Friday, September 9, 2016

Amalan Amalan di Hari Tasyrik





S
ekarang kita berada di bulan ke-12, bulan Dzulhijjah, yaitu bulan terakhir dari Kalender Hijriyah. Kalender Hijriyah ini adalah kalender yang di gunakan umat Islam dalam menentukan hari-hari agamanya. Sering kali bulan Dzulhijjah ini disebut sebagai bulan Haji, karena pada bulan Dzulhijjah ini adalah bulan dilaksanakan Ibadah Haji. Ibadah Haji tidak seperti ibadah-ibadah yang lain yang dapat dilakukan disetiap waktu, sementara Ibadah haji hanya pada bulan Dzulhijjah saja.

Sesuai dengan tajuk tulisan ini yaitu “Amalan Amalan di Hari Tasyrik” yang bukan hanya berlaku untuk saudara-saudara kita yang melakukan Ibadah Haji saja, tapi bagi umat Islam yang belum “Naik Haji” maupun yang sudah BerHaji”  melakukan juga sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini.


Pengertian Hari Tasyrik

Istilah tasyrik diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ]. Sebelum hari tasyrik adalah Hari Raya Qurban sering pula disebut “’Idul Adha” atau “’Idul Qurban” atau “Lebaran Haji”,  yaitu tanggal 10 Dzulhijjah.  Setelah itu disebut “Hari Tasyrik” yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, dimana saat itu dapat melakukan amalan-amalan sunah tertentu. Dengan itu dapat  mendatangkan berkah dan ridha-Nya, sebagaimana yang diharapkan bagi setiap muslimin yang beriman kepada-Nya.

Catatan:
Ada juga yang menyatakan, bahwa hari tasyrik meliputi empat hari, hari Idul Adha dan 3 hari setelahnya. Jadi dimulai tanggal 10 berturut-turut sampai tanggal 13 Dzulhijjah.


Abu Ubaid mengatakan:

Ada dua pendapat ulama tentang alasan penamaan hari-hari tersebut dengan hari tasyrik: Pertama, dinamakan hari tasyrik karena kaum muslimin pada hari itu menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Kedua, karena kegiatan berqurban, tidak dilakukan, kecuali setelah terbit matahari. (Lisanul Arab, 10:173).


Keutamaan Hari Tasyrik

Allah berfirman,

“Ingatlah Allah di hari-hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah 2:203).

Yang dimaksud dengan “hari-hari yang terbilang” adalah tiga hari setelah ‘Idul Adha, yaitu hari tasyrik. Ini merupakan pendapat Ibnu Umar dan mayoritas ulama.

Sementara Ibnu Abbas dan Atha berpendapat bahwa “hari-hari yang terbilang” jumlahnya empat hari; Idul Adha dan 3 hari setelahnya. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 314).

Allah Ta’ala mengistimewakan hari tasyrik, dengan Allah jadikan hari ini sebagai waktu istimewa untuk berdzikir. Sehingga Allah perintahkan kaum muslimin untuk memperbanyak dzikir di hari ini.

Dalam hadits dari Abdullah bin Qurth radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari qurban (Idul Adha) kemudian hari al-qarr.” (HR. Abu Daud 1765, Ibnu Khuzaimah 2866, dan dishahihkan al-Albani. Al-A’dzami mengatakan dalam Ta’liq Shahih Ibn Khuzaimah: Sanadnya Sahih).

Yang dimaksud hari ‘al-qarr’ adalah tanggal 11 Dzulhijjah. Ini berdasarkan keterangan Ibnu Khuzaimah, bahwa Abu Bakar mengarakan:

“Hari ‘al-qarr’ adalah hari kedua setelah hari qurban”


Di hari Tasyrik, Dilarang Puasa

Di hari tasyrik, kita dilarang untuk berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebutnya sebagai hari makan dan minum, serta banyak berdzikir kepada Allah.

Dari Nubaisyah al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i).

Ibnu Rajab mengatakan:

“Kita dilarang berpuasa pada hari tasyrik karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban. Karena itu, tidak boleh puasa di Mina maupun di daerah lainnya, menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan, sesungguhnya larangan puasa di hari tasyrik, khusus bagi orang yang tinggal di Mina.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

Selanjutnya Ibnu Rajab menjelaskan rahasia di balik larangan puasa di hari tasyrik,

Ketika orang-orang yang bertamu ke Baitullah telah mengalami keletihan karena perjalanan berat yang mereka lalui, di samping kelelahan setelah ihram dan melaksanakan manasik haji dan umrah, Allah mensyariatkan kepada mereka untuk beristirahat dengan tinggal di Mina pada hari qurban dan 3 hari setelahnya. Allah perintahkan mereka untuk makan daging sembelihan mereka. Di saat itulah, mereka mendapatkan jamuan dari Allah, karena kasih sayang Allah kepada mereka.

Sementara itu, kaum muslimin di belahan negeri yang lain (yang tidak melakukan ibadah haji), turut menyemarakkan ibadah seperti yang dilakukan jamaah haji. Kaum muslimin memperbanyak amalan ibadah selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Mereka juga disyariatkan untuk ● memperbanyak dzikir, ● bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan ● bersama-sama berusaha menggapai ampunan Allah, dengan menyembelih hewan qurban. Setelah itu, mereka bersama-sama ● merayakan Idul Adha dan ● hari tasyrik. Setelah mereka lelah dengan memperbanyak ibadah, selanjutnya mereka beristirahat, menikmati hidangan daging qurban di hari tasyrik.

Allah syariatkan kaum muslimin untuk menjadikan hari ini sebagai hari makan-makan dan minum, agar mereka bisa membantu mereka untuk semakin giat dalam berdzikir mengingat Allah dan melakukan ketaatan kepada-Nya. Dan itu merupakan bentuk syukur nikmat yang paling sempurna. Dimana, nikmat yang kita terima, menjadi sarana untuk membantu agar semakin giat melakukan ibadah.



AMALAN AMALAN DI HARI TASYRIK


Mengingat keistimewaan hari tasyrik, sebagai orang yang beriman, hendaknya kita maksimalkan upaya untuk mendapatkan limpahan rahmat dan pahala dari Allah di hari itu. Berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Memperbanyak amal sholeh dan berbagai bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, ada beberapa amal yang disyariatkan untuk dilakukan di hari tasyrik:


PERTAMA: ANJURAN MEMPERBANYAK DHIKIR

Allah berfirman,

“Ingatlah Allah di hari-hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah 2:203). Yaitu di hari tasyrik.

Dari Nubaisyah al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i).

Menyemarakkan dzikir pada hari tasyrik, bisa dilakukan dalam beberapa bentuk, diantaranya (Lathaiful Ma’arif, 504 – 505):

●Melakukan Takbiran setiap selesai shalat wajib. Ini sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Sebagaimana praktek Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dzuhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah dan al-Baihaqi dan sanadnya dishahihkan al-Albani)

●Demikian juga dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR. Ibn Abi Syaibah dan al-Baihaqi. Al-Albani mengatakan: “Shahih dari Ali”).

●Mengingat Allah dan berdzikir ketika menyembelih qurban. Karena penyembelihan qurban, bisa dilaksanakan sampai hari tasyrik berakhir. Dasarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Di setiap hari tasyrik, boleh menyembelih.” (HR. Ahmad, ibn Hibban, Ad-Daruquthni, dan yang lainnya).

●Mengingat Allah dengan membaca basmalah sebelum makan dan hamdalah setelah makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Sesungguhnya Allah ridha terhadap hamba yang makan sesuap makanan kemudian memuji Allah, atau minum seteguk air dan memuji Allah karenanya.” (HR. Muslim 2734)

●Mengingat Allah dengan melantunkan takbir ketika melempar jumrah di hari tasyrik. Yang hanya dilakukan jamaah haji.


●Mengingat Allah dengan memperbanyak takbiran secara mutlak, di manapun dan kapanpun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau melakukan takbiran di kemahnya di Mina, kemudian diikuti oleh banyak orang, sehingga Mina bergetar karena gema takbir. (HR. Bukhari sebelum hadits no.970)


KEDUA: MEMPERBANYAK DOA KEPADA ALLAH

Sebagian ulama menganjurkan untuk memperbanyak berdoa di hari ini. Ikrimah (murid Ibn Abbas) mengatakan:

●Doa berikut dianjurkan untuk dibaca pada hari tasyrik:

RABBANĀ  ĀTINĀ  FID-DUN-YĀ HASANAH WA FIL Ā-KHIRATI HASANAH, WA QINĀ ADZĀBAN-NĀR. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 505).

Doa ini kita kenal dengan doa sapu jagad. Dan memang demikian, doa ini dianggap sebagai doa yang isinya mengumpulkan semua bentuk kebaikan dan menolak semua bentuk keburukan. Karena itulah, doa ini menjadi pilihan yang sangat sering dilantunkan oleh manusia terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas bin Malik mengatakan:

Doa yang paling banyak dilantunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah RABBANĀ ĀTINĀ  FID-DUN-YĀ HASANAHdst. (HR. Bukhari 6389 dan Muslim 2690).

Disamping itu, doa merupakan bentuk mengingat Allah yang sangat agung. Berisi pujian dan harapan manusia kepada Tuhannya. Sehingga, hari ini menjadi hari yang istimewa untuk memperbanyak doa. Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah al-Qurasyi, bahwa beliau mendengar Abu Musa al-Asy’ari berceramah dalam khutbahnya ketika Idul Adha:

Setelah hari raya qurban ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya sebagai al-Ayyam al-Ma’dudat (hari-hari yang terbilang), doa pada hari-hari ini, tidak akan ditolak. Karena itu, perbesarlah harapan kalian. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 506).

Demikian, semoga Allah memudahkan kita untuk senantiasa istiqamah dalam menggapai ampunan-Nya. Semoga uraian ini bermanfaat hendaknya bagi mereka yang membacanya dengan penuh daya simak. Dengan itu Insya Allah dapat mengantarkannya kepada amalan sholihan yang diridhoinya ini bagi setiap peribadi muslim yang beriman dan melakukan kebajikan. Billahi Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Sumber:
https://konsultasisyariah.com/14538-amalan-di-hari-tasyrik.html [Ustadz Ammi Nur Baits]. □□□
Share:

Tuesday, September 6, 2016

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit






S


ebagai salah satu ilmu pengetahuan tertua dalam peradaban manusia, astronomi kerap dijuluki sebagai 'ratu sains'. Astronomi memang menempati posisi yang terbilang istimewa dalam kehidupan manusia. Sejak dulu, manusia telah sebegitu terkagum-kagum ketika memandang kerlip bintang dan pesona benda-benda langit yang begitu luar biasa. Awalnya, manusia menganggap fenomena langit sebagai sesuatu yang magis.


 
PENDAHULUAN


Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia pun memanfaatkan keteraturan benda-benda yang mereka amati di angkasa untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti penanggalan. Dengan mengamati langit, manusia pun bisa menentukan waktu untuk pesta, upacara keagamaan, waktu untuk mulai menabur benih dan panen.

Jejak astronomi tertua ditemukan dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia (3500-3000 SM). Bangsa Sumeria hanya menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi. Pembagian lingkaran menjadi 360 derajat berasal dari bangsa Sumeria. Orang Sumeria juga sudah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka menggambar pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.

Astronomi juga sudah dikenal masyarakat India kuno. Sekitar tahun 500 SM, Aryabhata melahirkan sistem matematika yang menempatkan bumi berputar pada porosnya. Aryabhata membuat perkiraan mengenai lingkaran dan diameter bumi. Brahmagupta (598-668) juga menulis teks astronomi yang berjudul Brahmasphutasiddhanta pada 628. Dialah astronom pendahulu yang menggunakan aljabar untuk memecahkan masalah-masalah astronomi.

Masyarakat Cina kuno 4000 SM juga sudah mengenal astronomi. Awalnya, astronomi di Cina digunakan untuk mengatur waktu. Orang Cina menggunakan kalender lunisolar. Namun, karena perputaran matahari dan bulan berbeda, para ahli astronomi Cina sering menyiapkan kalender baru dan membuat observasi.

Bangsa Yunani kuno juga amat tertarik dengan astronomi. Adalah Thales yang mengawalinya pada abad ke-6 SM. Menurut dia, bumi itu berbentuk datar. Phytagoras sempat membantah pendapat itu dengan menyatakan bumi itu bulat. Dua abad berselang, Aristoteles melahirkan terobosan penting yang menegaskan menyatakan bahwa bumi itu bulat bundar.

Aristachus pada abad ke-3 SM sempat melontarkan pendapat bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Teori itu tak mendapat tempat pada masa itu. Era astronomi klasik ditutup Hipparchus pada abad ke-1 SM yang melontarkan teori geosentris. Bumi itu diam dan dikelilingi oleh matahari, bulan, dan planet-planet yang lain. Sistem geosentris itu disempurnakan Ptolomeus pada abad ke-2.




ASTRONOMI ISLAM






S
etelah runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan, maka kiblat kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam di abad ke 8 sampai abad 15. Karya-karya astronomi Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol dan Asia Tengah.

Salah satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Algol, Altair, dan Betelgeus.*

Selain itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam ‘ratu sains’ itu yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapai 10 ribu manuskrip.

Ahli sejarah sains, Donald Routledge Hill, membagi sejarah astronomi Islam ke dalam empat periode sebagai berikut:

Periode Pertama: Periode ini berada antara tahun 700-825. Yaitu masa asimilasi dan penyatuan awal dari astronomi Yunani, India dan Sassanid.

Periode Kedua: Periode ini berada antara tahun 825-1025. Yaitu  masa investigasi besar-besaran dan penerimaan serta modifikasi sistem Ptolomeus.

Periode Ketiga: Periode ini berada antara tahun 1025-1450. Yaitu masa kemajuan sistem astronomi Islam.

Periode Keempat: Periode ini berada antara tahun 1450-1900, Yaitu masa stagnasi, hanya sedikit kontribusi yang dihasilkan.


Geliat perkembangan astronomi di dunia Islam diawali dengan penerjemahan secara besar-besaran karya-karya astronomi dari Yunani serta India ke dalam bahasa Arab. Salah satu yang diterjemahkan adalah karya Ptolomeus yang termasyhur, Almagest. Berpusat di Baghdad, budaya keilmuan di dunia Islam pun tumbuh pesat.

Sejumlah, ahli astronomi Islam pun bermunculan, Nasiruddin At-Tusi berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Selain itu, Al-Khawarizmi seorang ahli matematika dan astronomi, banyak membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.

Ahli astronomi lainnya, seperti Al-Batani banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Astronom Islam juga merevisi orbit bulan dan planet-planet. Al-Batani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.

Buku fenomenal karya Al-Batani pun diterjemahkan Barat. Buku "De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum" itu kini masih disimpan di Vatikan. Tokoh-tokoh astronomi Eropa seperti Copernicus, Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses tanpa jasa Al-Batani. Copernicus dalam bukunya "De Revoltionibus Orbium Clestium" mengaku berutang budi pada Al-Batani.

Dunia astronomi juga tak bisa lepas dari bidang optik. Melalui bukunya, Mizan Al-Hikmah, Al-Haitham mengupas kerapatan atmosfer. Ia mengembangkan teori mengenai hubungan antara kerapatan atmosfer dan ketinggiannya. Hasil penelitiannya menyimpulkan ketinggian atmosfer akan homogen di ketinggian lima puluh mil.

Teori yang dikemukakan Ibn Al-Syatir tentang bumi mengelilingi matahari telah menginspirasi Copernicus. Akibatnya, Copernicus dimusuhi gereja dan dianggap pengikut setan. Demikian juga Galileo, yang merupakan pengikut Copernicus, secara resmi dikucilkan oleh Gereja Katolik dan dipaksa untuk bertobat, namun dia menolak.*

Menurut para ahli sejarah, kedekatan dunia Islam dengan dunia lama yang dipelajarinya menjadi faktor berkembangnya astronomi Islam. Selain itu, begitu banyak teks karya-karya ahli astronomi yang menggunakan bahasa Yunani Kuno, dan Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama abad ke-9. Proses ini dipertinggi dengan toleransi terhadap sarjana dari agama lain. Sayang, dominasi itu tak bisa dipertahankan umat Islam.


Jejak Abadi di Kawah Bulan

Ilmuwan Islam begitu banyak memberi kontribusi bagi pengembangan dunia astronomi. Buah pikir dan hasil kerja keras para sarjana Islam di era tamadun itu diadopsi serta dikagumi para saintis Barat.

Inilah beberapa ahli astronomi Islam dan kontribusi yang telah disumbangkannya bagi pengembangan ‘ratu sains’ itu:


Al-Batani (858-929)

Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah Al-Zij Al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad, selepas Al-Batani meninggal dunia.
Ia berhasil menentukan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Al-Batani juga mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Ia memiliki peran yang utama dalam merenovasi astronomi menjadi modern (update) yang berkembang kemudian di Eropa.


Al-Sufi (903-986)

Orang Barat menyebutnya Azophi. Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman Al-Sufi. Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari.

Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis mengenai astrolabe(perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.


Al-Biruni (973-1050)





Ahli astronomi yang satu ini, turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.


Ibnu Yunus (950-1009)

Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan pada sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang dinamakan Ibnu Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M untuk memerhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.

Ibnu Yunus juga penemu Bandul (ayunan) yang berguna untuk mengetahui detik-detik waktu ketika sedang meneropong benda angkasa. Fungsi bandul ciptaannya hampir serupa dengan bandul pada jam dinding. Karya Ibnu Yunus ini telah dikenal 6 abad sebelum Galileo Galilei menemukan pendulum (1564-1642). Ia juga menemukan Rubu Berlubang (Gunners Quadrant), sebuah alat untuk mengukur gerakan bintang.


Al-Farghani


Nama lengkapnya Abul Abbas Ahmad ibnu Muhammad ibnu Kathir Al-Farghani. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Al-Farghani merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma'mun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi.


Al-Zarqali (1029-1087)

Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada perangko di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Ia telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.


Jabir Ibn Aflah (1100-1150)

Sejatinya Jabir Ibnu Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematika Islam lahir di Seville, Al-Andalus (Spanyol Islam). Namun, Jabir pun ikut memberi warna dan kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu karyanya yang populer adalah Kitab Al-Hay'ah.*

Sejatinya observatorium pertama di dunia dibangun astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai.

Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih modern pada zamannya. Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasiruddin At-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul.
Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, Qulbuddin Al-Shirazy, Mu'ayyiddin Al-Urdy, Muiyiddin Al-Maghriby, dan banyak lagi.


Kegemilangan Observatorium Ulugh Beg

Ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas, dalam tulisannya berjudul "The Legacy of Ulugh Beg" mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi. "Ketertarikan dalam astronomi bermula, ketika dia mengunjungi Observatorium Maragha yang dibangun ahli astronomi Muslim terkemuka, Nasiruddin At-Tusi,'' tulis Krisciunas.

Geliat pengkajian astronomi di Samarkand mulai berlangsung pada tahun 1201. Namun, aktivitas astronomi yang sesungguhnya di wilayah kekuasaan Ulugh Beg mulai terjadi pada 1408 M. Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulugh Beg mulai membangun observatorim pada 1420.

Menurut Krisciunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat itu, Al-Kashi, aktivitas pengkajian astronomi di Observatorium Ulugh Beg didukung oleh 70 sarjana. Para ahli astronomi itu mendapatkan perlakuan istimewa dengan fasilitas dan gaji yang luar biasa besarnya. Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun.

Sayangnya, setelah Ulugh Beg meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath Al-Din Jamshid Al-Kushy, Qadizada Al-Rumy dan Ali Ibnu Muhammad Al-Qashji.

Observatorium yang terakhir milik Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) yang didirikan Taqiuddin Muhammad Ibnu Ma'ruf Al-Rashyd Al-Dimashqiy.

Demikianlah uraian riwayat keahlian dan kerja keras ilmuan Astronomi Muslim  yang tersentuh jiwa mereka yang boleh jadi diambil dari dorongan dan termotivasi dari ayat sebagai berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantuan malam dan siang terdapat tanda-tanda (clue, isyarat, fenomena alam semesta dari Allah Maha Pencipta) bagi Ulil Albab (bagi orang yang berakal, ahli astronomi, ahli ilmu falaq). [QS Āli ‘Imrān 3:190]

Dengan itu mempelajarinya dengan sungguh dunia Astronomi ini sehingga mempunyai sumbangan sangat berharga kepada perkembangan astronomi di dunia moderen saat ini. Dunia ilmu pengetahuan - sciencedengan para ahlinya sebagai contoh yang baik untuk menyatukan dunia yang telah terkotak-kotak saat ini. Billahit Taufiq wal Hidayah. □ AFM


Sumber dan referensi:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/13/lzc75l-astronomi-islam-menguak-rahasia-langit-1
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/13/lzc7gk-astronomi-islam-menguak-rahasia-langit-2
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/13/lzc8lh-astronomi-islam-menguak-rahasia-langit-3
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/13/lzc952-astronomi-islam-menguak-rahasia-langit-4
http://ogetto.mywapblog.com/ibnu-yunus-ilmuwan-astronomi-penemu-pend.xhtml
https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Yunus
dan sumber-sumber lainnya. □□□
Share: