua juga dapat dijadikan opsi untuk meningkatkan keromantisan hubungan suami istri.

5. Pakai Kaos Couple
Cara selanjutnya yakni dengan memakai kaos couple. Saat ini, tak sedikit sekali anak muda yang menjalin hubungan asmara memakai kaos couple untuk menunjukkan segi romantis mereka. Untuk para suami, jangan malu untuk meperbuat faktor yang sama. Kamu dapat saja membelikan kaos yang ada tulisan ataupun gambar bersambung serta memberbaginya terhadap istri sebagai hadiah. Tetapi faktor yang wajib diingat merupakan beli kaos yang ukuran muslimah supaya tak membentuk badan. Pakailah kaos tersebut saat santai alias olahraga, pasti faktor ini dapat menjadi peristiwa yan romantis bagi hubungan suami serta istri.

6. Bentuk Cinta dengan Tangan Anda
Cara unik selanjutnya supaya menjadi suami yang romantisa merupakan dengan mengundang istri bergambar. Tetapi, ini bukanlah sembarang gambar saja. Melainkan, ketika sedang berdua dengan istri ajaklah ia untuk mengulurkan tangannya serta menyatukan jarinya dengan jari suami membentuk tanda cinta. Seusai itu, mintalah anak alias oranglain untuk mengawetkan peristiwa romantis itu.

7. Shalat Malam Berdua
Sikap romantisa bukan hanya sekedar berbicara cinta alias memberbagi hadiah saja. Bakal tetapi, kegiatan keagamaan juga dapat menjadi peristiwa romantis. Salah satunya merupakan mengundang istri untuk melaksanakan shalat malam. Shalat malam yang diperbuat berdua memberbagi nuasa romantis bercampur dengan suasana spiritual yang kental.

8. Saling Menyuapi
Meskipun usia tak lagi muda, tetapi kebiasaan saling suap saat makan dapat menjadi peristiwa yang romantis. Sebagai suami dapat mengambil sepiring makanan lalu menyuapi istri serta sebaliknya.

9. Matikan Lampu, Nyalakan Lilin
Cara unik selanjutnya yang dapat diperbuat supaya menjadi suami yang romantis merupakan dengan mematikan lampu serta nyalakan lilin saat hendak tidur.

10. Hias Kamar
Selain mengganti lampu kamar dengan lilin, untuk menjadi suami yang romantis juga dapat menghias kamar tidur. Perbuat faktor ini tanpa sepengetahuan istri, supaya menjadi kejutan untuk dirinya. Kegiatan ini dapat diperbuat saat hari spesial semacam peringatan tanggal pernikahan alias ketika istri ulangtahun.

Demikianlah ulasan tentang 10 tutorial unik supaya menjadi suami yang romantis. Tak peduli berapa lama umur pernikahan tersebut, tetapi bersikap romantis menjadi sebuahfaktor yang wajib diperbuat supaya hubungan tersebut terus tersanjung. 


Sumber: Infoyunik.com
Share:

Jangan Pernah Melakukan Satu Dosa ini, Karena Bisa Menghapus Semua Amal Kita Semasa Hidup


Info Mekkah News - Hidup itu sementara. Tapi harus digunakan untuk mencari sebanyak-banyaknya bekal untuk menghadapi akhirat yang selamanya. Karenanya, memperbanyak sembari memperbaiki kualitas amal shaleh amatlah penting untuk dikerjakan di sepanjang jenak kehidupan.

Apalagi selepas mati, hanya tiga amal yang bermanfaat untuk seseorang; ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan doa anak yang shaleh bagi kedua orang tuanya. Ketiga amalan inilah yang harus senantiasa diproduksi sepanjang hari agar kelak kita bisa memanennya di Hari Kiamat.


Maka manfaatkanlah usia yang sebentar dengan beragam proyek menuntut ilmu dan menyebarkannya kepada orang-orang yang kita cintai dan masyarakat sekitar. Ikhlaslah dalam mengupayakannya. Dan, wakafkan diri sepanjang hayat dikandung badan untuk mengamalkannya.

Sebab satu ilmu yang dipraktekkan dengan sempurna di sepanjang kehidupan sehingga menjadi amalan unggulan, adalah lebih baik dari jutaan teori yang justru membuat pemiliknya semakin jauh dan ingkar kepada Allah Ta’ala.

Jika berilmu, maka kita akan mengetahui waktu dan amalan apa yang paling tepat. Misalnya; sebelum hingga Subuh dimanfaatkan dengan dzikir, tilawah, dan perbanyak istighfar. Setelah Subuh, dilanjutkan dengan dzikir pagi dan keutamaan lainnya.

Siang hari, di sela-sela kerja, sebagai salah satu bentuk rehat yang paling bagus; maka ia bergegas mendirikan Dhuha, kemudian melakukan tidur siang sesaat sebelum Dhuhur sebagai salah satu sunnah Nabi, dan seterusnya.

Semua itu, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berilmu. Sehingga, tak ada masa yang sia-sia. Bagi orang yang berilmu, setiap jenak adalah peluang untuk perbanyak amal shaleh guna mengumpulkan bekal kehidupan di akhirat kelak.

Yang patut dicatat, ada amalan-amalan penghapus pahala. Jika amalan ini dikerjakan di akhir hayat, maka amalan setinggi gunung atau sebanyak air di samudera, bisa habis sebab satu amalan itu. Misalnya, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah dalam salah satu sabdanya yang berstatus Hasan Gharib ini:

Sungguh, ada orang yang melakukan kebaikan selama tujuh puluh tahun, tetapi ia berwasiat dan zhaim dalam wasiatnya, lalu menutup usianya dengan kejelekan amalnya sehingga ia dimasukkan ke dalam neraka. Dan sungguh, ada orang yang melakukan keburukan selama tujuh puluh tahun, lalu ia adil dalam wasiatnya, dan menutup usianya dengan kebaikan amalnya, sehingga ia dimasukkan ke dalam surga. (Hr. Imam Ahmad bin Hanbal dari Abu Hurairah)

Hendaklah berhati-hati dan wasapada; jangan berhenti beramal dengan ikhlas hingga ajal menjemput. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari akhir yang buruk, dan menjadikan kita akhir yang baik dalam kehidupan. Aamiin.


Sumber : akhwatindonesia.com
Share:

Subhanallah.. Inilah 70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab


Info Mekkah News - Setiap manusia tentu ingin di akhir nasibnya bisa masuk kedalam surganya Allah SWT dan melewatkan siksa sebelum memasuki surga tersebut. Tetapi terbukti bukan faktor mudah untuk memperoleh surga-Nya sebab semacam yang diketahui sekarang telah tidak sedikit sekali manusia yang susah untuk beribadah dan taat terhadap Allah SWT.

Berbahagialah golongan ini, mereka diberi nikmat masuk surga tanpa hisab. Berbahagialah, sebab surga dipenuhi kenikmatan yang tidak tertandingi. Siapakah mereka? Apakah amalan yang mereka kerjakan? Dan, semoga kami menjadi tahap dari mereka.

Sumber : palembang.tribunnews.com

Dikisahkan oleh Syuraih bin ‘Ubaidah, bahwa Tsauban menderita sakit di kota Hims. Sampai datanglah seorang dari Kala’iyyin yang menjenguknya. Ditanyakan terhadap penjenguk itu, “Apakah kau bisa menulis?”

Seusai diberitahukan bahwa tamu yang menjenguknya bisa menulis, maka Tsauban memintanya untuk menuliskan sepucuk surat yang berbunyi:

Kepada al-Amir ‘Abdullah bi Qarath

Dari Tsauban, (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam

Amma Ba’du

Seandainya Musa dan ‘Isa ‘alaihimas salaam mempunyai seorang pesuruh yang berada di dekatmu, tentulah engkau bakal menjenguknya.

Surat tersebut ditujukan terhadap ‘Abdullah bin Qarath al-Azdi yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Kota Hims. Seusai melipatnya, Tsauban bertanya seraya meminta tolong terhadap tamu yang menjenguknya, “Apakah kau bisa mengirimkan surat ini kepadanya?” Dijawab pendek olehnya, “Ya.”

Seusai menerima dan membaca surat tersebut, sang Gubernur ‘Abdullah bin Qarath pun kaget. “Mengapa dia? Apakah terjadi sesuatu padanya?” tanyanya antusias. Ia pun bergegas mempersiapkan perbekalan untuk menjenguk Tsauban.

“Duduklah,” pinta Tsauban terhadap Gubernur yang baru tiba di rumahnya itu. Lanjutnya memberi tau sesuatu, “Supaya aku bisa mengumumkan suatu  hadits yang sempat aku dengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”

Tsauban pun membacakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, “Akan masuk surga dari umatku (Muhammad) tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan tiada azab bagi mereka. Setiap seribu orang disertai lagi tujuh puluh ribu orang.”

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh  Imam Bukhari dan Muslim juga disebutkan, tujuh puluh ribu orang itu masuk ke surga dalam keadaan bergandengan tangan jadi orang pertama masuk ke dalam surga bersama dengan orang terbaru dan wajah mereka semacam bulan purnama.

Siapakah mereka? Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka merupakan orang yang tidak sempat meminta diruqyah seumur nasibnya. Sedangkan Imam Ibnu Katsir mengutip hadits ini ketika menafsirkan surat Ali ‘Imran [3] ayat 110; mengenai umat paling baik yang diutus untuk memerintahkan terhadap yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, sedang mereka beriman terhadap Allah Ta’ala.


Sumber : akhwatindonesia.net
Share:

Wahai Istri, Ingin Suami Sukses dan Diberkahi Allah SWT, Ini Doanya

Info Mekkah News - Tidak semua pernikahan diawali dengan kemampanan. Banyak pasangan yang memantapkan diri untuk menikah setelah mereka merasa cocok dan siap membangun keluarga yang sakinah. Itulah pasangan yang hebat karena mereka mengawali pernikahan dengan sebuah keyakinan bahwa pernikahan adalah pintu awal pembuka rezeki.
Sumber : thayyiba.com
Rezeki itu datangnya dari Allah Swt. dan akan terus bertambah manakala disyukuri. Jangan pernah merasa kurang karena Allah tahu apa yang kita butuhkan. Allah Swt. berkehendak atas apa yang Dia inginkan. Dan Dia tidak akan membuat hamba-Nya hidup menderita selama hamba itu mau berjuang meraih rezeki yang halal. Seorang wanita yang telah memantapkan diri memasuki gerbang pernikahan dan mengubah statusnya menjadi seorang istri, jangan pernah risau dengan keadaan.
Ada fase dimana awal pernikahan itu sebuah penyesuaian, baik itu penyesuaian finansial dan juga penyesuaian kepribadian. Masing-masing harus saling memotifasi untuk menghadapi setiap masalah yang terjadi. Banyak istri yang tidak siap ketika melihat suaminya menganggur. Bukannya ia membantu berdoa dan memintakan kemurahan rzeki kepada Allah Swa., ia justru marah dan menyalahkan suami.
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, faktor materi memang diperlukan. Meski uang bukan segalanya, tetap membutuhkan uang. Maka, peran seorang suami amat sentral. Ia adalah pencari nafkah dan tulang punggung keluarga.
Jika Anda dan suami sudah berusaha, maka tugas selanjutnya adalah berdoa. Berdoa agar suami mendapat pekerjaan yang layak dan diberkahi Allah Swt. Diantara bacaan doa itu adalah:

Allahumma yaa ghaniyyu yaa hamiid yaa mubdi-u ya mu’iid ya rahiimu ya waduud aghnina bihalaalika ‘an haraamika wa bifadhlika ‘amman siwaaka. 
Artinya :
“Ya Allah, Tuhanku yang Maha Kaya dan Maha Terpuji, Tuhan yang menakdirkan dan yang mengembalikan, yang Maha Kasih dan Maha Kasih Sayang. Berilah aku kekayaan harta yang Engkau halalkan bukan yang engkau haramkan, berilah aku kelebihan dari yang lain dengan berkah karunia-Mu.”
Doa ini bisa dibaca setiap selesai salat Jumat sebanyak 70 kali. Jika diamalkan secara istiqamah, insyaallah bagi orang yang sedang mencari pekerjaan akan segera mendapatkannya.

Sumber : akhwatindonesia.com
Share:

Ketika Dunia Dilanda Berbagai Cobaan, Benarkah Akhir Zaman Sudah Didepan Mata? Ini Jawabannya

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang pada manusia suatu zaman di mana orang yang bersabar dalam agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.” [HR. At-Tirmidzi, Al-Fitan, hadits no. 2361]
Sumber : akhwatindonesia.net

Info Mekkah News - Nubuwat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalalam di atas merupakan sebuah ungkapan yang singkat dan padat, namun paling mewakili kondisi zaman di mana kita hidup hari ini. Zaman yang kebodohan, kedustaan dan kecurangan telah mewarnai seluruh wajah kehidupan ini telah membuat manusia banyak terlepas dari tali ajaran Islam. Orang jawa bilang saiki zaman edan, nek ora melu edan ora kumanan (sekarang zaman edan, yang tidak ikut ikutan edan pasti tidak akan kebagian). Ya, manusia waras pasti akan tersiksa manakala orang-orang di sekitarnya telah menjadi gila. Namun demikian Rasulullah saw menghibur umatnya yang kelak akan memasuki zaman ini, dimana mereka akan dijanjikan pahala yang sangat besar bila mau bersabar. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat:

Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,

بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ

‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.” (Kemudian, Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami kami atau generasi mereka?’ Rasulullah saw, ‘Untuk mereka’.”) [HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]

Hadits di atas memberi isyarat kepada setiap mukmin mengenai 2 perkara:
Pertama, besarnya cobaan yang dihadapi oleh seorang mukmin serta kefasikan pada umat manusia yang telah mengglobal. Namun di sisi lain, keimanan saat itu begitu lemah yang karenaya harus diperjuangkan dengan kesabaran yang maksimal.
Imam Ath-Thayyibi berkata, “Maksudnya, sebagaimana orang yang tidak kuasa memegang bara api untuk bersabar dalam menahan panas bara tersebut, demikianlah kondisi yang dialami oleh orang-orang yang tetap teguh terhadap agamanya di zaman itu. Mereka tidak kuasa berpegang teguh kepada agamanya karena begitu banyaknya pelaku kemaksiatan dan sarana kemaksiatan, tersebarluasnya kefasikan, serta belum lagi lemahnya keimanan.” [Tuhfah Al-Ahwadzi, jil. 8, hal. 436]

Kedua, beratnya cobaan yang mana pada saat itu setiap orang pasti membayangkan bahwa dirinya tidak akan dapat menjaga imannya kecualidengan ksabaraan yang maksimal. Artinya setiap mukmin akan ditimpa cobaan yang sangat besar di hari-hari itu sebagaimana orang-orang yang sungguh-sungguh bersabar dalam memegang bara api ditangannya.
Mengenai makna ini, Imam Al-Qari memberikan berkata, “Secara kasat mata, seperti halnya orang yang tidak mungkin memegang bara api dengan tangannya kecuali dengan kesabaran yang maksimal serta dengan segenap kesanggupannya, maka seperti itulah orang-orang di zaman tersebut. Mereka tidak akan mungkin menjaga agama serta cahaya keimanannya melainkan dengan kesabaran yang tinggi.” [Tuhfah Al-Ahwadzi, jil. 8, hal. 436]

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Tsa‘labah ra jelas sekali bahwasanya di ayyamush shabr(hari-hari yang penuh ekstra kesabaran) tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah At-Thaifah Al-Manshurah yang hidup dalam keterasingan yang kedua. [Keterasingan yang pertama adalah di saat awal risalah Islam]
Dan mereka ini tetap bersungguh-sungguh dalam memegang agama Allah sehingga sempurna janji Allah yang telah Dia tetapkan bagi mereka. Mereka itu orang-orang yang akan mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas keteguhan mereka dalam memegang agamanya, sampai pada batas dilipatgandakan pahala mereka di ayyamush shabr 50 kali lipat dari pahalanya para sahabat.
Mengenai keunggulan mereka ini, dalam atsar lain disebutkan bahwasanya para sahabat itu mempunyai berbagai faktor pendukung dalam kebaikan, yaitu keberadaan RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam di tengah tengah mereka dan masih turunnya wahyu Allah kepada mereka. Sedangkan At-Thaifah Al-Manshurah tidak mempunyai keduanya, karena zaman itu telah berakhir dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan terputusnya wahyu. Maka sangat wajar bila ujian At-Thaifah Al-Manshurah di akhir zaman jauh lebih berat dari ujian generasi pertama sahabat.

Yang dihadapi oleh Thaifah Manshurah bukan hanya musuh dari kalangan kaum kuffar dan musyrikin, namun juga dari kelompok kaum muslimin yang berkhianat, munafik penjilat, dan konspirasi global musuh Islam yang memiliki kekuatan senjata dan media; dua kekuatan raksasa yang membuat umat Islam terjepit fisik dan mentalnya.
Karenanya betapa jujurnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menyebut zaman itu dengan ayyamush shabr (hari-hari yang penuh ekstra kesabaran).
Nubuwat di atas memang bernada ancaman dan peringatan, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah / kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir zaman.


Sumber : hidayatullah.com
Share:

Friday, December 25, 2015

Inilah Jenis Pernikahan-Pernikahan Yang Dilarang Oleh Islam

Info Mekkah News - Sahabat, pernikahan merupakan sunah Rasulullah. Pernikahan merupakan ladang ibadah bagi kita jika dilakukan berdasarkan ajaran agama. Akan tetapi terdapat beberapa bentuk pernikahan yang dilarang dalam islam, yaitu:

1. Nikah Mut'ah

Nikah Mut'ah merupakan pernikahan yang bersifat sementara yang ditandai adanya perjanjian antara laki- laki dan perempuan untuk menikah dalam batas waktu tertentu. Pernikahan ini pada mulanya diperbolehkan Rasulullah, namun kemudian beliau melarangnya. 
Rasulullah bersabda, “Hai sekalian manusia, memang aku pernah mengizinkan kamu sekalian melakukan perkawinan mut'ah. Akan tetapi ketahuilah, sesungguhnya Allah benar-benar mengharamkannya sampai hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah)

Sumber : uniquecardwedding.com
2. Nikah Syighar
Nikah syighar adalah suatu pernikahan yang hendak dilakukan dengan beberapa syarat, yaitu apabila seorang wali mengatakan bahwa dia akan menikahkan anaknya asalkan dia juga dinikahkan dengan anak perempuan  laki- laki tersebut.

3. Menikahi perempuan yang sedang menjalani masa ‘Iddah
Tidak dibolehkan laki-laki menikah dengan perempuan yang dalam masa ‘Iddahnya baik ditinggal karena bercerai maupun meninggal. Hal ini sesuai dengan firman Allah surah Al- baqarah ayat 235.

4. Nikah Muhallil
Nikah muhallil merupakan pernikahan yang tidak diperbolehkan bagi laki-laki yang telah mentalak istrinya sebanyak 3 kali, kecuali ada laki- laki lain yang menikahinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah surah Al-baqarah ayat 230. Selain itu laki- laki tersebut tidak boleh menyuruh perempuan tersebut untuk menikah dengan laki- laki lain agar dia bisa kembali kepadanya.

5. Menikah saat menjalani irham
Rasulullah bersabda, “Seseorang yang sedang berihram tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan.”(HR. Muslim)
Seorang muslim jika melakukan pernikahan baik saat haji atau umrah akan dianggap batal. Bagi muslim yang ingin menikah hendaklah menyelesaikan haji dan umrah terlebih dahulu baru menikah.

6. Menikah dengan non-muslim
Islam sangat melarang umatnya menikah dengan non- muslim. Perbuatan tersebut sangat dilarang agama. Hal ini sesuai dengan firman Allah surah Al-baqarah ayat 221. 
Saat ini banyak kita jumpai mereka yang rela mengorbankan agamanya demi cinta kepada kekasihnya. Padahal mereka mengetahui hal tersebut dilarang. Mereka terlena akan cintanya sehingga rela melakukan apapun dengan pasangannya, termaksud melanggar ajaran agama.


Sumber : ummi-online.com
Share:

Jangan Tidur Sebelum Anda Melakukan 4 Hal Ini, Apa Saja?


Info Mekkah News - Sebagian ulama mengatakan bahwa sebelum kita tidur, jika kita ingin meningkatkan hubungan kita dengan Allah, maka kita harus melakukan empat perkara. Kita seharusnya tidak tidur sebelum mengurus 4 perkara. 


Sumber: Lampuislam.org

Yang pertama, Kita harus memastikan bahwa kita tidak tidur kecuali kita telah menyelesaikan semua pertengkaran kita dengan orang lain.



Yang kedua, Kita harus memastikan bahwa sebelum tidur kita telah memenuhi semua kewajiban yang merupakan milik Allah s.w.t. Misalnya kita belum shalat Isya maka kita tidak boleh tidur dulu.



Yang ketiga, Kita tidak boleh tidur sampai kita bertaubat kepada Allah dan meminta Allah untuk mengampuni dosa-dosa yang mungkin telah dilakukan di masa lalu.



Yang keempat, Sebelum tidur kita harus memastikan bahwa kita telah menjelaskan segala hal yang harus diurusi apabila kita meninggal, entah itu menyangkut kekayaan kita, keluarga kita, dan sebagainya. Misalnya, apa yang akan dilakukan sanak famili dengan harta kita kalau kita meninggal, apa wasiat yang harus mereka lakukan ketika kita meninggal, dan sebagainya.



Dan banyak dari kita yang menganggap bahwa ini tak masuk akal. Kita berpikir “Kenapa aku harus merencanakan kematianku sebelum tidur?” Tapi inilah keseriusan yang dibutuhkan untuk menjalin hubungan dengan Allah s.w.t.
Sumber: Lampuislam.org
Share:

Inilah Tanda Amal Ibadah Kita Diterima Atau Ditolak Oleh Allah SWT

Info Mekkah News - ALLAH Ta’ala menciptakan kehidupan dan kematian sebagai salah satu ujian untuk menunjukkan siapakah yang paling baik amalnya. Setiap amal akan diberi balasan secara adil. Tiada sedikit pun kezaliman.
Bagi pelaku kebaikan, baginya satu pahala saat berniat dan bertambah satu hingga sepuluh kali lipat sampai tak terhingga ketika niatnya benar-benar menjadi amal shalih. Sedangkan bagi mereka yang berniat buruk, niatnya tidak diberi dosa hingga keburukan benar-benar dikerjakannya. Inilah di antara bentuk Maha Pengasih dan Penyayang-Nya Allah Ta’ala kepada Hamba-hamba-Nya.
Sumber : ummi-online.com
Amal shalih menjadi salah satu tanda bahwa seseorang tidak termasuk kelompok yang merugi. Ia bersanding manis bersama iman, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan bernasihat agar senantiasa berada dalam kesabaran. Selain keempat hal ini, Allah Ta’ala memastikan, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.”
Dalam banyak ayat al-Qur’an juga disebutkan, siapa yang beriman dan beramal shalih, ia termasuk kelompok manusia terbaik yang berhak mendapatkan surga. Meskipun, para ulama sepakat bahwa amal hanya menjadi perantara. Sebab surga hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang mendapatkan Rahmat Allah Ta’ala.
Persoalannya, tidak semua amal diterima. Sebagaimana sebuah percobaan dalam penelitian yang tidak semuanya berhasil, begitu pula amal shalih. Banyak faktor yang menyebabkan sebuah amal diterima atau ditolak. Bermula dari niat, cara dalam beramal, dan faktor-faktor lain di sepanjang dan setelah melakukan amal.
Lantas, bagaimana cara mengetahui diterima atau ditolaknya sebuah amal? Berikut penjelasan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali.
“Tanda diterima amal adalah ketika suatu ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba bisa menuntunnya menuju ketaatan lain yang lebih tinggi.”
Berkelanjutan. Itulah di antara tanda diterimanya amal. Maka lihatlah, mereka yang tetap beramal selepas Ramadhan, misalnya, dan terus-menerus mengeja taat hingga sebelas bulan selepas berlalunya bulan suci.
Amal shalih yang berketerusan ini pula yang akan menggerakkannya untuk melakukan ketaatan-ketaatan lain berupa memakmurkan bumi-Nya. Amal-amal yang diterima ini akan menggerakkan seorang hamba untuk memperbaiki kualitas wawasan keilmuannya, akhlaknya, kehidupannya, dan masyarakatnya secara luas.
“Adapun tanda ditolaknya amal adalah ketaatan yang diikuti dengan perbuatan maksiat. Perbuatan baiknya tidak mampu mencegahnya dari keburukan.”
Betapa banyak kita jumpai orang-orang yang ‘shalat terus maksiat jalan’? Banyak pula di antara mereka yang pagi mendirikan shalat, siangnya korupsi, menjelang sore berinfaq, dan malamnya masuk ke tempat hiburan yang diharamkan. Amat mengerikan.
Di antara catatan lain yang patut kita perhatikan, jangan sampai merasa banyak beramal, padahal hanya sedikit amalnya yang diterima.
Ya Rabb kami, terimalah dari kami amal-amal shalih kami. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Sumber : kabarummat.com
Share:

Doa Anda Sulit Terkabul, Mungkin Anda Belum Melakukan 3 Hal ini

Info Mekkah News - Berdoa kepada Allah SWT memang seharusnya menjadi kewajiban para muslim. Karena segala sesuatunya memang harus meminta kepadaNya. Agar kelak semua permintaan kita mendapat ridhonya. Jadi biasakan selalu memanjatkan doa kepada sang maha pencipta agar tidak dikatakan sebagai manusia yang sombong.
Allah berjanji akan mengabulkan doa hamba yang memohon kepada-Nya. Namun, apakah semua doa akan dikabulkan? Apa saja syarat terkabulnya doa?
Kali ini kita akan menengok bagaimana menurut hadist dan riwayat tentang syarat terkabulnya doa.Syarat Terkabulnya Doa
Sumber : acehfokus.net
1. Mengenal kepada siapa kita memohon.
Sebelum meminta sesuatu, tentu kita harus mengenal kepada siapa kita meminta. Begitu pula sebelum kita berdoa, kita harus tau siapa Dzat yang sedang kita mintai bantuan dan pertolongan untuk mengabulkan permintaan kita.
Selain itu, kita juga harus mengenal dan meyakini bahwa Allah swt Maha Mampu mengabulkan apapun yang kita minta.Suatu hari, Imam Jafar As-Shodiq, Guru dari Imam Madzhab Maliki dan Hanbali pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Imam, kita selalu berdoa tapi tak pernah dikabulkan?”
Imam pun menjawab, “Karena kalian berdoa kepada yang tidak kalian kenal.”Jawaban ini selaras dengan sabda Rasulullah saw yang berbunyi,”Andai kalian mengenal Allah dengan sebenar-benarnya maka doa kalian mampu memindahkan gunung-gunung.”
2. Berbaik sangka kepada Allah swt.
Disaat berdoa, kita harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Percuma kita berdoa jika masih ada perasaan ragu apakah Allah akan mengabulkan doa saya?Karena Allah pernah berfirman dalam Hadist Qudsi-Nya,”Aku adalah seperti apa yang disangkakan hamba-Ku kepadaku. Karenanya, janganlah berprasangka tentang-Ku kecuali kebaikan.”
Jika kita masih ragu apakah Allah akan mengabulkan atau tidak, maka doa itu tidak akan terkabul karena Allah akan mengabulkan sesuai prasangka kita kepada-Nya. Rasulullah bersabda,”Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa (doamu) akan dikabulkan”
3. Berdoa dengan perasaan terjepit.
Syarat ketiga adalah salah satu yang terpenting. Kita berdoa dengan perasaan terjepit dan terpojok seakan tidak ada lagi yang dapat membantu kita selain Allah swt. Tidak ada lagi yang kita harapkan selain-Nya.

Rasulullah saw bersabda,”Jika seorang dari kalian ingin doanya selalu dikabulkan oleh Allah swt maka berputus asalah dari seluruh manusia.”
Ketika tidak ada harapan lagi selain rahmat-Nya, berdoa dalam keadaan benar-benar membutuhkan bantuan-Nya, bercucuran air mata demi ijabah dari-Nya maka disitulah tempat terkabulnya doa.Karena Allah begitu cemburu jika hamba-Nya masih berharap kepada selain-Nya. Padahal, siapa yang mampu mengabulkan seluruh permintaan selain Allah swt?
–Bukankah Dia (Allah) yang Mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan Menghilangkan kesusahan.”(An-Naml 62)
Saya sudah menjalani adab berdoa dan syarat-syarat terkabulnya doa, tapi kenapa doa saya belum juga terkabul? Padahal Allah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan menggunakan analogi. Maha Suci Allah dari segala. Ada seorang anak yang meminta kepada ayahnya untuk dibelika pistol. Dia memohon, menangis dan meronta sejadi-jadinya. Akankah sang ayah membelikan pistol itu kepada anaknya?
Sang ayah tidak memberi bukan karena tidak mampu, bahkan membelikan 10 pistol pun ia mampu, tapi pistol itu berbahaya dan anak ini belum mengerti. Akhirnya ia ganti permintaan anaknya dengan mainan yang tidak berbahaya.
Kita sering meminta sesuatu yang kita anggap baik. Padahal tidak semua yang kita anggap baik itu baik. Ilmu kita sangat terbatas sementara Allah Maha Tahu dan ingin berkata,”Yang sedang kau minta ini berbahaya duhai hamba-Ku”
Ketika Allah tidak memberi apa yang kita minta karena itu “tidak baik” bukan berarti Allah tidak menepati janji-Nya. Doa itu akan tetap terkabul dengan dialihkan kepada pemberian Allah yang lain.Setiap doa akan dikabulkan. Apakah ia terkabul secara langsung di dunia, diakhirkan di akhirat atau diganti dengan pemberian yang lain.
Rasulullah saw bersabda,”Doa adalah inti ibadah. Tidak ada seorang mukmin yang berdoa kepada Allah kecuali dikabulkan. Apakah ia dikabulkan langsung didunia, diakhirkan (sebagai pahala) di akhirat atau dihapus dosa-dosanya sesuai dengan kadar doanya, selama ia tidak berdoa keburukan.”
Kita sering mengeluh dan protes jika doa tak kunjung terkabul, padahal kita tidak tau apa yang sedang terjadi dibalik doa-doa kita. Allah swt pernah berfirman dalam Taurat,”Allah berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Kau berdoa untuk kehancuran hamba-Ku karena ia telah mendzalimimu padahal ditempat lain ada hamba yang berdoa untuk kehancuranmu karena kau telah mendzaliminya. Jika kau ingin, Aku akan mengabulkan doamu dan mengabulkan doanya (orang yang telah kau dzolimi) dan jika kau mau aku akan mengakhirkan (balasan) kalian berdua sampai kelak di Hari Kiamat.”
Kita hanya berpikir bahwa doa kita belum terkabul tanpa pernah tahu bahwa doa itu telah menyelamatkan kita dari berbagai musibah dan bencana. Karenanya, jangan sering protes tentang tidak terkabulnya doa. Perbaiki doa kita dan yakinilah, tidak ada doa yang tidak terkabulkan!

Sumber : kabarummat.com
Share: